
Dibuat oleh : Siti Almayda, Isyeu Mulyawati
JurnalPost.com – Di lingkungan kampus saat ini, side hustle bukan lagi hal yang asing. Banyak anak muda yang masih kuliah menjalankan pekerjaan sampingan seperti berjualan online, menjadi freelancer, membuat konten di media sosial, hingga mengikuti program afiliasi. Aktivitas ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kegiatan tambahan.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi yang semakin menekan. Biaya hidup yang terus meningkat membuat uang kiriman dari keluarga atau bantuan beasiswa sering kali tidak cukup. Kos, makan, transportasi, dan kebutuhan perkuliahan menjadi pengeluaran rutin yang harus dipenuhi setiap bulan.
Dalam kondisi seperti itu, pekerjaan sampingan berubah fungsi. Jika dulu side hustle dianggap sebagai sarana menambah pengalaman atau mengisi waktu luang, kini banyak yang menjadikannya sebagai kebutuhan utama untuk bertahan hidup selama masa kuliah.
Ekonomi digital kemudian membuka peluang tersebut. Dengan hanya bermodal ponsel dan akses internet, seseorang bisa menjual produk, menawarkan jasa, atau menjadi bagian dari industri kreatif digital. Platform seperti marketplace dan media sosial membuat proses mencari uang menjadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
Namun peluang ini tidak bisa disebut merata. Tidak semua memiliki akses perangkat yang memadai, koneksi internet yang stabil, atau waktu luang yang cukup. Mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik biasanya bisa menggunakan side hustle untuk mengembangkan keterampilan dan menambah pengalaman. Sementara yang lain lebih banyak menggunakannya untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
Lama-kelamaan, pekerjaan sampingan ini menjadi sesuatu yang dianggap normal. Di banyak lingkungan kampus, seseorang yang tidak memiliki aktivitas menghasilkan uang sering kali dipandang kurang produktif. Padahal, kondisi ini justru menunjukkan adanya pergeseran nilai: dari fokus pada proses belajar menjadi fokus pada produktivitas ekonomi sejak masih di bangku pendidikan.
Di sisi lain, beban ganda menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Waktu belajar harus dibagi dengan waktu bekerja. Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kelelahan, sulit fokus pada kuliah, atau menunda tugas akademik karena tuntutan pekerjaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa side hustle bukan hanya soal kreativitas atau semangat mandiri generasi muda. Lebih dari itu, ia juga mencerminkan kondisi ekonomi yang memaksa banyak orang untuk mulai bekerja bahkan sebelum benar-benar siap secara akademik maupun mental.



