Tiara Nur Khikma
Universitas Islam Negri K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan,Indonesia
Email Korespodensi : [email protected]
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital dalam beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan besar dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara orang berkomunikasi, bekerja, belajar, hingga mencari dan menyebarkan informasi mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Jika pada masa lalu informasi menyebar secara lambat dan terbatas melalui media cetak atau komunikasi lisan, kini informasi dapat diakses dan dibagikan dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Perubahan ini menciptakan ruang komunikasi baru yang sangat luas, terbuka, dan aktif, di mana siapa pun dapat menjadi produsen sekaligus konsumen informasi.
Media sosial menjadi salah satu produk paling berpengaruh dari perkembangan teknologi digital tersebut. Awalnya, media sosial hanya digunakan sebagai sarana berbagi aktivitas sehari-hari, foto, atau sekadar menjaga hubungan pertemanan. Namun, seiring waktu, fungsinya berkembang jauh melampaui tujuan awal. Media sosial kini menjadi ruang publik digital yang memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini, menyebarkan nilai, memengaruhi pola pikir, bahkan menggerakkan perilaku sosial masyarakat. Dalam konteks ini, media sosial tidak lagi sekadar ruang hiburan, tetapi juga menjadi sarana penting untuk edukasi, kampanye sosial, hingga penyampaian pesan-pesan keagamaan atau dakwah.
Bagi umat Islam, perkembangan media sosial membuka peluang yang sangat luas untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X (Twitter) memungkinkan dakwah dilakukan tanpa batas ruang dan waktu. Dakwah yang sebelumnya terbatas pada majelis taklim, masjid, atau ruang-ruang fisik tertentu, kini dapat menjangkau audiens global dengan latar belakang yang sangat beragam. Satu konten dakwah dapat diakses oleh ribuan bahkan jutaan orang dari berbagai negara dalam waktu singkat. Ini merupakan peluang besar yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah dakwah Islam.
Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat dan sering kali gampang disalahpahami seperti sekarang, adab jadi hal yang sangat penting dan nggak boleh diabaikan. Dakwah itu sebenarnya bukan cuma soal isi atau materi yang disampaikan, tapi juga soal bagaimana cara menyampaikannya. Cara berbicara, pilihan kata, nada penyampaian, sampai tampilan visual di media sosial punya pengaruh besar. Semua hal itu sangat memengaruhi cara orang memahami pesan dakwah. Jika cara penyampaiannya tidak tepat, pesan bisa disalahartikan, ditolak, atau bahkan menimbulkan konflik. Oleh karena itu, adab bukan hanya tambahan, tetapi menjadi unsur penting dalam berdakwah agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
Banyak pendakwah yang telah dikenal publik, bahkan memiliki latar belakang keilmuan agama yang mumpuni, tersandung masalah hanya karena penyampaian yang kurang tepat di media sosial. Hal ini membuktikan bahwa validitas ilmu agama saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan dakwah di ranah digital. Islam secara tegas telah mengajarkan bahwa dakwah harus dilakukan bil hikmah, yaitu penuh kebijaksanaan, kelembutan, dan dilakukan tanpa niat menyakiti atau memancing permusuhan. Prinsip ini adalah maqashid syariah dalam berdakwah yang harus diimplementasikan dalam bentuk digital.
Oleh karena itu, media sosial menuntut para pendakwah untuk mengembangkan kemampuan komunikasi digital yang spesifik, pemahaman mendalam tentang etika bermedia, dan kesadaran tinggi bahwa audiens yang dihadapi sangatlah beragam, baik dari segi latar belakang pendidikan agama maupun sosial. Memahami adab berdakwah di media sosial bukan hanya sekadar pemenuhan tuntutan etis keagamaan, tetapi juga merupakan strategi yang sangat efektif agar pesan kebaikan dapat diterima dengan baik, menyentuh hati, dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Tanpa adab yang memadai, pesan dakwah berisiko menjadi noise di tengah hingar bingar digital, atau bahkan lebih buruk, berpotensi menimbulkan perpecahan alih-alih persatuan.
