
Oleh: Andhiny Haarisah Liyana
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
JurnalPost.com – Lagu Mas Bahlil Ganteng atau yang lebih popular disebut MBG kini sedang ramai menghidupi layar media sosial yang sulit diabaikan. Hingga saat ini, pada akun TikTok @VOKALIZ_NETIZEN, akun yang memprakarsai lagu MBG, terhitung 19,3 juta penonton dalam unggahan konten tersebut. Tanpa sadar, diantara anak-anak, remaja, hingga orang tua menyanyikan lagu ini dengan reflek. Tidak sedikit pengguna media sosial menjadikan lagu MBG menjadi latar konten hiburan, video, meme, hingga parodi humor. Ciri yang paling menonjol ada dalam penggunaan lirik yang terdengar jenaka, random, terdengar satire yang dipaksakan, dan tidak mengikuti logika narasi lagu konvensional. Misalnya permainan kata seperti “Buah apa yang paling manis? Buahhhlil” serta frasa seperti “My little bolu ketan” dan “My little cilok pentol” yang ditujukan kepada Bahlil Lahadalia.
Dari gaya lagu yang dibawakan ditambah sosok figur politik yang fenomenal, menjadikan sosok Bahlil Lahadalia sebagai pusat perhatian. Padahal dari lagu MBG tidak menyiratkan adanya kampanye resmi ataupun iklan politik yang besar ataupun strategi komunikasi yang secara eksplisit memperkenalkan lagu tersebut kepada publik. Kini nama Bahlil melambung melalui humor, meme, dan lagu yang diproduksi oleh masyarakat secara digital.
Berubahnya Cara Pandang Masyarakat terhadap Politik
Fenomena lagu MBG dapat dipahami melalui kacamata personalization of politics, konsep ini merujuk pada komunikasi politik yang memiliki kecenderungan pada sosok figur politik yang menjadi pusat publik, sementara program atau kebijakan yang mewakili tokoh tersebut justru tersisihkan.
Penggalan lirik lagu MBG tidak membicarakan persona sosok figur sebagai seorang menteri yang membicarakan kebijakan energi, strategi pembangunan nasional atau program-program yang selama ini menjadi bagian dari jabatan publik Bahlil. Lagu tersebut memfokuskan pada sisi persona Bahlil sebagai karakter yang dikontruksi oleh pengguna media sosial. Viralnya lagu MBG menunjukkan gejala peningkatan perhatian publik terhadap Bahlil dengan cukup jelas. Politik bukan lagi berpusat pada gagasan, melainkan pada sosok figur yang menjadi bagiannya.
Dari fenomena viralnya lagu MBG membawa transformasi identitas politik Bahlil menjadi identitas budaya popular yang dikemas dalam media. Lagu dan berbagai konten turunannya memberikan pesona Bahlil sebagai figur yang dekat, lucu, dan menghibur. Bukannya tampil sebagai cerminan institusi politik, melainkan sebagai karakter budaya popular yang dapat dijadikan bahan candaan, meme, dan kreativitas digital.
Apa yang terjadi pada lagu MBG menunjukkan adanya sebuah pergeseran besar dalam memandang komunikasi politik. Kini algoritma media sosial turut bermain dalam kehadiran respresentasi politik. Jika pada masa lalu politisi dikenal melalui pidato, debat publik, atau pemberitaan masa, dalam era modern mereka juga dikenal melalui algoritma media sosial. Ruang digital yang dikuasai kelucuan, kedekatan personal yang sifatnya menghibur, dan mudah dicerna kerap berpeluang lebih besar untuk viral dibandingkan diskusi kebijakan yang menuntut kesabaran untuk dipahami.
Situasi semacam ini menjadikan figur politik yang berhasil masuk ke percakapan sehari-hari publik sering kali memperoleh perhatian dibandingkan mereka yang hanya hadir melalui saluran komunikasi formal. Dalam konteks ini, perhatian publik menjadi komoditas yang berharga. Tak heran jika batas antara politik dan hiburan menjadi buram.
