• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Mahasiswa Mengejar Nilai, Tapi Kehilangan Proses Belajar

Editor Redaksi
21 Desember 2025
in Artikel

Oleh: Fadli Akbar Ramadhan

JurnalPost.com – Di ruang kelas, suasana sering terlihat sibuk. Buku terbuka, laptop menyala, catatan ada di mana- mana. Dari luar tampak seperti proses belajar yang berjalan normal. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada satu hal yang terasa ganjil. Banyak mahasiswa tidak benar- benar sibuk memahami materi. Yang sering dipikirkan justru hasil akhirnya. Nilai apa yang akan keluar. Aman atau tidak. Itu yang ada di kepala.

Pertanyaan soal pemahaman sering kalah cepat dari pertanyaan soal angka. Bukan karena mahasiswa tidak peduli belajar, tapi karena tekanan itu nyata. Nilai seperti menjadi pusat dari semuanya. Dari awal semester, strategi sudah disusun. Mata kuliah mana yang bisa ditekan, tugas mana yang cukup dikerjakan seperlunya. Selama nilai tidak jatuh, proses dianggap cukup.

Di titik ini, belajar tetap terjadi, tapi arahnya berubah. Bukan lagi soal memahami, tapi bertahan. Banyak mahasiswa menjalani perkuliahan dengan logika praktis. Datang, absen, kumpul tugas, ujian. Selesai. Tidak ada yang benar- benar salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Prosesnya jalan, tapi rasanya tipis.

Kondisi ini tidak muncul begitu saja. Sistem akademik memang lama menjadikan angka sebagai ukuran utama. IPK sering diperlakukan seperti identitas. Bahkan harga diri. Tugas berubah menjadi kewajiban administratif. Diskusi hadir sebagai formalitas. Ujian identik dengan hafalan cepat. Dalam situasi seperti ini, wajar jika mahasiswa belajar menyesuaikan diri. Yang penting
lolos. Soal paham atau tidak, itu belakangan.

Padahal, proses belajar seharusnya memberi ruang yang lebih luas. Ruang untuk berpikir, ragu, bertanya, dan salah. Semua itu tidak bisa tumbuh kalau fokus hanya berhenti pada nilai. Ketika hasil terlalu dikejar, proses kehilangan tempat. Belajar jadi kering. Rutinitas semata. Bukan lagi pengalaman.

Nilai tentu penting. Tidak ada yang menyangkal itu. Tapi menjadikan nilai sebagai satu- satunya tujuan membuat pengalaman belajar terasa sempit. Mahasiswa bisa saja lulus dengan angka tinggi, tapi bingung saat harus menghadapi persoalan nyata. Dunia di luar kampus jarang memberi petunjuk. Masalah datang tanpa opsi jawaban. Tanpa proses belajar yang utuh, banyak yang akhirnya ragu pada kemampuannya sendiri.

Dampaknya tidak selalu terasa cepat. Tapi pelan- pelan muncul. Mahasiswa yang terbiasa mencari jalan pintas sering kesulitan saat dituntut berpikir lebih dalam. Diskusi yang membutuhkan pendapat pribadi terasa berat. Proses belajar yang dangkal meninggalkan bekas yang panjang.

Mengembalikan makna belajar jelas bukan perkara instan. Mahasiswa perlu mulai jujur pada diri sendiri. Bertanya bukan sekadar demi nilai. Mengerjakan tugas tidak hanya agar selesai. Dosen juga memegang peran penting. Memberi ruang diskusi, memberi kesempatan salah, tidak selalu terpaku pada angka. Hal- hal kecil, tapi dampaknya besar.

Belajar seharusnya menjadi perjalanan yang membentuk. Bukan perlombaan angka. Nilai akan berhenti di transkrip. Cara berpikir akan ikut ke mana- mana. Saat mahasiswa mulai memberi ruang pada proses, belajar tidak lagi terasa sebagai beban. Di sana, pendidikan perlahan menemukan maknanya kembali.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.