Isi
Adab dalam berdakwah di media sosial itu perlu benar-benar diterapkan di setiap bentuk komunikasi digital. Mulai dari cara memilih kata yang sopan, bersikap tenang dan bijak saat menanggapi komentar, sampai bisa mengendalikan emosi ketika berinteraksi dengan orang lain. Semua sikap ini saling berkaitan dan sangat menentukan apakah dakwah bisa diterima dengan baik atau justru menimbulkan dampak yang kurang baik dalam jangka panjang. Intinya, adab ini bersumber dari nilai akhlak yang baik dan tetap harus diterapkan meskipun dakwah dilakukan lewat media digital.
Pertama adalah adab dalam penggunaan bahasa.
Media sosial punya karakter yang beda dari komunikasi langsung, jadi cara ngomong di sini harus lebih hati-hati. Kebanyakan pesan disampaikan lewat tulisan, dan ini gampang banget bikin salah paham. Orang cuma membaca kata-katanya saja, tanpa tahu nada suara, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh dari yang menyampaikan. Akhirnya, pesan yang niatnya memberi nasihat baik malah bisa dianggap nyerang, nuduh, atau terkesan menghakimi.
Makanya, pendakwah perlu benar-benar sadar kalau tulisan yang diunggah di media sosial bisa tersimpan lama dan dibaca oleh banyak orang. Setiap orang juga punya cara masing-masing dalam menafsirkan tulisan. Karena nggak ada petunjuk emosi yang jelas, risiko salah paham jadi besar. Itulah sebabnya, menyampaikan pesan di media sosial perlu dipikirkan dengan matang supaya maksud baiknya nggak berubah jadi masalah.
Oleh sebab itu, pendakwah memiliki tanggung jawab besar untuk memilih kata yang tidak hanya benar secara syariat, tetapi juga santun, ramah, dan tidak terkesan menggurui. Penggunaan bahasa yang santun mencerminkan kemuliaan ajaran Islam itu sendiri dan menunjukkan rasa hormat kepada audiens. Bahasa yang ramah menunjukkan keterbukaan, sementara menghindari kesan menggurui menunjukkan kerendahan hati dan mengakui posisi setara dengan audiens digital. Hal ini penting karena audiens digital seringkali tidak menyukai gaya komunikasi yang bersifat top-down dan dogmatis.
Pendekatan bahasa yang ideal adalah yang bersifat inklusif. Penelitian (Azis & Fahmi, 2022) secara empiris menunjukkan bahwa gaya bahasa inklusif mampu meningkatkan penerimaan audiens terhadap konten dakwah secara signifikan, terutama bila dibandingkan dengan gaya bahasa yang cenderung menghakimi, menyalahkan, atau memojokkan. Gaya bahasa menghakimi cenderung menggunakan diksi yang bersifat final, tertutup, dan menyudutkan kelompok tertentu, yang secara psikologis memicu penolakan dan defensivitas. Sebaliknya, gaya bahasa inklusif menggunakan diksi yang mengundang refleksi dan partisipasi. Fenomena ini terbukti nyata dari meningkatnya minat generasi muda terhadap konten dari ustaz-ustaz yang menggunakan bahasa ringan, luwes, dan sangat komunikatif, baik di Instagram maupun TikTok. Pendekatan demikian lebih sesuai dengan kebiasaan komunikasi masyarakat digital yang mengutamakan interaksi dua arah dan sifatnya setara (egaliter). Adab dalam penggunaan bahasa ini juga mencakup etika merespons komentar. Respon yang emosional atau sarkastik akan merusak citra dakwah secepat pesan itu menjadi viral, menunjukkan bahwa pendakwah gagal meneladani kelembutan dan kebijaksanaan dalam berinteraksi.
Aspek kedua adalah kejujuran dan validitas informasi.
