• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Mengatasi Tabu: Mengapa Kita Perlu Membicarakan Pendidikan Seksual

Editor Redaksi
17 Juni 2023
in Kolom Opini

Oleh: Falillah Risti Nur Maghfiroh

JurnalPost.com – Pendidikan seks adalah topik penting yang perlu dibicarakan. Namun, Pembicaraan terbuka tentang seks masih dianggap sebagai hal yang tabu di masyarakat Indonesia. sangat penting bagi kita untuk mengatasi tabu ini dan membicarakan pendidikan seksual secara terbuka dan jujur. Di Indonesia sendiri masih banyak satuan pendidikan beserta guru menganggap pendidikan seksualitas tidak layak diperbincangkan. Dilansir dari kompas.id (21/04/2021) diantara mereka masih ada ketakutan bahwa mengajarkan pendidikan seksualitas berarti mempromosikan “seks bebas”. Norma sosial yang kuat dan adanya stigma terkait dengan seks menyebabkan pengetahuan yang terbatas, kesalahpahaman, dan ketidakmampuan untuk mengajarkan informasi yang akurat dan penting tentang seks. Hal ini juga menyebabkan banyak pihak enggan untuk menyertakan pendidikan seks dalam kurikulum karena takut kontroversi atau reaksi negatif dari masyarakat.

Dilansir dari Okezone News (10/01/2023), ada banyak kasus dispensasi siswa nikah di Pengadilan Agama Ponorogo. Tahun 2021 sebanyak 266 pemohon, tahun 2022 191 pemohon, bahkan minggu pertama 2023 sebanyak 7 orang memohon dispensasi nikah. Menurut data, siswa yang mengajukan dispensasi adalah siswa kelas 2 SMP dan 2 SMA. Dalam laman berita Detikcom (17/01/2023), Diketahui dari total 176 siswa yang diizinkan menikah dini di ponorogo, sebanyak 125 siswa dilatarbelakangi karena hamil. Sedangkan 51 anak memilih nikah dini. Kasus di atas merujuk kepada Pendidikan seks yang kurang diberikan kepada siswa, sehingga mereka melakukan perbuatan asusila. Mereka pun tidak mengetahui dampak dan konsekuensi dari perbuatan tersebut. Dengan demikian, siswa yang terlanjur hamil biasanya dinikahkan oleh orang tua sebagai solusi sebagai penyelesaian masalah. Siswa menikah dalam kondisi mental dan fisik yang tidak siap sehingga memunculkan masalah-masalah lain setelah pernikahan dini terjadi. Fenomena ini menggambarkan adanya permasalahan yang kompleks terkait pernikahan dini di Indonesia.

Pernikahan usia dini merupakan isu yang serius dan melanggar hak-hak anak. Anak-anak yang menikah pada usia yang terlalu muda berisiko menghadapi berbagai konsekuensi negatif, termasuk risiko kesehatan, putus sekolah, kesulitan ekonomi, dan terbatasnya kesempatan untuk berkembang secara penuh. Kasus dispensasi nikah siswa di Ponorogo menunjukkan adanya kebutuhan untuk meningkatkan pendidikan seksual komprehensif dan akses terhadap informasi yang akurat tentang perkawinan usia anak. Pendidikan seksual yang tepat, meliputi pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, kontrasepsi, hubungan sehat, dan pentingnya pendidikan formal, dapat membantu siswa memahami pentingnya menunda pernikahan hingga mereka siap secara fisik, emosional, dan sosial.

Kasus-kasus dispensasi nikah siswa di Pengadilan Agama Ponorogo harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah konkret guna mengatasi masalah ini. Perlunya kerjasama antara berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melindungi hak-hak anak dan mencegah pernikahan usia anak tidak bisa diabaikan.

Pendidikan seks dapat memiliki banyak manfaat bagi anak. Ini dapat membantu mereka membuat keputusan berdasarkan informasi tentang kesehatan dan hubungan seksual mereka. Selain itu dapat membentuk sikap yang sehat terhadap seksualitas dan mengurangi stigma dan rasa malu. Pendidikan seks juga dapat membantu mencegah kekerasan dan pelecehan seksual dengan mengajari anak tentang persetujuan dan batasan.

Terlepas dari manfaat pendidikan seks, ada banyak tantangan untuk mengajarkannya. Beberapa orang percaya bahwa pendidikan seks mendorong pergaulan bebas atau bertentangan dengan keyakinan agama atau budaya mereka. Orang lain mungkin merasa tidak nyaman mendiskusikan seks dengan remaja atau kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengajarkannya secara efektif. Dibutuhkan pembukaan dalam berbicara tentang seksualitas dan pendidikan seks. Orang Tua, pendidik, dan masyarakat perlu menciptakan ruang aman dan terbuka untuk berdiskusi dan berbagi informasi tentang seksualitas dengan anak-anak dan remaja. Komunikasi yang jujur, informatif, dan empatik dapat membantu mengurangi stigma dan tabu terkait dengan topik seksualitas.

Dengan mengatasi tantangan pendidikan seks, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan aman bagi semua orang. Membicarakan pendidikan seksual bukanlah untuk mendorong perilaku seksual yang tidak pantas atau melanggar nilai-nilai moral. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memberikan pemahaman yang sehat, pengetahuan yang akurat, dan keterampilan yang diperlukan bagi individu untuk menjalani kehidupan seksual yang sehat, aman, dan bertanggung jawab. Pendidikan seksual harus diberikan dengan keterbukaan dan objektivitas. Informasi mengenai seksualitas haruslah komprehensif, akurat, dan terbaru mengenai perkembangan reproduksi dan pentingnya menjaga kesehatan seksual.
Jadi, membuka pendidikan seksual sejak dini dan dengan cara yang benar dan konsisten merupakan langkah yang penting dalam meningkatkan kesehatan seksual pada remaja dan dewasa muda. Pendidikan seksual yang baik mengajarkan pengambilan keputusan yang bijaksana dalam hubungan, memberikan informasi mengenai kesehatan seksual dan gaya hidup sehat, serta menyediakan dukungan sosial melalui keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendekatan ini juga dapat membantu membuka diskusi terkait stigma tabu mengenai seksualitas dan meningkatkan kesadaran tentang hak asasi manusia terkait kesehatan seksual.

Saat ini lah waktunya bagi kita untuk mengatasi hal tabu ini dan memprioritaskan pendidikan seksual di dalam sistem pendidikan kita. Dengan melakukan itu, kita dapat memberikan fondasi yang kuat bagi generasi muda untuk mengembangkan pemahaman yang sehat tentang seksualitas, memperoleh keterampilan yang diperlukan, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan seksual mereka.

References
Di Balik Urgensi Pendidikan Seksualitas. (2021, April 21). Kompas.id. Retrieved June 15, 2023, from https://www.kompas.id/baca/dikbud/2021/04/21/mengapa-pendidikan-seksualitas-semakin-diperlukan/
Serba-serbi Ratusan Anak di Ponorogo Minta Dispensasi Nikah: Alasan hingga Tanggapan Pakar. (2023, January 17). Detikcom. Retrieved June 16, 2023, from https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6520471/serba-serbi-ratusan-anak-di-ponorogo-minta-dispensasi-nikah-alasan-hingga-tanggapan-pakar
Viral! Ratusan Pelajar SMP dan SMA di Ponorogo Hamil di Luar Nikah. (2023, January 10). Okezone News. Retrieved June 15, 2023, from https://news.okezone.com/read/2023/01/10/519/2743452/viral-ratusan-pelajar-smp-dan-sma-di-ponorogo-hamil-di-luar-nikah

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.