• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Mahasiswa dan Side Hustle: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi Modern

Editor Redaksi
16 Juni 2026
in Kolom Opini

Dibuat oleh : Siti Almayda, Isyeu Mulyawati

JurnalPost.com – Di lingkungan kampus saat ini, side hustle bukan lagi hal yang asing. Banyak anak muda yang masih kuliah menjalankan pekerjaan sampingan seperti berjualan online, menjadi freelancer, membuat konten di media sosial, hingga mengikuti program afiliasi. Aktivitas ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kegiatan tambahan.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi yang semakin menekan. Biaya hidup yang terus meningkat membuat uang kiriman dari keluarga atau bantuan beasiswa sering kali tidak cukup. Kos, makan, transportasi, dan kebutuhan perkuliahan menjadi pengeluaran rutin yang harus dipenuhi setiap bulan.

Dalam kondisi seperti itu, pekerjaan sampingan berubah fungsi. Jika dulu side hustle dianggap sebagai sarana menambah pengalaman atau mengisi waktu luang, kini banyak yang menjadikannya sebagai kebutuhan utama untuk bertahan hidup selama masa kuliah.

Ekonomi digital kemudian membuka peluang tersebut. Dengan hanya bermodal ponsel dan akses internet, seseorang bisa menjual produk, menawarkan jasa, atau menjadi bagian dari industri kreatif digital. Platform seperti marketplace dan media sosial membuat proses mencari uang menjadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya.

Namun peluang ini tidak bisa disebut merata. Tidak semua memiliki akses perangkat yang memadai, koneksi internet yang stabil, atau waktu luang yang cukup. Mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik biasanya bisa menggunakan side hustle untuk mengembangkan keterampilan dan menambah pengalaman. Sementara yang lain lebih banyak menggunakannya untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Lama-kelamaan, pekerjaan sampingan ini menjadi sesuatu yang dianggap normal. Di banyak lingkungan kampus, seseorang yang tidak memiliki aktivitas menghasilkan uang sering kali dipandang kurang produktif. Padahal, kondisi ini justru menunjukkan adanya pergeseran nilai: dari fokus pada proses belajar menjadi fokus pada produktivitas ekonomi sejak masih di bangku pendidikan.

Di sisi lain, beban ganda menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Waktu belajar harus dibagi dengan waktu bekerja. Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kelelahan, sulit fokus pada kuliah, atau menunda tugas akademik karena tuntutan pekerjaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa side hustle bukan hanya soal kreativitas atau semangat mandiri generasi muda. Lebih dari itu, ia juga mencerminkan kondisi ekonomi yang memaksa banyak orang untuk mulai bekerja bahkan sebelum benar-benar siap secara akademik maupun mental.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.