Studi yang dilakukan(Lakum et al., 2023) telah memperingatkan dengan tegas bahwa kesalahan informasi agama di media sosial dapat memicu penyebaran pemahaman yang keliru, kesesatan, hingga memengaruhi cara masyarakat menjalankan ajaran agama mereka secara fundamental. Kesalahan penyebutan hadits, salah kutip ayat, atau penyajian hukum tanpa konteks mazhab adalah kesalahan fatal yang dampaknya meluas dan berpotensi merusak akidah.
Contoh nyata dari masalah ini bisa kita lihat dari banyaknya potongan video dakwah yang beredar tanpa konteks utuh. Ceramah sering dipotong seenaknya, lalu langsung disebarkan, sehingga maknanya bisa ditangkap beda-beda dan akhirnya malah memicu perdebatan panjang yang sebenarnya nggak perlu, apalagi di kalangan orang awam. Misalnya, ada pendapat fikih yang sebenarnya hanya berlaku untuk kondisi tertentu dengan syarat tertentu juga, tapi malah disebarkan seolah-olah itu aturan yang berlaku mutlak tanpa penjelasan apa pun.
Kondisi seperti ini bukan cuma bikin orang jadi salah paham, tapi juga bisa menyesatkan. Dampaknya, Islam jadi terlihat kaku dan nggak masuk akal di mata sebagian orang, padahal sebenarnya Islam itu rasional dan penuh pertimbangan. Karena itu, dakwah di media sosial memang harus disampaikan dengan lebih bijak, hati-hati, dan penuh tanggung jawab.
Oleh karena itu, pendakwah digital seharusnya menjadi figur yang paling dapat dipercaya (tsiqah), sehingga pengecekan sumber wajib dilakukan sebelum mempublikasikan konten. Ini berarti tidak cukup hanya tahu dalilnya, tetapi juga tahu dari mana dalil itu berasal, bagaimana konteksnya, dan bagaimana ulama ahli menafsirkannya. Adab ini menuntut pendakwah untuk bersikap transparan dengan mencantumkan sumber rujukan yang valid, baik itu nama kitab, nomor ayat, atau tingkatan hadits. Dengan demikian, audiens diberikan kesempatan untuk meneliti dan memverifikasi kebenaran pesan tersebut, yang pada gilirannya akan membangun kepercayaan jangka panjang dan memastikan bahwa dakwah berakar pada keilmuan yang kokoh.
Ketiga adalah kebijaksanaan dalam menghadapi perbedaan pendapat.
Media sosial itu ibarat ruang publik yang sangat luas, di mana penggunanya datang dari berbagai latar belakang, mulai dari budaya, pendidikan, mazhab, sampai pandangan politik yang berbeda-beda. Perbedaan seperti ini memang tidak bisa dihindari dan harus disikapi dengan sikap yang bijak. Dalam praktiknya, pendakwah di media sosial sering kali harus berhadapan dengan komentar pedas, kritik yang kurang berdasar, atau bantahan keras yang benar-benar menguji kesabaran. Apalagi di dunia digital, perbedaan pendapat sering makin tajam karena banyak orang terjebak di lingkungan informasi yang membuat mereka merasa pendapatnya paling benar.
Di kondisi seperti ini, adab dalam berdakwah menuntut pendakwah untuk tetap sabar dan memberi respons yang tepat. Merespons secara proporsional berarti menanggapi kritik dengan penjelasan yang masuk akal, data yang jelas, dan argumen yang kuat, bukan dengan emosi atau balasan kasar. Jika interaksi di media sosial lebih banyak diwarnai emosi, justru hal itu bisa menjadi bumerang. Bukannya membuat pesan kebaikan tersampaikan, dakwah malah tenggelam dalam konflik pribadi dan bisa merusak citra dakwah itu sendiri.
Dalam situasi seperti ini, adab dakwah menuntut kesabaran dan respons yang proporsional. Respon yang proporsional berarti membalas kritik dengan data dan argumen yang kuat, bukan dengan serangan balik emosional atau bahkan makian. Menurut (Samsudin & Putri, 2023), interaksi yang didominasi oleh emosi justru menjadi bumerang yang dapat merusak citra dakwah dan membuat pesan kebaikan tidak lagi fokus, melainkan tenggelam dalam drama konflik pribadi.
