• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Lobi Senjata di Balik Penembakan Massal di Amerika Serikat

Editor Redaksi
8 Juli 2023
in Kolom Opini

Oleh: Failusufa Azka (Mahasiswi Hubungan Internasional HI UIN Jakarta)

JurnalPost.com – Penembakan massal kembali terjadi di saat momen kemerdekaan Amerika Serikat (AS) yang diperingati tanggal 4 Juli 2023 kemarin. Berdasarkan data dari The Guardian, tercatat sebanyak 16 peristiwa penembakan terjadi sepanjang hari kemerdekaan, terdapat 15 orang korban meninggal dunia dan hampir 100 orang terluka. Liburan yang seharusnya merupakan momen bahagia berubah menjadi insiden yang mengerikan.

Berdasarkan data dari kelompok nirlaba Gun Violence Archive, di tahun 2022 terdapat 647 insiden penembakan massal di Amerika Serikat. Pergantian tahun ternyata tidak menunjukkan perubahan yang berarti bagi penurunan kasus penembakan massal. Amerika Serikat masih menjadi negara dengan peringkat pertama kasus kekerasan bersenjata tertinggi. Tingginya jumlah kasus ini kerap dikaitkan dengan kuatnya lobi senjata di parlemen.

Industri senjata api di Amerika Serikat merupakan bisnis besar di Amerika Serikat, diperkirakan industri senjata api bernilai sekitar $71 miliar dan $7,86 miliar pajak negara bersumber dari industri ini. Jumlah kepemilikan senjata api juga cukup tinggi, per-100 orang penduduk terdapat sekitar 120,5 senjata api. Tingginya angka kepemilikan senjata salah satunya dipengaruhi oleh kemudahan mendapatkan senjata api akibat longgarnya persyaratan kepemilikan senjata api di AS.

Lobi senjata dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mempengaruhi kebijakan negara bagian dan federal tentang senjata, biasanya melalui kandidat pendukung yang telah berjanji menentang langkah-langkah pengendalian senjata. Menurut media Aljazeera, lobi senjata mencakup kontribusi langsung kepada legislator, upaya untuk secara independen mendukung pejabat terpilih, dan kampanye untuk mempengaruhi opini publik tentang isu-isu yang berkaitan dengan senjata api.

Peran kelompok pro-senjata dalam lobi cukup signifikan, bisnis senjata yang strategis menjadikan kelompok ini rela mengeluarkan puluhan juta dolar untuk menggagalkan undang-undang pembatasan senjata. Salah satu kelompok pro-senjata yang terkenal yaitu National Rifle Association (NRA) berdasarkan data dari OpenSecret yang diperoleh Aljazeera, telah mengeluarkan $140 juta sejak tahun 2000 untuk mendukung legislator pro-kepemilikan senjata api.

Sistem politik di Amerika Serikat juga membuat undang-undang pembatasan kepemilikan senjata api sulit untuk lolos. Dua partai besar di AS, Republik dan Demokrat, memiliki pandangan yang berseberangan terkait kepemilikan senjata api. Mayoritas Republikan mendukung adanya kepemilikan senjata api bagi individu dengan alasan peningkatan keamanan, sementara pendukung Demokrat merasa bahwa kepemilikan senjata individu tidak begitu diperlukan.

Anggota kongres Republikan tentunya perlu mempertahankan konstituen yang mayoritas berasal dari negara bagian yang mendukung kepemilikan senjata api. Menurut harian The Atlantic, para senator kebanyakan menggunakan cara filibuster, yaitu memberikan hak veto atas kebijakan nasional kepada minoritas negara bagian yang kebanyakan berkulit putih, berlokasi di pedesaan, dan merupakan pendukung republikan.

Para senator tersebut tentunya memiliki tujuan untuk terpilih kembali pada pemilihan umum berikutnya, dan tidak mungkin bagi mereka untuk mengubah visi dan misinya disaat hanya ada 24% pemilih republikan yang ingin mempersulit pembelian senjata. Dengan lobi dari industri senjata dan kelompok pro-senjata, semakin sulit sepertinya jika mengharapkan undang-undang pembatasan akan segera dikeluarkan.

Survei dari Pew Research Institute tahun 2023 menunjukkan bahwa opini mayoritas publik AS semakin cenderung melihat kekerasan bersenjata sebagai masalah besar di negaranya di samping dukungan politis yang berbeda. Survei ini juga menunjukkan sebanyak 58% responden menunjukkan perlunya aturan kepemilikan senjata yang lebih ketat.

Setiap harinya jumlah warga yang tewas akibat penembakan massal di Amerika Serikat mencapai 120 orang dan lebih dari 200 orang terluka. Publik dibuat semakin waspada terhadap ancaman yang bisa terjadi setiap saat. Biaya yang dikeluarkan negara akibat penembakan massal menurut Every Town Research mencapai $557 miliar setiap tahunnya. Ini angka yang cukup fantastis karena lima kali lebih besar dibandingkan anggaran Pemerintah AS untuk Kementerian Pendidikan.

Pemerintah Amerika Serikat harus mengambil langkah yang lebih serius lagi dalam menyikapi permasalahan penembakan massal. Kebebasan dan kemudahan mendapatkan senjata telah menjadikan situasi semakin kritis. Bila undang-undang pembatasan tidak kunjung disahkan dan pengawasan terhadap kepemilikan senjata tidak diperketat, ini semua membuktikan bahwa isu penembakan massal tidak ditanggapi secara serius oleh pemerintah.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.