JurnalPost.com – Serangan Israel ke Palestina hingga saat ini ke Palestina belum juga berhenti. Terbaru, serang udara Israel menghantam tenda-tenda pengungsian warga Palestina di Kota Rafah. Akibat serangan ke kota yang berada di jalur Gaza Selatan itu mengakibatkan 45 pengungsi tewas. Bahkan sejauh ini, sudah tercatat lebih dari 36.000 warga Palestina tewas. Dimana, sebagian besar korban dari serangan itu adalah perempuan dan anak-anak.
Insiden mematikan yang terjadi di kota Rafah tersebut pun mendapat kecaman oleh masyarakat dunia. Tak hanya kecaman, perlawanan pun dilakukan di media sosial dengan Kampenye bertajuk “ All Eyes On Rafah” alias semua mata tertuju ke Rafah.
Untuk yang belum tahu, Rafah adalah pusat pengungsian terakhir bagi warga Palestina yang terusir akhir ulah serbuan Israel dalam beberapa bulan terakhir.Ironinya, Badan PBB untuk pencitraan satelit (UNOSAT) melaporkan bahwa sudah 55 persen wilayah yang berbatasan dengan Mesir tersebut hancur.
Kampenye “All Eyes On Rafah’’ sendiri merupakan gerakan yang dimulai oleh pengguna Instagram di Malaysia. Ia membagikan sebuah gambar buatan AI yang menampilkan tenda-tenda pengungsi Palestina dengan Slogan “Al Eyes On Rafah”. Unggahan tersebut pun diikuti oleh pengguna media sosial hingga tercatat sudah dibagikan lebih dari 47 juta kali. Termasuk oleh selebriti, seperti Dua Lipa, Lewis Hamilton, Bella Hadid dan saudaranya Gigi Hadid.
Apa yang dilakukan oleh penggunan Instagram di Malaysia tersebut menjadi salah satu contoh bahwa media sosial merupakan generasi ketiga dalam komunikasi politik yang memungkinkan siapapun menjadi produsen dan sekaligus konsumen informasi.
Menurut Blumler dan Kanvanagh dalam bukunya berjudul Old and New Media; Blogs ini The Third Age Political Communication (1999) menyadari suatu kemuncul “third age political communication” Dimana mendia cetak dan penyiaran akan kehilangan tempatnya sebagai saluran utama komunikasi politik pada era baru melimpahnya informasi.
Blumber dan Kanvanagh menulis bahwa “ide, informasi dan berita politik dapat disebarkan melalui komputer, mereka berfikir, mengenai internet web atau lebih dikenal dengan media sosial. Melalui media sosial kita dapat berbagi informasi, sosial gagasan, ajakan, tuntuan, hingga protes dan usulan alternatif kebijakan dapat dipublikasikan dan dipertukarkan dengan waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan media cetak atau media penyiaran (broadcasting).
Hal inilah yang kemudian menjadikan media sosial sebagai bentuk perlawanan kejahatan perang di Palestina. Lewat Kampanye “All Eyes On Rafah” seakan membuka mata dunia bahwa kondisi di Rafah begitu memperihatinkan dan butuh pertolongan dunia agar kekejaman yang terjadi terhadap warga Palestina segera dihentikan.
Sumber:
Arifin.,Anwar. 2011. Komunikasi Politik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Alvi. 2016. Wacana Satire Politik Dalam Akun Twitter @txtdrpemerintah. Pekanbaru: Universitas Riau
Biduarjo, Meriam. 1982, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakrta: Gramedia
Oleh: Muhammad Habibi Fahmi S.I.Kom