Teladan terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah SAW, yang menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan dengan lemah lembut (qawlan layyinan) justru lebih menyentuh hati, bahkan terhadap mereka yang secara terang-terangan menentang dakwah. Adab ini menuntut pendakwah untuk menahan diri dari godaan memenangkan perdebatan dengan segala cara. Dalam konteks digital, sikap ini tercermin dalam beberapa hal: kemampuan menahan diri untuk tidak langsung bereaksi terhadap provokasi; menjawab dengan data yang tepat dan argumen yang terstruktur; dan yang paling penting, menghindari debat kusir yang tidak produktif. Debat kusir di media sosial hanya menghasilkan kegaduhan dan perpecahan, tidak menghasilkan edukasi. Mengelola perbedaan pendapat secara dewasa merupakan ujian sesungguhnya terhadap kedewasaan dan keilmuan seorang pendakwah. Fokus harus selalu kembali pada upaya edukasi yang menenangkan.
Keempat adalah kemampuan mengemas konten secara kreatif dan relevan.
Di tengah banjir informasi di dunia digital seperti sekarang, konten dakwah harus bersaing keras dengan berbagai jenis konten lain, mulai dari hiburan, berita, sampai konten komersial yang biasanya dikemas dengan sangat menarik dan kualitas tinggi. Setiap hari orang disuguhi banyak sekali konten di media sosial, sehingga perhatian audiens jadi mudah teralihkan.
Karena itu, dakwah di media sosial tidak lagi bisa mengandalkan cara-cara lama seperti ceramah panjang yang formal dan kaku. Pola konsumsi audiens digital, terutama generasi muda, sudah berubah. Mereka lebih menyukai konten yang tampilannya menarik, pesannya singkat tapi jelas, dan mudah dipahami tanpa harus menguras konsentrasi terlalu besar. Jika dakwah ingin tetap relevan dan didengar, cara penyampaiannya juga perlu menyesuaikan dengan kebiasaan dan kebutuhan audiens di ruang digital.
Kreativitas dalam penyajian menjadi bagian integral dari adab dakwah. Dengan mengemas pesan kebaikan secara profesional dan menarik, pendakwah menunjukkan bahwa mereka menghargai waktu dan perhatian audiens. Konten yang tidak dikemas dengan baik berisiko terlewatkan, dan pesan kebaikan menjadi tidak tersampaikan. Adab ini mewajibkan pendakwah untuk berinvestasi dalam kualitas produksi, baik dari segi visual, audio, maupun narasi.Penelitian dari (Jumhadi et al., 2024) mengenai tren konsumsi konten keagamaan di TikTok menemukan bahwa format seperti video berdurasi pendek, animasi edukatif, dan infografis memiliki tingkat keterjangkauan dan engagement yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rekaman ceramah panjang. Kreativitas ini dapat diwujudkan melalui storytelling yang kuat, penggunaan ilustrasi yang relevan, atau penyajian pesan agama melalui cerita pendek, ilustrasi, atau contoh sehari-hari yang nyata dan dekat dengan kehidupan anak muda. Kreator dakwah muda berhasil membuktikan bahwa relevansi narasi jauh lebih penting daripada formalitas penyampaian.
Selain itu, pendakwah juga perlu memahami dinamika masing-masing platform. Konten TikTok menuntut kreativitas visual dan hook yang kuat. YouTube memberikan ruang lebih panjang untuk pembahasan materi yang mendalam. Instagram mengutamakan estetika visual melalui feed dan story. Sementara itu, X (Twitter) menekankan ketepatan argumen dan ringkasan pemikiran yang kuat. Pemahaman terhadap karakter platform ini akan membantu pendakwah memilih strategi terbaik agar pesan kebaikannya sampai secara optimal.
