JurnalPost.com – Diare merupakan salah satu penyakit yang penularannya berbasis lingkungan dan sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas, pada tahun 2013 Prevanlensi Nasional Diare mencapai angka 7% dan merupakan penyebab kemaitan paska kelahiran yang tinggi pada anak (Ridha, et al., 2016).
DI Kota Pontianak masih banyak kasus penyakit diare yang menyerang masyarakat sekitar. Menurut data Dinas Kesehatan Kota Pontianak, kasus diare sepanjang tahun 2020 hingga 2022 terus meningkat hingga mencapai angka 7931 kasus pada tahun 2022. Peningkatan jumlah kasus diare ini disebabkan oleh pola hidup masyarakat yang masih belum bersih serta lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat masih sangat kotor dan tidak dijaga sanitasinya. Kurangnya sanitasi disebabkan oleh banyak masyarakat yang masih membuang sampah dan buang air besar sembarangan, serta kurangnya fasilitas yang dapat menigkatkan sanitasi lingkungan. Hal ini diperparah dengan masih banyak masyarakat yang menggunakan sumber air dari Sungai Kapuas yang dimana sungai ini juga sudah lama tercemar, sehingga mengurangi sanitasi masyarakat itu sendiri. Tidak hanya itu, dikarenakan lingkungan yang kotor juga menyebabkan timbulnya berbagai hewan yang dapat menjadi vektor penyebaran penyakit diare, salah satunya adalah lalat.
Menurut Ridha, et al., (2016), pada tahun 2014 sudah ada program yang dilakukan untuk menekan angka kasus diare di Pontianak, program tersebut adalah Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Program STBM). Program ini bertujuan untuk meningkatkan higienitas dan kualitas kehidpan masyarakat Kota Pontianak diantaranya melalui kegiatan Stop Buang Air Besar Sembarangan dan penyediaan sanitasi dasar rumah tangga. Namun setelah dijalankannya program ini, angka kasus diare masih cukup tinggi setiap tahunnya. Hal ini dimungkinkan terjadi karena mobilisasi dan pemberdayakan program ini yang masih belum merata ke seluruh Kota Pontianak. Selain itu, menurut Robiyanto, et al., (2018), salah satu penyebab masih tingginya angka kasus diare di Kota Pontianak adalah masih kurangnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai swamedikasi terhadap penyakit diare sebagai pertolongnan pertama.
Selama ini, program yang dilaksanakan oleh pemerintah hanyalah mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya sanitasi lingkungan dan diri sendiri, padahal permasalahan seperti sampah di Kota Pontianak masih menjadi suatu permasalaham besar. Menurut Tribun Pontianak, pada tahun 2022 produksi sampah di Kota Pontianak mencapai angka sekitar 401 ton, dengan melihat hal ini tidak mengherankan jika hewan pembawa penyakit (vektor) dari berbagai penyakit seperti diare masih dapat berkembang biak dengan baik dan meningkatkan populasinya. Kemungkinan besar hal ini yang dapat menjadi salah satu faktor masih tingginya angka kasus penyakti diare di Kota Pontianak.
Melihat permasalahan tersebut maka dibutuh suatu cara atau program untuk dapat mengontrol populasi vektor penyebab diare ini. Terdapat 4 metode yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi vektor khususnya lalat, yaitu:
1. Pengendalian non-kimiawi
Pengendalian ini dikenal sebagai metode yang ramah lingkungan. Jika diterapkan dengan tepat, metode ini akan lebih efektif dalam mencapai sasaran serta memiliki berbagai dampak positif, seperti penurunan populasi lalat dan peningkatan kualitas lingkungan. Beberapa metode tersebut meliputi penggunaan alat pengusir, pemasangan kasa anti-serangga, penggunaan tirai udara, jebakan lalat dengan kertas perekat, serta perangkap lampu atau light trap yang dapat membunuh alat dewasa dengan menggunakan aliran listrik. Selain itu, penghilangan bau juga berperan penting dalam mengurangi keberadaan lalat.
