
PACET, MOJOKERTO, JurnalPost.com — Sektor pertanian jamur di Desa Pacet, Kabupaten Mojokerto, mulai memasuki babak baru dalam manajemen produksinya. Jika selama bertahun-tahun para petani lokal masih berkutat dengan cara-cara konvensional yang menguras tenaga, kini sentuhan teknologi tepat guna mulai memberikan perubahan nyata. Adalah Siska Sindi Pratama (NBI 1152200409), mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, yang membawa terobosan tersebut melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Inovasi yang diusung adalah sistem penyiraman semi-otomatis berbasis mist irrigation. Proyek ini lahir dari keprihatinan Siska saat melihat para petani jamur harus menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menyiram ribuan baglog jamur secara manual. Padahal, konsistensi kelembapan adalah kunci utama dalam menentukan kualitas panen jamur tiram yang menjadi komoditas unggulan desa ini.
Detail Keberhasilan: Efisiensi dan Akurasi di Lapangan
Setelah melalui fase pemasangan instalasi dan uji coba intensif selama masa KKN, penerapan teknologi ini dinyatakan berhasil sepenuhnya. Keberhasilan tersebut bukan sekadar klaim, melainkan terlihat dari perubahan drastis pada pola operasional harian kumbung (rumah jamur).
Sistem ini bekerja dengan mendistribusikan air melalui jaringan pipa PVC yang telah dilengkapi dengan nozzle spray di setiap titik strategis. Saat sistem diaktifkan, air yang keluar bukan berupa kucuran deras, melainkan partikel kabut halus yang melayang di udara. Berikut adalah beberapa pencapaian teknis yang dirasakan petani:
- Optimalisasi Mikroklimat: Dalam budidaya jamur, kelembapan yang tidak merata sering menjadi masalah. Dengan sistem ini, kelembapan udara di seluruh sudut kumbung dapat terjaga secara stabil di angka 80% hingga 90%. Kabut halus tersebut mampu membasahi permukaan baglog secara tipis dan merata tanpa menyebabkan genangan air yang memicu pembusukan pangkal jamur.
- Efisiensi Waktu yang Signifikan: Jika sebelumnya petani harus memegang selang dan menyemprot satu per satu rak jamur selama 1,5 hingga 2 jam per sesi penyiraman, kini proses tersebut tuntas hanya dalam hitungan menit. Secara akumulasi, efisiensi waktu kerja meningkat lebih dari 70%, sehingga petani memiliki sisa waktu untuk melakukan pengemasan atau pemasaran produk.
- Peningkatan Kualitas Visual Jamur: Hasil panen setelah penggunaan alat ini menunjukkan perbedaan fisik yang cukup kontras. Jamur yang dihasilkan cenderung lebih bersih, berwarna putih cerah, dan tudungnya tidak pecah. Hal ini dikarenakan pasokan air diterima dalam bentuk embun, bukan tekanan air yang kasar dari selang manual.
Proses Pendampingan: Memastikan Keberlanjutan Teknologi
Siska memahami bahwa inovasi teknologi di desa seringkali terhenti karena masalah perawatan. Oleh karena itu, ia memberikan perhatian khusus pada aspek edukasi dan pemberdayaan. Selain memasang unit alat, dilakukan pula serangkaian pendampingan dan pelatihan teknis bagi para anggota kelompok tani.
Pelatihan tersebut meliputi pemahaman dasar mengenai cara kerja pompa, teknik pembersihan filter air untuk mencegah penyumbatan pada nozzle akibat sisa lumut atau pasir, hingga langkah-langkah perbaikan mandiri jika terjadi kebocoran pipa. Siska ingin memastikan bahwa setelah masa KKN-nya berakhir, petani tidak lagi bingung jika alat mengalami kendala teknis sederhana.
“Teknologi ini dirancang sedemikian rupa agar ramah pengguna. Fokus saya bukan cuma alatnya jadi, tapi petaninya bisa pakai dan bisa merawat sendiri. Jika ini berkelanjutan, dampaknya ke ekonomi warga akan sangat terasa dalam jangka panjang,” ujar Siska di sela kegiatannya mendampingi petani.
Harapan Baru bagi Ekonomi Desa
Kehadiran sistem penyiraman semi-otomatis ini membawa angin segar bagi kesejahteraan petani di Desa Pacet. Dengan biaya operasional yang bisa ditekan dan kualitas produk yang meningkat, harga jual jamur di pasaran diharapkan lebih kompetitif.
Pihak pemerintah desa dan kelompok tani memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi mahasiswa UNTAG Surabaya ini. Langkah kecil yang dilakukan di satu kumbung jamur ini diharapkan menjadi contoh bagi petani-petani lain di wilayah Kabupaten Mojokerto untuk mulai berani mengadopsi teknologi tepat guna. Melalui sinergi antara akademisi dan praktisi lapangan, kemandirian pangan dan ekonomi di Desa Pacet kini selangkah lebih maju.

Nama Penulis : Siska Sindi Pratama
Nbi : 1152200409