Kelima adalah menjaga niat dan integritas.
Media sosial seringkali menawarkan popularitas instan, pengakuan publik, dan bahkan potensi keuntungan materi yang besar. Lingkungan ini menjadi ujian berat bagi niat seorang pendakwah. Tidak sedikit pendakwah digital yang kemudian lebih fokus pada jumlah pengikut (followers) atau view count dibanding kualitas dan kemurnian pesan yang disampaikan. Godaan fame dan fortune dapat menggeser tujuan dakwah dari murni mengajak ke jalan kebenaran menjadi alat untuk mencapai ketenaran pribadi.
Islam mengingatkan bahwa dakwah tidak boleh menjadi ajang pencitraan (riya’), melainkan harus berorientasi pada niat yang tulus. Kebaikan yang disampaikan harus bertujuan utama mengajak manusia menuju kebenaran (Haq), mencari keridaan Allah, dan bukan sekadar meraih perhatian publik. Niat yang murni akan menjaga kualitas konten dan integritas pribadi pendakwah, menjauhkannya dari sensasionalisme murahan. Dalam penelitian (Anas, 2023) mengenai motivasi pendakwah digital, ditemukan korelasi yang jelas: pendakwah yang berorientasi pada ketenaran cenderung menghasilkan konten yang sensasional dan memicu kontroversi demi engagement. Konten mereka seringkali fokus pada perbedaan atau isu yang memancing emosi publik. Sebaliknya, pendakwah yang berorientasi pada misi edukatif dan substansi akan menghasilkan konten yang lebih mendalam, bermanfaat, dan cenderung membawa suasana damai.
Menjaga integritas juga berarti memastikan adanya konsistensi antara apa yang dikontenkan (digital footprint) dan apa yang dilakukan di dunia nyata. Adab ini adalah benteng utama yang melindungi pendakwah dari jerat popularitas yang kosong. Selain aspek-aspek inti tersebut, dakwah di media sosial juga menuntut kesadaran bahwa audiens yang beragam membutuhkan pendekatan yang beragam pula. Adab berdakwah juga menyangkut kesediaan untuk terus belajar. Dunia digital berkembang sangat cepat, menuntut pendakwah untuk terus meningkatkan literasi digital, menguasai etika komunikasi terbaru, dan memahami perkembangan isu-isu keagamaan kontemporer. Pendakwah masa kini tidak cukup hanya paham ilmu agama, tetapi juga perlu memiliki kecakapan digital agar tidak salah langkah dalam menyampaikan pesan dan menjadi teladan yang utuh.
Kesimpulan
Dakwah di media sosial merupakan peluang emas yang sangat besar bagi umat Islam untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan edukasi agama secara luas, cepat, dan efisien. Namun, peluang besar ini haruslah diimbangi dengan standar adab yang tinggi agar pesan dakwah tidak hanya sampai, tetapi benar-benar diterima, diresapi, dan diimplementasikan oleh masyarakat digital. Adab adalah strategi efektif yang memastikan pesan kebaikan tidak tersesat dalam kebisingan digital.
Fondasi utama efektivitas dakwah digital terletak pada penerapan adab yang meliputi lima pilar utama: penggunaan bahasa yang santun dan inklusif; kejujuran dan validitas informasi untuk melawan hoaks agama; kebijaksanaan dan kesabaran dalam menanggapi perbedaan pendapat dan kritik; kreativitas dalam penyajian konten untuk menghargai waktu audiens; serta integritas dan kemurnian niat yang bebas dari ambisi popularitas. Semua aspek tersebut secara kolektif menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan dan efektivitas dakwah di era digital.
Dengan memahami dan secara konsisten menerapkan adab dalam setiap aktivitas dakwah di media sosial, pendakwah digital tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pesan agama, tetapi juga menunjukkan dan mempraktikkan akhlak mulia (akhlakul karimah) yang merupakan inti sejati dari ajaran Islam. Pada akhirnya, dakwah yang dilakukan dengan penuh adab dan kebijaksanaan akan berhasil membawa suasana damai, menghindarkan konflik, dan secara nyata memperkuat citra Islam sebagai agama yang membawa rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) di ruang digital yang sering kali keras dan anonim. Adab adalah kunci untuk mengubah ruang digital dari medan perdebatan menjadi taman edukasi dan inspirasi.
