
JurnalPost.com – Televisi merupakan media massa yang telah ada sejak tahun 1962 di Indoneisa. Televisi juga telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari – hari sebagai sumber informasi, hiburan, dan pendidikan baigi masyarakat Indonesia. Program yang ditayangkan oleh televisi biasanya selain menghibur sudah pasti harus ada unsur mendidik yang baik bagi penonton. Indonesia sendiri sudah memiliki sebuah lembaga hukum khusus bernama KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang didirikan berdasarkan undang – undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran. Tugas utama KPI yaitu mengawasi pelaksanaan penyiaran yang ditayagkan di televisi agar sesuai dengan norma masyarakat yag berlau, kaidah, dan etika penyiaran. Hal ini dilakukan agar penyiaran program – program televisi yang diberikan kepada masyarakat menggunakan informasi yang layak, benar, dan sesuai dengan hak asasi manusia.
Namun di era teknologi yang sudah berkembang sangat pesat seperti sekarang, tayangan media massa Indonesia mengalami tingkat penurunan yang begitu signifikan. Menurut data KPI, ada sekitar delapan persen penurunan penonton televisi per tahunnya. Bukan hanya karena munculnya platform lain yang lebih mudah diakses, tapi juga banyak masyarakat terutama para remaja, sudah enggan menonton televisi karena menurut mereka kualitasnya menurun drastis. Ada sekitar 50% responden masyarakat menganggap kualitas tayangan televisi Indonesia menurun jika dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu, oleh karena itu banyak masyarakat yang enggan untuk menonton televisi lagi. Selain karena tayangan yang sudah tidak menarik da terlalu banyak settingan. Persaingan ketat antar paltform saat ini juga menjadi salah satu faktor penurunan penonton televisi di Indonesia. Iman Brotoseno mengatakan “Bisa kita prediksikan, nanti sekitar sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan, kemungkinan besar masyarakat Indoneisa tidak akan ada lagi yang menonton melalui televisi”.
Koordinator Litbang KPI Pusat, Andi Andrianto juga mengatakan “ Saat ini masih ada tiga tayangan yang belum berkualitas yaitu variety show, infotainment, dan sinetron. Untuk program lainnya sudah mengikuti peraturan” Ucap Andi dalam acara rilis hasil riset indeks tahunan kualitas program siaran televisi. Program televisi di era saat ini kebanyakan lebih mementingkan trend yang sedang viral, menayangkan sinetron sampai ribuan episode dan gosip – gosip sekitar artis Indonesia yang menurut masyarakat kurang berbobot dan tidak ada nilai mendidiknya untuk ditayangkan disebuah acara televisi. Sudah jarang sekali ada program yang bermanfaat dan berkualitas di televisi Indonesia saat ini.
Masyarakat sangat menyayangkan program – program yang mendidik banyak dihapus ataupun menghilang dari televisi saat ini. Program yang mendidik banyak tergantikan oleh variety show ataupun infotainment yang malah lebih memilih untuk mengundang bintang tamu hanya karena viral dan tidak jarang juga diundang karena berita negatif yang hanya bertujuan untuk menaikkan tingkat rating pentonton pada tayangan tersebut. “Yang kasus pacaran sama anak dibawah umur aja sampe diundang ke acara tv, dikasih hadiah terus dido’ain langgeng. Rusak banget tayangan tv Indo sekarang” Ungkap sebuah akun tiktok saat melihat sekilas video tayangan di salah satu variety show. “Tuh si kakak adek yang bawa medali emas 80 lebih dari kejuaraan internasional dan nasional kaga ada yang undang sama sekali ke program. Sekarang mah lu mau masuk tv gampang, tinggal pacaran sama anak dibawah umur pasti diundang” Ungkap komentar lain.
Selain bintang tamu yang diangap sangat tidak sesuai untuk ditayangkan, ada juga beberapa artis pembawa acara yang menjadi bahan perdebatan dikalangan masyarakat dikarenakan penampilannya yang dianggap tidak sopan dan tidak sesuai dengan norma masyarakat yang sudah berlaku di Indonesia. Karena banyaknya keluhan dari masyarakat,KPI sendiri sudah menegur langsung program yang melibatkan sang artis tersebut lewat media sosial Instagram resmi milik KPI. Namun dari pihak program acara tidak ada tanggapan lebih lanjut dari teguran terbuka KPI tersebut. Malah sang artis membela diri dan mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak bepandangan luas soal fashion dan terkesan kolot. Hal ini membuat masyarakat mengecam tindakan sang artis yang dianggap tidak menghargai masyarakat. “Permasalahannya sudah bukan di masyarakat yang kolot tentang fashion.Tapi pakaian yang dipakai selama acara itu sudah termasuk tidak mendidik dan sudah melenceng banget dari norma masyarakat. Pakaian seperti itu tidak laya untuk ditayangkan di televisi Indonesia. Banyak anak kecil yang nonton program ini loh.” balas seorang netijen atas ungkapan sang artis.
Secara keseluruan, menurunnya kualitas tayangan televisi sebagai media massa favorit di Indonesia adalah masalah yang kompleks dan tidak bisa hanya diselesaikan secara sepihak, karena bukan hanya melibatkan pihak KPI sebagai pematau tayangan, tapi pastinya juga melibatkan banyak sekali pihak lain yang terkait dengan dunia entertainment. Antara lain seperti awak media, pemerintah dan juga masyarakat agar tercipta tayangan acara yang baik, infromatif, benar, dan berkualitas. Akan tetapi, lebih baik lagi jika kedepannya KPI sebagai pengawas tayangan siaran televisi Indonesia bersikap lebih tegas lagi terkait masalah aturan penayangan televisi di Indonesia. Jika televisi Indonesia kembali menayangkan program acara yang membahas prestasi anak bangsa ataupun mengundang anak bangsa hebat dan mengadakan acara hiburan seperti “Indonesia mencari bakat” kemungkinan penonton televisi akan bertambah lagi dan juga kualitas penayangan akan menjadi lebih baik lagi. Hal ini tentunya jauh lebih baik dari pada mengundang bintang tamu karena viral yang tidak jarang juga diundang karena berita negatif yang kemungkinan bisa mempengaruhi kognitif anak bangsa untuk kedepannya.
Daftar referensi
republika.id.com
antarakalsel.com
Tim penyusun:
Rien Putri Permatahati 2310811013
Robbi Maulana Sulton 2310811017
Elfreda Angie Corinna 2310811038



