
Oleh: Ervin Sandri
JurnalPost.com – Indonesia di tahun 2026 bukan lagi sekadar negeri khatulistiwa yang ramah. Ia kini menjadi saksi bisu betapa “demam” global telah mencapai titik didihnya. BMKG mencatat anomali suhu yang terus merangkak naik, sementara garis pantai di utara Jawa perlahan menyerah pada kenaikan permukaan laut. Di tengah kepungan krisis iklim ini, sebuah pertanyaan besar muncul: di mana posisi iman kita saat rumah besar bernama Bumi ini sedang terbakar?
Krisis Iklim: Ketika “Tangan” Melampaui Batas
Al-Qur’an telah memberikan peringatan dini dalam QS. Ar-Rum: 41, bahwa kerusakan di darat dan laut adalah buah dari “tangan” manusia sendiri. Dalam bahasa sains, “tangan” ini adalah emisi karbon berlebih dan deforestasi masif yang mengoyak lapisan atmosfer. Secara ekoteologis, fenomena ini disebut sebagai pelanggaran atas Mizan neraca keseimbangan presisi yang telah Tuhan tetapkan bagi alam semesta (QS. Ar-Rahman: 7-8).
Saat kita memacu industrialisasi tanpa kendali, kita sebenarnya sedang melakukan Israf (pemborosan) dalam skala planet. Kita tidak hanya merusak ekosistem, tapi kita sedang menghancurkan “Ayat Kauniyah” (tanda-tanda kebesaran Tuhan) yang seharusnya kita tadabburi.
Refleksi Buya Hamka: Sujud dan Pohon
Ulama besar kita, Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar pernah mengisyaratkan bahwa iman tidak boleh terpenjara di dalam masjid saja. Beliau menegaskan:
“Iman bukan hanya terpaku pada dahi yang bersujud, tetapi juga pada tangan yang menanam pohon dan menjaga sungai. Barangsiapa yang merusak alam, sesungguhnya ia sedang merusak ayat-ayat Tuhan yang terhampar.”
Pesan Hamka ini menjadi tamparan keras. Jika kita mengaku beriman namun tetap menjadi penyumbang sampah plastik terbesar atau pelaku pemborosan energi, maka ada yang retak dalam cara kita bertauhid. Sujud kita di atas sajadah menjadi hambar jika di luar masjid kita membiarkan sungai merintih karena polusi.
Analogi Kapal yang Bocor
Bayangkan bumi ini adalah sebuah kapal besar di tengah samudera. Manusia yang tinggal di bagian bawah kapal ingin mengambil air, lalu mereka melubangi lambung kapal agar tidak perlu repot naik ke atas. Mereka merasa itu adalah hak mereka. Namun, jika penghuni kapal lainnya diam saja, maka seluruh penumpang—baik yang saleh maupun yang zalim—akan tenggelam bersama.
Begitulah perubahan iklim. Ia tidak membedakan siapa yang berbuat, dampaknya menghantam semua. Maka, implementasi ekoteologi adalah upaya kolektif untuk “menambal” lubang tersebut melalui aksi nyata.
Sajadah Hijau: Solusi Masa Depan
Menghadapi kiamat iklim di Indonesia memerlukan transformasi spiritual yang konkret:
- Sedekah Karbon: Menjadikan aksi menanam pohon dan pelestarian hutan sebagai bentuk wakaf produktif untuk masa depan.
- Fikih Air: Mengelola air wudhu dengan teknologi daur ulang di setiap masjid sebagai manifestasi ketaatan pada larangan Tabzir (penyia-nyiaan).
- Eco-Dakwah: Menggeser narasi agama agar tidak hanya bicara tentang akhirat yang jauh, tapi juga tentang keselamatan bumi yang nyata di depan mata.
Penutup
Menjahit luka bumi bukan hanya tugas para aktivis lingkungan atau pakar klimatologi. Ini adalah panggilan suci bagi setiap muslim yang menyadari perannya sebagai Khalifah. Jika kita ingin dicintai oleh Sang Pencipta, maka mulailah dengan mencintai dan menjaga ciptaan-Nya. Karena pada akhirnya, kesalehan sejati adalah saat dahi kita bersujud di bumi yang hijau, sejuk, dan lestari.