SARAN
Berdasarkan pembahasan yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa hal yang bisa dijadikan bahan pertimbangan agar praktik dakwah di media sosial ke depan bisa lebih efektif, berdampak positif, dan diterima dengan baik oleh masyarakat digital.
Pertama itu Meningkatkan kemampuan komunikasi digital,para pendakwah yang aktif di media sosial sebaiknya tidak hanya fokus memperdalam ilmu agama, tapi juga terus mengasah kemampuan komunikasi digital. Media sosial memiliki karakter yang berbeda dibandingkan ceramah tatap muka. Pesan yang disampaikan secara tertulis atau visual lebih mudah disalahartikan jika tidak dikemas dengan tepat. Penting untuk memahami karakter audiens, memilih bahasa yang santai tapi sopan, serta menyesuaikan gaya penyampaian sesuai platform. Misalnya, penyampaian di TikTok bisa lebih visual dan singkat, sementara di YouTube bisa lebih panjang dan mendalam. Dengan cara ini, pesan dakwah lebih mudah diterima, tidak menimbulkan salah paham, dan bisa menjangkau berbagai kalangan.
Kedua Teliti dan berhati-hati dalam menyampaikan materi keagamaan,konten dakwah di media sosial harus dipastikan kebenarannya sebelum dibagikan. Setiap informasi, baik ayat, hadits, maupun pendapat ulama, perlu dicek sumbernya agar tidak menyesatkan. Misalnya, sebuah hadits yang hanya berlaku dalam konteks tertentu tidak boleh disebarkan seolah-olah berlaku mutlak tanpa penjelasan. Menyertakan rujukan yang jelas akan membantu audiens untuk memverifikasi sendiri dan menumbuhkan kepercayaan terhadap dakwah yang disampaikan. Hal ini juga akan memperkuat kredibilitas pendakwah dan menjaga kualitas dakwah di ruang digital.
Ketiga Bersikap sabar dan bijak dalam menghadapi perbedaan pendapat,media sosial adalah ruang publik yang sangat luas, di mana audiens datang dari berbagai latar belakang, budaya, dan pandangan. Karena itu, pendakwah harus mampu menghadapi kritik, komentar pedas, atau perbedaan pendapat dengan sabar dan bijak. Tidak semua komentar perlu dibalas, dan tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Fokus tetap pada menyampaikan pesan kebaikan, bukan berdebat untuk menang. Respon yang terlalu emosional justru bisa membuat dakwah kehilangan fokus, bahkan menimbulkan konflik yang tidak perlu. Dengan sikap sabar dan proporsional, dakwah bisa tetap harmonis dan menyentuh hati audiens.
Keempat Kreativitas dalam menyajikan konten dakwah,dakwah di media sosial harus bersaing dengan berbagai konten hiburan, berita, dan komersial yang biasanya dikemas dengan menarik. Oleh karena itu, pendakwah perlu mengemas pesan dengan cara kreatif agar tetap relevan dan tidak membosankan. Konten yang menarik secara visual, ringkas, dan mudah dipahami akan membuat pesan lebih mudah diterima, terutama oleh generasi muda. Kreativitas bisa diwujudkan melalui storytelling, animasi, infografis, atau contoh kehidupan sehari-hari yang dekat dengan audiens. Dengan begitu, dakwah terasa lebih hidup dan menyenangkan, sekaligus tetap menyampaikan nilai-nilai kebaikan.