2. Pengendalian kimiawi
Pengendalian ini sering kali dilakukan dengan penggunaan insektisida, termasuk insektisida dari golongan organofosfor, karbamat, dan berbagai jenis piretroid sintetik. Penggunaan insektisida dalam pengendalian lalat dapat mencakup pembunuhan larva dari lalat (larvasida), penolakan lalat dewasa (repelen), atau pembunuhan lalat dewasa melalui penyemprotan residual pada permukaan, penyemprotan ruangan, atau pemasangan umpan beracun.
3. Pengendalian Biologi
Pengendalian ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan sejenis semut kecil berwarna hitam (Phiedoloqelon affinis) untuk mengurangi populasi lalat rumah di tempat-tempat sampah. Selain itu, jamur entomopatogenik merupakan organisme biologis yang paling menjanjikan dan sedang diselidiki untuk penggunaan di perkotaan dalam melawan lalat dewasa. Metode ini memungkinkan penggunaan stasiun makanan atau infeksi, di mana lalat tertarik pada umpan dan kemudian terinfeksi oleh jamur tersebut.
4. Pengendalian Sanitasi
Pengendalian ini dapat dilakukan dengan perbaikan kebersihan dan sanitasi lingkugnan. Langkah-langkah pengendalian yang dapat dilakukan antara lain menghilangkan tempat perindukan lalat atau mengurangi sumber yang menarik lalat, seperti membersihkan kendang serta kotorn ternak atau burung dengan rutin, membuat saluran air limbah atau SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah) yang tertutup, menyediakan tempat sampah yang tertutup, dan selalu membersihkan tempat sampah (Irma et al., 2023)
Dengan begitu, untuk mencapai kota Pontianak terbebas dari penyakit diare, maka pemerintah tidak hanya menyediakan program mengenai sanitasi lingkungan dan masyarakat, namun juga harus menyediakan program untuk mengatasi hewan-hewan penular atau vektor seperti lalat. Terdapat banyak program yang sangat sederhana dan tidak perlu memerlukan biaya yang banyak sehingga seharusnya pemerintah dapat menerapkan program-program ini dengan menyeluruh dan baik. Tidak hanya itu, harus juga ada kesadaran dari masyarakat sendiri untuk menjaga dan meningkatkan sanitasi lingkungan serta jumlah populasi dapat menurun sehingga jumlah kasus diare dapat menurun hingga Pontianak dapat terbebas dari penyakit diare.
Sumber:
• Irma., Simangunsong, V., Apriyani., Astuti, A., Sukesi, T.W., Handayani, D., Yulyanti, D., Kurniawati, R.T., Fitriyah, S., Lenakoly, T.Y., Washliyah, S., Tomia, S. (2023). MANAJEMEN PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT TROPIS. Bandung: Media Sains Indonesia.
• Ridha, A., Saleh, I., & Bintari, B. (2016). Determinan kasus diare di kota pontianak. Jurnal Vokasi Kesehatan, 2(2), 94-100.
• Robiyanto, R., Rosmimi, M., & Untari, E. K. (2018). Analisis Pengaruh Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Tindakan Swamedikasi Diare Akut Di Kecamatan Pontianak Timur. Edukasi: Jurnal Pendidikan, 16(1), 135-145.
• https://pontianak.tribunnews.com/2023/12/19/produksi-sampah-di-kota-pontianak-capai-406-ton-perhari

Penulis: David Samuel Eldad (Fakultas Bioteknologi-Universitas Kristen Duta Wacana)
Sumber:
• Das, J. K., Hadi, Y. B., Salam, R. A., Hoda, M., Lassi, Z. S., & Bhutta, Z. A. (2018). Fly control to prevent diarrhoea in children. Cochrane Database of Systematic Reviews, (12).
• Ridha, A., Saleh, I., & Bintari, B. (2016). Determinan kasus diare di kota pontianak. Jurnal Vokasi Kesehatan, 2(2), 94-100.
• Robiyanto, R., Rosmimi, M., & Untari, E. K. (2018). Analisis Pengaruh Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Tindakan Swamedikasi Diare Akut Di Kecamatan Pontianak Timur. Edukasi: Jurnal Pendidikan, 16(1), 135-145.
• https://pontianak.tribunnews.com/2023/12/19/produksi-sampah-di-kota-pontianak-capai-406-ton-perhari



