
Penulis: Khaila Putri Safira – Universitas Pendidikan Indonesia
Beranda Media Sosial: yang Tau Suasana Hati Kita
Suatu malam saat suasana hati sedang kurang baik. Belum sempat curhat ke siapa-siapa, cuma diam-diam scroll media sosial sambil rebahan. Anehnya, beranda saya seperti mengetahui. Muncul quotes galau, video orang nangis di mobil, lagu-lagu sendu yang tiba-tiba direkomendasikan tanpa di cari. Padahal sejam sebelumnya, waktu saya masih riang, isi beranda saya penuh postingan kocak dan video lucu kucing.
Awalnya mengira itu kebetulan. Tapi lama-lama saya sadar, ini sering terjadi buat disebut kebetulan. Algoritma seperti punya indera keenam soal suasana hati saya, bahkan sebelum saya sendiri berhasil menamainya. Dari situ saya mulai curiga, jangan-jangan yang paling kenal diri saya bukan sahabat dekat, bukan pasangan, tapi kumpulan kode di server teknologi yang bahkan tidak tahu wujudnya seperti apa.
Teman butuh waktu bertahun-tahun buat paham pola emosi kita. Algoritma cukup butuh beberapa hari, dari saat saya berhenti scroll di suatu konten, berapa detik saya menatap sebuah foto, sampai jenis komentar yang saya suka. Semua itu direkam diam-diam, lalu diramu jadi profil emosi yang mengerikan akuratnya.

Michel Foucault dan Kuasa yang Tahu Lebih Dulu Sebelum Kita Sadar
Dalam gagasan Michel Foucault soal kuasa dan pengetahuan, ada satu benang merah yang cocok banget dipakai membaca fenomena ini: kuasa paling efektif bukan yang memaksa kita dari luar, melainkan yang berhasil mengenal kita lebih dulu daripada kita mengenal diri sendiri, lalu diam-diam mengarahkan dari situ.
Algoritma media sosial bekerja persis dengan logika itu. Ia tidak pernah bertanya langsung “kamu lagi sedih ya?”. Ia cukup mengamati jejak-jejak kecil jeda sebelum scroll, konten yang diulang-ulang ditonton, waktu kita membuka aplikasi tengah malam, lalu diam-diam menyusun kesimpulan tentang kondisi batin kita. Setelah itu, ia tidak menunggu kita minta. Ia langsung memberikan konten yang “pas”, supaya kita makin lama menatap layar.
Yang bikin ini bukan sekadar teori konspirasi, adalah efeknya yang berputar seperti lingkaran. Ketika sedang sedih lalu beranda dibanjiri konten sedih, kesedihan itu bukan hanya dipahami, tapi ikut dipupuk. Ketika sedang cemas lalu muncul konten yang memperkuat kecemasan, cemas itu bukan diredakan, malah dikapitalisasi jadi waktu tonton yang lebih lama.
Di sinilah kuasa ala Michel Foucault bekerja secara halus: bukan lewat todongan senjata, melainkan lewat pengetahuan detail tentang diri kita yang dipakai buat mengatur perilaku kita sendiri, tanpa kita sadari sedang diatur. Kita merasa algoritma “mengerti” kita, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita sedang dipetakan, diklasifikasi, lalu diarahkan supaya terus betah di dalam sistem.
Ironisnya, teman sungguhan sering kali harus kita hubungi dulu, kita ajak ngobrol dulu, baru mereka bisa tahu kita sedang sedih. Algoritma tidak perlu itu semua. Ia sudah tahu duluan, bahkan sebelum kita sendiri berani mengakui pada diri sendiri bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.
Jejak digital, dengan begitu, bukan cuma soal privasi yang bocor. Ia soal siapa yang sekarang punya otoritas paling besar untuk membaca dan membentuk keadaan emosi kita sehari-hari. Kemudahan dikenali sedalam itu memang terasa nyaman, seperti selalu ada yang mengerti. Tapi di baliknya, ada pertanyaan yang layak kita bawa pulang: kalau algoritma sudah lebih paham suasana hati kita daripada sahabat sendiri, jangan-jangan yang perlu direbut kembali bukan cuma data pribadi kita, tapi juga kebiasaan untuk benar-benar bercerita pada manusia sungguhan.