Kelima Menyesuaikan konten dengan karakter platform,setiap platform media sosial punya karakteristik berbeda. TikTok cocok untuk video pendek yang menarik perhatian di detik pertama, YouTube lebih pas untuk pembahasan panjang dan mendalam, Instagram fokus pada visual dan cerita singkat, sedangkan X (Twitter) efektif untuk pesan singkat yang padat dan ringkas. Pendakwah perlu memahami karakteristik setiap platform agar pesan dapat tersampaikan secara maksimal dan tepat sasaran. Dengan memahami audiens dan format masing-masing platform, dakwah bisa lebih efektif dan menjangkau lebih banyak orang.
Keenam Menjaga niat dan integritas dalam berdakwah,popularitas, jumlah pengikut, atau banyaknya view sebaiknya bukan tujuan utama. Dakwah harus dilakukan dengan niat tulus untuk menyebarkan kebaikan dan mencari ridha Allah. Niat yang murni akan mempengaruhi kualitas konten, membuat pesan lebih jujur, dan menghindarkan dari konten sensasional yang hanya mencari perhatian. Pendakwah juga perlu konsisten antara apa yang disampaikan di media sosial dan perilaku nyata sehari-hari. Konsistensi ini akan membangun kepercayaan jangka panjang dari audiens dan menunjukkan teladan yang baik.
Ketujuh Terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman,dunia digital terus berkembang, begitu pula cara orang mengonsumsi konten. Pendakwah harus selalu belajar, baik terkait teknologi, tren komunikasi, maupun isu-isu keagamaan kontemporer. Kemampuan beradaptasi akan membuat dakwah tetap relevan, mencegah salah langkah, dan membantu menyampaikan pesan agama secara tepat sesuai kondisi zaman. Selain itu, literasi digital juga penting untuk menjaga keamanan dan etika dalam berinteraksi di ruang publik digital.
Kedelapan Mengedepankan adab dan etika dalam setiap interaksi,adab tetap menjadi fondasi utama dakwah di media sosial. Mulai dari bahasa yang digunakan, cara merespons komentar, hingga pengelolaan emosi, semuanya harus dilakukan dengan bijak dan sopan. Dengan mengutamakan adab, dakwah tidak hanya sampai ke audiens, tetapi juga menciptakan suasana yang nyaman, damai, dan edukatif. Hal ini akan membantu pesan kebaikan diterima tanpa memicu konflik dan menumbuhkan citra Islam yang ramah, rasional, dan penuh pertimbangan.
Daftar Pustaka
Anas, M. (2023). Potret Dakwah Digital di Era Modernisasi: Studi Media Sosial sebagai Media Dakwah. Al-Muttaqin: Jurnal Studi Sosial & Ekonomi, 3(1). https://jurnal.staisam.ac.id/index.php/almuttaqin/article/view/199
Azis, A. R., & Fahmi, F. (2022). Etika Dakwah dan Media Sosial: Menebar Kebaikan Tanpa Diskriminasi. Alhaqiqa: Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 3(2). https://ejournals.ddipolman.ac.id/index.php/alhaqiqa/article/view/145
Jumhadi, A. I., Geun, A. S., Muhibuddin, M., Khoirun Nisa, F., & Hijjiriyah, N. (2024). Strategi Dakwah Berbasis Media Digital dalam Meningkatkan Pemahaman Keagamaan Generasi Z di Indonesia. Spektra: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 9(2). https://jurnal.uia.ac.id/index.php/spektra/article/view/5255
Lakum, L., Wardatun, S., Mardiamah, S., Randiansyah, R., & Marpaung, J. (2023). Etika Komunikasi Islam dalam Dakwah Media Sosial: Tantangan dan Solusi di Tengah Arus Modernitas. Jurnal Pusat Studi Pendidikan Rakyat, 2(6). https://pusdikra-publishing.com/index.php/jies/article/view/2470
Samsudin, D., & Putri, I. M. (2023). Etika dan Strategi Komunikasi Dakwah Islam Berbasis Media Sosial di Indonesia. Ath-Thariq: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 3(1). https://e-journal.metrouniv.ac.id/ath_thariq/article/view/7474




Sangat puas
Sangat baik sekali