• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Mahasiswa Makin Mudah Menulis, Makin Sulit Berpikir: Ketika AI Menggeser Fungsi Bahasa di Perguruan Tinggi

Editor Redaksi
10 Juli 2026
in Artikel

JurnalPost.com – Dalam beberapa semester terakhir, pemandangan baru mulai muncul di berbagai perguruan tinggi. Sebelum membuka buku, jurnal, atau berdiskusi dengan teman, tidak sedikit mahasiswa yang lebih dulu membuka aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Cukup mengetik satu kalimat perintah, beberapa detik kemudian muncul esai, rangkuman, bahkan kerangka proposal yang siap digunakan. Menulis yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

Fenomena ini bukan sekadar dugaan. UNESCO pada 2025 melaporkan bahwa banyak perguruan tinggi di dunia mulai menyusun pedoman penggunaan AI karena teknologi tersebut telah menjadi bagian dari proses pembelajaran. Di Indonesia pun, sejumlah dosen mengaku mulai menemukan tugas mahasiswa yang secara struktur sangat rapi, tetapi terasa “terlalu sempurna” dan seragam. Persoalannya bukan semata-mata apakah tulisan itu dibuat oleh AI, melainkan apakah mahasiswa benar-benar memahami apa yang mereka kumpulkan.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam cara mahasiswa menghasilkan tulisan. Menulis yang seharusnya menjadi proses berpikir perlahan berubah menjadi proses menyunting hasil yang sudah disediakan mesin. Akibatnya, banyak mahasiswa mampu menghasilkan halaman demi halaman tulisan, tetapi kesulitan menjelaskan isi tulisannya ketika diminta berdiskusi. Mereka dapat menyerahkan laporan yang tampak ilmiah, tetapi bingung saat dosen bertanya mengapa memilih argumen tertentu atau bagaimana kesimpulan itu diperoleh.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama bukanlah keberadaan AI. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia bekerja lebih efektif. Masalah muncul ketika kemudahan itu menggeser proses belajar. Mahasiswa menjadi terbiasa mencari jawaban instan dibandingkan membangun pemahaman secara bertahap. Akhirnya, yang berkembang bukan kemampuan bernalar, melainkan ketergantungan terhadap teknologi.

Ironisnya, kondisi ini terjadi ketika mata kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi masih sering dipandang sebelah mata. Tidak sedikit mahasiswa menganggap mata kuliah tersebut hanya mengulang materi tentang ejaan, tanda baca, atau format penulisan karya ilmiah. Akibatnya, Bahasa Indonesia diperlakukan sebagai mata kuliah pelengkap, bukan sebagai bekal berpikir.

Padahal, fungsi utama bahasa jauh melampaui persoalan tata tulis. Bahasa merupakan alat untuk menyusun logika. Seseorang tidak mungkin mampu menulis argumen yang runtut apabila cara berpikirnya masih meloncat-loncat. Sebaliknya, kemampuan memilih kata, menghubungkan gagasan, dan menarik kesimpulan merupakan cerminan dari proses berpikir yang matang. Dengan kata lain, kualitas bahasa sering kali berjalan beriringan dengan kualitas nalar.

Sayangnya, ruang pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi masih terlalu banyak berkutat pada aspek administratif. Mahasiswa lebih sering diminta menghafal sistematika karya ilmiah daripada diajak mempertanyakan mengapa suatu argumen dapat dianggap kuat atau lemah. Mereka belajar menempatkan titik dan koma dengan benar, tetapi tidak cukup dilatih membangun pendapat berdasarkan data dan penalaran. Akibatnya, ketika teknologi menawarkan jawaban instan, banyak mahasiswa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikirnya sendiri.

Kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang mampu membuat laporan. Seorang insinyur harus dapat menjelaskan hasil perancangannya kepada klien. Dokter harus mampu mengomunikasikan kondisi pasien dengan bahasa yang mudah dipahami. Aparatur sipil negara dituntut menyusun kebijakan yang jelas dan tidak menimbulkan multitafsir. Bahkan pelaku usaha harus mampu meyakinkan investor melalui proposal dan presentasi yang logis. Semua kemampuan itu berakar pada keterampilan berbahasa.

Lebih jauh lagi, derasnya arus informasi di media sosial membuat kemampuan membaca dan menulis secara kritis semakin dibutuhkan. Setiap hari masyarakat dibanjiri potongan video, unggahan singkat, dan informasi yang belum tentu benar. Tidak sedikit orang langsung mempercayai suatu narasi hanya karena disampaikan oleh figur yang memiliki banyak pengikut. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik seharusnya mampu memeriksa kembali informasi tersebut, bukan justru ikut menyebarkannya tanpa proses berpikir. Kemampuan seperti ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dilatih melalui kebiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi secara kritis.

Oleh karena itu, sudah saatnya pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi mengalami perubahan orientasi. Mata kuliah ini tidak cukup hanya mengajarkan kaidah bahasa yang baik dan benar. Mahasiswa perlu lebih sering diberi ruang untuk menulis artikel opini, mengulas isu publik, menyusun argumentasi berdasarkan data, hingga mempertahankan pendapatnya dalam diskusi kelas. Dengan cara seperti itu, mereka belajar bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan banyak kata, melainkan mengolah gagasan menjadi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain, AI tidak perlu dipandang sebagai musuh pendidikan. Menolak teknologi bukanlah solusi yang realistis. Yang lebih penting adalah membangun budaya akademik yang menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Mahasiswa boleh memanfaatkan AI untuk mencari referensi awal, merangkum bacaan, atau memperbaiki tata bahasa. Namun, analisis, argumentasi, dan kesimpulan tetap harus lahir dari hasil pemikirannya sendiri. Dengan demikian, teknologi justru memperkuat proses belajar, bukan melemahkannya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan tinggi hari ini bukanlah bagaimana membuat mahasiswa mampu menghasilkan tulisan lebih cepat, melainkan bagaimana memastikan mereka tetap mampu berpikir secara mandiri di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi. Sebab, esensi sebuah tulisan bukan terletak pada banyaknya paragraf atau indahnya pilihan kata, tetapi pada gagasan yang dibangun melalui proses berpikir yang jujur.

Jika kampus hanya melahirkan lulusan yang pandai menghasilkan teks tanpa memahami isinya, maka pendidikan tinggi telah kehilangan salah satu fungsinya yang paling mendasar. Di era ketika AI mampu menyusun ribuan kata dalam hitungan detik, kemampuan berpikir kritis justru menjadi kompetensi yang paling berharga. Karena itu, pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi tidak boleh lagi dipandang sebagai mata kuliah pelengkap. Ia harus menjadi ruang untuk melatih nalar, membangun argumentasi, dan menjaga agar mahasiswa tidak sekadar mahir menulis, tetapi juga benar-benar mampu berpikir.

Penulis: Marsha Dietra Ginting, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.