(Oleh : Najwa Azahra dan Farhah Auliya)
JurnalPost.com – Sebagaimana dilansir dari BBC NEWS Indonesia pada 21 September 2023 telah terjadi perundungan terhadap salah satu siswi kelas 2 SD di Menganti, Gresik, Jawa Timur berinisial SAH yang mengalami buta permanen dibagian mata kanannya karena ditusuk menggunakan tusuk bakso oleh kakak kelasnya. Kronologi kejadian tersebut diduga bahwa sang pelaku menarik korban secara tiba-tiba untuk kemudian dibawa kesuatu gang yang berada diantara ruang guru dan pagar sekolah saat sedang berlangsung perlombaan di halaman sekolahnya. Sang korban kemudian dimintai uang jajannya oleh kakak kelasnya, namun dirinya menolak untuk memberikan uang jajannya tersebut. Hingga akhirnya sang pelaku tersulut amarahnya lalu menusuk mata kanan korban dengan tusuk bakso dengan sangat tragis. Sejak kejadian tersebut SAH mengalami trauma berat dan masih belum mau bersekolah.
Menurut Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yaitu Ubaid Matraji mengatakan bahwa bullying atau perundungan di Indonesia sudah sangat darurat. Melonjaknya jumlah kasus perundungan dan tidak adanya tanda-tanda penurunan kasus meski pihak Kemendikbud telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan pencegahan kekerasan disatuan pendidikan. Berdasarkan data dari JPPI sepanjang Januari-Agustus 2023 sebanyak 379 anak usia sekolah telah menjadi korban kekerasan fisik serta perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah. Selain itu dalam kasus diskriminasi serta intoleransi terdapat 31 kasus.
Permendikbud tahun 2023 berkaitan dengan pencegahan serta penanganan kekerasan dalam lingkup satuan pendidikan, telah mengeluarkan aturan yang disahkan pada 3 Agustus 2023 bersama dengan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Namun, Ubaid mengatakan bahwa sepertinya kebijakan tersebut belum sampai kepada pihak dinas pendidikan mulai dari skala provinsi sampai kabupaten atau kota apalagi sekolah. Apabila peraturan tersebut telah disosialisasikan maka tidak akan terjadi kasus perendungan di Gersik. ( BBC NEWS Indonesia, 2023)
Merujuk pada berita di atas, permasalahan perilaku pada peserta didik sudah menjadi problem yang marak terjadi di lingkungan sekolah. Sebagai pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tentu menjadi tugas bersama untuk menemukan solusi yang efektif dalam menekan angka perundungan di lingkungan sekolah agar tidak lagi terjadi peningkatan yang signifikan. Adapun terkait tingkah laku yang bermasalah pada peserta didik merupakan tingkah laku yang berlebihan (excessive) dan tingkah laku yang berkurang ( deficit ) adanya tingkah laku yang berlebihan seperti merokok, terlalu sering bermain game, sering memberi komentar buruk di kelas, dan sering keluar dijam pelajaran. Selain itu, tingkah laku deficit seperti tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, terlambat masuk sekolah, dan bolos sekolah. Permasalahn tersebut bisa diatasi dengan menggunakan teknik-teknik modifikasi perilaku yaitu dengan menghilangkan atau mengurangi perilaku negatif tersebut dengan teknik behaviour contract.
Dalam teknik behaviour contract biasanya menjadi cara efektif untuk pengaturan ruang kelas dan sekolah, adanya keterlibatan kontrak guru-peserta didik dengan adanya perjanjian formal yang berfokus untuk meningkatkan perilaku sosial serta akademik yang sesuai dengan tuntutan kebijakan sekolah. Secara khusus teknik ini diharapkan dapat membantu para guru dan orang tua dalam menangani perserta didik low vision yang mempunyai perilaku maladaptif dan memberikan arahan kontribusi berupa pemikiran yang benar pada pihak sekolah demi mengurangi perilaku maladaptif yang dimiliki oleh peserta didik. Selain itu masalah perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
1. Kebutuhan Pribadi dan Sosial.
Peserta didik dengan jiwa sosialnya tentu akan membutuhkan perhatian, pengakuan, persetujuan, dan rasa saling memiliki. Selain itu juga peserta didik memililki kebutuhan harga diri yang harus dipenuhi dengan tepat yaitu perasaan merasa bebas dan kemandirian. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akan timbul sikap tidak terpuji yaitu seperti melahirkan peserta didik yang tidak patuh pada aturan, sulit bekerja sama, mrmbolos, berbicara tidak sesuai porsinya dan memiliki sikap pengganggu
2. Pengaruh Pematangan atau Pendewasaan ( Maturation).
Pada aspek ini terjadi adanya proses alami dimana individu mengalami perubahan fisik, kognitif, dan emosional yang membuat mereka untuk mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi. Perkembangan fisik meliputi pertumbuhan tulang, otot, dan ogan tubuh lainnya. Saat fase remaja pematangan fisik juga melibatkan adanya perubahan hormon yang memengaruhi perkembangan seksual dan reproduksi. Sedangkan perkembangan kognitif melibatkan adanya perkembangan kemampuan berpikir, memahami, serta memproses informasi. Adapun umtuk perkembangan emosional melibatkan perkembangan kemampuan mengelola dan mengungkapkan emosi dengan cara yang sehat dan tepat.
3. Kondisi Guru dan Kelas.
Dalam segi kualitas pengajaran apabila guru tidak memberikan pengajaran yang interaktif, menarik, relevan, membuat siswa akan kehilangan minat serta motivasi untuk mengikuti pembelajaran. Lingkungan kelas yang tidak kodusif juga mempengaruhi partisipasi siswa serta akan mengurangi kedisiplinan di kelas yang dapat mengganggu fokus dan minat siswa selanjutnya kurangnya keterlibatan siswa dikarenakan timbul rasa malas sehingga akan mengurangi kontribusi siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Guru memberikan dukungan dan penghargaan kepada siswa agar tidak merasa tidak dihargai melaui dukungan emosional serta memberikan pengakuan atas usaha dan prestasi siswa yang dapat mendorong motivasi dan mengurangi perilaku malas.
4. Kondisi Sosial Budaya.
Perbedaan latar belakang budaya siswa mempengaruhi cara siswa dalam berinteraksi di kelas, mengungkapkan emosi, serta berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu bahasa dan komunikasi antar siswa yang berbeda menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa untuk berkomunikasi dengan guru dan rekan sekelas.
5. Kondisi Rumah.
Dalam masalah perilaku di kelas kondisi rumah atau lingkungan keluarga ternyata mempengaruhi perilaku siswa. Dukungan keluarga dapat berupa adanya keterlibatan keluarga untuk mempengaruhi perilaku siswa apabila siswa mendapat dukungan secara emosional, siswa akan cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi serta akan terbentuk perilaku yang lebih positif di sekolah. Sebaliknya, apabila siswa kurang mendapat dukungan dari keluarga atau mengalami koflik di rumah, hal ini dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi dan keantusiasan siswa di kelas.
Dengan demikian kasus perundungan yang marak terjadi di sekolah tidak bisa dihentikan hanya dengan peran guru di sekolah, tetapi juga butuh kerjasama dari orang tua untuk memberikan dukungan serta arahan yang baik kepada anak sebagai benteng pertahanan untuk menghadapi dunia luar dan membangun relasi yang baik sesama rekan di lingkungan sekolah.
Dosen Pengampu: Rahmawati, S.Psi., MA.



