• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Mengapa Harus Memilih dalam Pemilu dan Bagaimana Sikap Kita Sebagai Warga Negara yang Baik

Editor Redaksi
21 Maret 2024
in Kolom Opini

Penulis : Yudi Dwi Julian, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

JurnalPost.com – Fenomena Golput (Golongan Putih) menjadi suatu permasalahan setiap 5 tahun sekali. Ada 34,75 juta orang yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golongan putih (golput) dalam Pemilu 2019. Jumlah itu setara dengan 18,02% dari daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019 yang sebanyak 192,77 juta orang. Puncak tertingginya ada di tahun 2014, berjumlah 58,61 Juta orang atau 30,22%. Dengan tingginya angka tersebut, jelas akan sangat mempengaruhi hasil Keputusan yang akan ditetapkan nantinya.

Ada berbagai alasan tentunya, mulai dari frustasi karena tidak ada pasangan calon yang sesuai dengan keinginan, malas pergi ke tps, atau karena memang apatis terhadap politik. Parahnya bahkan pernah ada kampanye ajakan kepada semua orang untuk tidak memilih satupun politisi yang sedang bertarung di kontes politik. Kampanye ini diusung salah satunya oleh Arief Budiman, seorang aktivis besar di Indonesia, walaupun juga pada perjalanannya, tetap saja dia merasa bahwa yang terbaik adalah tetap ikut serta dalam memilih.

Pada negara yang demokratis, tetap sebaiknya sebagai warga negara Indonesia pergi untuk memilih dan juga menggunakan hak suara, karena jelas, setiap suara akan mempengaruhi masa depan juga, apalagi dengan betapa banyaknya jumlah orang yang melakukan golput.

Dengan kemajuan teknologi yang terjadi, golput bisa dikatakan sebagai cara yang sudah tidak efektif lagi, karena dengan kemunculan social media dan juga kemudahan berkomunikasi pada setiap individu, tentunya kita bisa dengan mudah dalam menyimpulkan dan menentukan arah dari visi misi pasangan calon, begitu juga melihat rekam jejak yang dimiliki setiap paslonnya untuk membuktikan kerja nyata.

Begitu pula bagi orang orang yang memiliki rasa bingung untuk memilih, kebanyakan dari mereka mengalaminya karena tidak ada pasangan calon yang mampu untuk mengusung kepentingan umum yang difikirkan oleh mereka, yang padahal, lagi dan lagi karena kemajuan teknologi, kita mampu dengan mudah untuk menyuarakan yang seharusnya disuarakan, karena jalan terbaik yang bisa kita lakukan dalam demokrasi ini adalah kita berjuang dan menyuarakan kebaikan dan juga nilai yang kita anut.

Kita mampu untuk menyuarakan isi fikiran kita dengan mudah, di jalanan, di media sosial, dan dimanapun, bahkan saat ini para calon presiden memberikan kita sarana yang sangat baik dari metode kampanye yang mereka jalankan, sebagai contoh dari desak anies, slepet imin, dan lain lain. Jika kita mampu menyuarakan fikiran kita dengan baik, maka di waktu pencoblosan, sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak menyoblos. Tanpa mencoblos, pekerjaan orang baik yang menyuarakan nilai nilai baik menjadi tidak ada gunanya, maka dari itu mari pakai suara kita dengan baik, untuk mendukung orang baik yang sedang berjuang untuk negara kita tercinta.

Pemilu adalah langkah awal bangsa Indonesia dalam lima tahunan untuk memilih pemimpin terbaik. Dalam pemilu kali ini, berdasarkan Literasi Pembangunan Kompas, masih banyak Masyarakat yang belum mempunyai pilihan, angkanya mendekati 28%. Hal ini tentu menjadi riskan apabila nyatanya angka sebesar itu menjadi golput.

Nah, mulai sekarang kita bisa aktif untuk mencari tahu siapa sih kandidat seorang pemimpin yang bisa kita pilih nantinya agar tidak banyak Masyarakat bisa menjadi golput. Dengan banyaknya golput maka partisipasi warga sebagai warga negara akan menjadi rendah, dan tentu, ini berbahaya bagi demokrasi kedepannya.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.