• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Live Action Avatar: The Last Air Bender. Pemain Harus Semirip Mungkin Dengan Animasi Aslinya?

Editor Redaksi
30 Maret 2024
in Kolom Opini

Oleh: Losinta Febrinata D.

JurnalPost.com – Bagi penggemar animasi series Avatar, tentunya adaptasi live action Avatar: The Last Air Bender yang tayang di Netflix pada Kamis, 22 Februari kemarin menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu. Live action Avatar: The Last Air Bender memiliki total episode sebanyak 8 episode dengan total penonton mencapai 21,2 juta dalam 4 hari penayangan. Series ini juga berhasil menempati top 10 netflix termasuk di Netflix Indonesia.

Series Avatar: The last air bender sendiri menceritakan mengenai sosok Aang yang diperankan oleh Gordon Cormier. Ia adalah seorang avatar yang telah menghilang selama kurang lebih 100 tahun karena membeku didalam gunung es. Aang merupakan seorang Air Bender atau pengendali udara terakhir yang ada karena kerajaan api telah memusnakan rumah dan anggota klan pengendali udara lainnya demi membunuh sosok avatar baru.

Setelah 100 tahun berlalu, Aang akhirnya ditemukan oleh sepasang saudara dari suku air selatan yakni Katara yang diperankan oleh Kiawentiio dan juga Sokka sang kakak yang diperankan oleh Ian Ousley. Saat Katara dan Sokka menemukan sosok Aang, ternyata pangeran Zuko yang diperankan oleh Dallas Liu ternyata mengetahui hal itu dan memburu Aang sang avatar. Selain itu masih terdapat banyak nama-nama lain yang memerankan tokoh penting dalam series Avatar: The Last Air Bender ini.

Setelah beberapa jam penayangannya, series live action Avatar: The Last Air Bender langsung menimbulkan banyak reaksi dari para penonton, terutama mengenai akting para pemain, sinematografi, hingga kemiripan visualisasi pemain dengan animasi aslinya. Banyak yang memuji akting para pemain yang begitu menjiwai tokoh series avatar, terutama sosok Aang yang diperankan Gordon Cornier dan juga Zuko yang diperankan Dallas Liu. Namun tidak sedikit juga yang menyayangkan mengenai beberapa cast lain, seperti pemeran Katara yang dinilai terlalu ‘kalem’ dan kurang cerewet seperti animasi aslinya, kebiasaannya menjilat bibir yang dirasa penonton terlalu sering juga cukup mengganggu, sampai yang paling banyak diperbincangkan adalah mengenai kurang miripnya visualisasi Putri Azula beserta 2 teman lainnya yaitu Mei dan Ty Lee.

Bagi penikmat karya seni bentuk adaptasi, penonton tentu akan mengharapkan adaptasi live action sebuah karya dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Mulai dari jalan cerita, gambaran latar tempat dan waktu, tata rias dan kostum, CGI atau sinematografi, akting pemain, hingga kemiripan visual animasi dengan visualisasi aktor atau artis yang memerankan tokoh yang ada.

Pada series Avatar: The Last Air Bender, banyak penonton terutama penggemar lama yang sudah menamatkan series avatar mengungkapkan kekecewaannya. Hal ini lebih ke arah menyayangkan mengenai visualisasi para aktris yang dinilai tidak mirip dengan animasi aslinya. Putri Azula yang diperankan oleh Elizabeth Yu, dan dua teman dekatnya yakni Mei yang diperankan oleh Thalia Tran, dan Ty Lee yang diperankan oleh Momona Tamada menjadi fokus penonton karena dirasa merusak gambaran animasi asli tokoh. Penikmat series ini banyak yang mempertanyakan, apakah sang direktor tidak mempertimbangkan mengenai kemiripan visual ketiga tokoh tersebut terutama Putri Azula dan Mei.

Dalam animasi aslinya, Putri Azula merupakan adik Pangeran Zuko yang sama-sama memburu avatar demi bisa mengambil tahta kerajaan api menggantikan sang ayah. Peran Putri Azula seharusnya digambarkan sebagai sosok berbadan kurus dengan karakter angkuh, bengis, serta garang. Selain itu Mei yang merupakan teman Putri Azula digambarkan tidak jauh berbeda dengan representasi etnis tionghoa dengan mata sipit, berkulit putih, dan lebih sering memasang wajah tanpa ekspresi. Sayangnya hal ini tidak didapatkan oleh penonton dalam adaptasi live action Avatar: The Last Air Bender.

Dalam live actionnya, kedua aktris yang memerankan tokoh tersebut dikritik lantaran tidak mempresentasikan sosok animasi aslinya. Putri Azula dan Mei yang seharusnya berbadan kurus, memiliki visualisasi yang berbeda lantaran lebih gemuk dan chubby dalam live action-nya. Banyak yang bertanya-tanya mengapa dua aktris tersebut bisa lolos meski tidak mirip. Hal ini berimbas kepada kehidupan pribadi para pemain yang ikut terkena cipratan bully. Namun meski begitu, banyak juga yang membela dengan opini bahwa akting pemain lebih penting daripada visualisasi. Selama para aktor dan aktris mampu memerankan karakter para tokoh, maka kemiripan bukan lah hal yang penting.

Dengan demikian, setuju kah pembaca bahwa seni adaptasi seharusnya mempertimbangkan visualisasi pemain? Atau visualisasi tidak begitu penting asalkan kemampuan aktris dan aktor cukup mumpuni?

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.