Oleh: Zuhdi Alif Mubarok
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.Α.
JurnalPost.com – Mengapa ada destinasi wisata dengan pemandangan yang biasa saja, namun selalu ramai dan viral di media sosial? Di sisi lain, tidak sedikit tempat dengan panorama alam yang luar biasa indah justru sepi dan terasing dari radar pelancong. Realitas ini menjadi bukti nyata bahwa di era modern, daya tarik visual sebuah tempat tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kesuksesan. Kunci utamanya kini bergeser pada bagaimana narasi dan informasi tempat tersebut dikemas serta disebarluaskan.
Pergeseran perilaku ini sangat terlihat pada Generasi Z (Gen-Z). Sebagai generasi digital native, mereka memiliki cara unik dalam menentukan tujuan berlibur. Brosur fisik atau baliho konvensional sudah kehilangan tajinya. Sebelum mengemas koper, Gen-Z akan melakukan riset mendalam melalui platform visual seperti TikTok, Instagram Reels, hingga ulasan di Google Maps. Mereka mencari visual yang estetik, keaslian tempat (authenticity), serta kenyamanan fasilitas berdasarkan pengalaman orang lain. Media sosial telah bertransformasi menjadi kompas utama yang mengarahkan keputusan perjalanan mereka.
Di sinilah urgensi komunikasi pariwisata berbasis digital memegang kendali. Komunikasi pariwisata bukan lagi sekadar aktivitas promosi satu arah, melainkan seni membangun reputasi, menyampaikan keunikan, dan menciptakan keterikatan emosional dengan calon pengunjung sebelum mereka menginjakkan kaki di lokasi. Strategi komunikasi yang matang mampu mengangkat destinasi yang awalnya tidak terdengar menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
Salah satu destinasi yang menyimpan potensi besar namun masih membutuhkan sentuhan strategi ini adalah Pantai Tanjung Penyu. Secara geografis dan visual, pantai ini menawarkan pesona yang luar biasa—mulai dari hamparan pasirnya, ketenangan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk city life, hingga lanskap matahari terbenam yang memukau. Bagi para pemburu konten digital, tempat ini adalah ladang visual yang sangat potensial.
Namun, keindahan tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat popularitasnya. Di tengah masifnya rekomendasi wisata pantai di media sosial, nama Pantai Tanjung Penyu masih tergolong jarang muncul di algoritma lini masa. Hambatan utamanya bukan pada kualitas destinasinya, melainkan pada minimnya paparan informasi dan digital branding yang tersebar. Kasus ini mempertegas bahwa seindah apa pun sebuah tempat, ia akan tetap tersembunyi tanpa adanya jembatan komunikasi yang efektif kepada publik.
Melibatkan Gen-Z dalam ekosistem komunikasi pariwisata adalah langkah yang sangat strategis. Gen-Z bukan hanya berperan sebagai konsumen atau penikmat wisata, melainkan juga sebagai micro-influencer yang organik. Ketika mereka merasa terkesan dengan sebuah tempat, mereka akan dengan sukarela memproduksi konten—baik berupa foto estetik maupun video sinematik—dan membagikannya ke jejaring mereka. Pola promosi word-of-mouth versi digital ini terbukti jauh lebih efektif dan dipercaya oleh sesama pelaku perjalanan karena dinilai lebih jujur dan apa adanya.
Untuk memaksimalkan potensi Pantai Tanjung Penyu, pengelola perlu mengadopsi strategi komunikasi digital yang lebih aktif dan interaktif. Pengelolaan akun media sosial resmi harus diperkuat dengan menyajikan informasi yang transparan dan lengkap, mulai dari rute akses jalan, detail biaya retribusi, ketersediaan fasilitas penunjang, hingga spot-spot foto terbaik. Narasi yang informatif dan dikemas secara kreatif akan meruntuhkan keraguan calon wisatawan untuk berkunjung.
Kendati demikian, komunikasi digital yang kuat harus diimbangi dengan realitas di lapangan. Pengalaman komunikasi langsung (komunikasi interpersonal) melalui keramahan warga lokal, kebersihan area, serta keamanan destinasi menjadi aspek krusial. Kepuasan yang dirasakan wisatawan saat berkunjung akan menghasilkan ulasan positif (user-generated content), yang menjadi bahan bakar utama bagi kelangsungan promosi digital destinasi tersebut secara jangka panjang.
Selain itu, komunikasi pariwisata di era sekarang juga mengemban misi edukasi. Melalui pesan-pesan komunikasi yang persuasif—baik lewat papan imbauan yang kreatif di lokasi maupun kampanye di media sosial—pengelola harus mampu mengajak Gen-Z untuk mempraktikkan sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan). Menjaga keasrian dan kebersihan pantai adalah tanggung jawab kolektif demi menjaga daya tarik tempat tersebut agar tidak rusak oleh popularitasnya sendiri.
Secara keseluruhan, masa depan industri pariwisata Indonesia di era digital sangat bergantung pada bagaimana kita mengomunikasikan potensi yang ada. Pantai Tanjung Penyu adalah satu dari sekian banyak permata tersembunyi yang membutuhkan strategi komunikasi yang tepat agar dapat dikenal luas. Dengan memahami karakteristik Gen-Z dan memanfaatkan media digital secara cerdas, kreatif, dan konsisten, kita tidak hanya mengenalkan sebuah tempat wisata, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi kreatif daerah secara berkelanjutan.