Resepsi Masyarakat terhadap Lagu MBG (Mas Bahlil Ganteng)
Dalam kacamata resepsi dari Stuart Hall, audiens dalam hal ini masyarakat secara aktif menafsirkan, memodifikasi, bahkan memproduksi ulang makna sesuai dengan pengalaman dan latar belakang masing-masing. Sebagian orang mungkin memaknai lagu ini sebagai bentuk penghargaan terhadap figur politik Bahlil (dominant reading). Ada pula yang menikmati lagu tersebut hanya sebagai hiburan (negotiated reading). Lebih jauh lagi, orang menginterpretasikan lagu MBG sebagai bentuk satire politik (oppositional reading).
Dalam kelompok dominant reading, masyarakat hanya menerima dan menikmati pesan yang muncul di permukaan saja. Masyarakat tidak melihat makna tersembunyi yang patut dicurigai. Sebagian pihak memberikan spekulasi lagu MBG sebagai ekspresi spontan kreativitas netizen dan kagum yang dibalut humor. Begitu mendengar lagu MBG, kader partai politik yang terafiliasi dengan Bahlil berpandangan bahwa publik menilai terhadap kinerja sosok figur yang berupaya menjaga ketersediaan BBM dan menyebutkan program lainnya yang belum sepenuhnnya dapat sorotan media.
Kelompok dengan negotiated reading memandang bahwa masyarakat menikmati lagu tersebut hanya sebagai hiburan. Lagu MBG dijadikan turunan konten yang merupakan bagian dari tren yang sedang ramai diperbincangkan. Konten lagu MBG dijadikan sebagai keterlibatan arus viralitas tanpa merasakan perlu terlibat dalam narasi politik yang terkandung dalam lagu tersebut. Dalam konteks ini, masyarakat berada diantara tidak menerima lagu secara utuh, tetapi tidak juga menolak lagu seutuhnya. Hanya bagian-bagian yang dianggap relevanlah yang mereka bawa, sesuai dengan kepentingan sendiri. Sementara sisanya dibiarkan berlalu. Posisi ini menunjukkan adanya proses negosiasi makna, yang mana publik tidak sekedar menerima atau menolak pesan, tetapi menafsirkannya sesuai dengan pengalaman dan kepentingan sendiri.
Dalam kelompok oppositional reading, masyarakat mengkritisi pesan yang dipahami secara utuh kemudian menolak pandangan dari hal yang dominan. Dalam hal ini, masyarakat yang membaca lagu MBG memahami lagu sebagai bentuk satire politik. Mereka memandang viralnya lagu MBG sebagai sindiran terhadap sosok figur politik yang dirayakan, sementara perdebatan mengenai gagasan dan kebijakan sering kali tersingkirkan.
Seperti yang diungkapkan oleh Radius Setiawan, seorang pakar Kajian Media dan Budaya, menyatakan bahwa bentuk humor, meme, parodi dalam lagu MBG digunakan untuk menertawakan figur kekuasaan sekaligus membongkar elit politik. Fenomena ini cenderung melihat politik kontemporer yang terlalu memberikan perhatian pada sosok figur politik. Lagu MBG tidak dimaknai sebagai pujian, melainkan sebagai kritik yang dikemas dalam format hiburan. Hal ini memandang masyarakat aktif menafsirkan sebuah pesan dengan makna yang bertentangan dari dominan.
Fenomena lagu MBG memberikan pandangan yang lebih dari sekedar lagu semata yang membawa viralitas sosok figur politik. Masyarakat diperlihatkan realitas politik yang sesungguhnya dibalik kesederhanaan sebuah lagu. Kemampuan sosok figur yang hadir dalam arus budaya digital menjadi penentu kondisi terlihatnya indikasi politik yang normalnya dihasilkan dari substansi kebijakan. Dengan demikian kita telah menyaksikan pergeseran penting cara politik dikomunikasikan dan dikonsumsi. Masyarakat bukan sekedar menjadi penonton panggung politik, tapi turut mengambil peran sebagai perancang, penyebar, dan juga penafsir makna. Dari fenomena lagu MBG, kita dapat memetik makna dari kacamata politik yang tidak selalu tampil dalam wajah yang formal dan serius. Politik zaman kini bersenandung melalui lagu-lagu yang viral, hadir beredar dalam meme, dan hidup lalu Lalang melalui percakapan dalam ruang digital.



