• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kurikulum Merdeka: Jalan Menuju Masa Depan Gembira?

Editor Redaksi
15 Desember 2023
in Kolom Opini

JurnalPost.com – Tidak dapat disanggah Indonesia memiliki banyak perubahan kurikulum dari masa ke masa, yang berawal dari kurikulum 1947 hingga kurikulum Merdeka yang mulai dilaksanakan pada tahun 2022 dan 2023 ini, tetapi sebenarnya apa itu kurikulum?, kurikulum adalah rencana yang memudahkah semua pihak pendidikan agar bisa memberi ilmu, membimbing, dan mendorong potensi anak didik secara maksimal, Nah sedangkan kurikulum Merdeka sendiri adalah kurikulum yang lebih memfokuskan kepada mengembangkan potensi, minat, dan bakat anak didik dengan memberikan mereka kebebasan,dan berfokus pada kreativitas anak yang dibantu dengan pengadaan proyek yang siswa akan kerjakan.

Dikutip dari KEMDIKBUD, “Kurikulum Merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik”.

Kurikulum Merdeka sendiri bertujuan untuk menciptakan masa depan dimana anak didik akan mampu bersaing di tengah maraknya era globalisasai yang memunculkan berbagai teknologi dan informasi yang terus berkembang.

Sekarang kembali ke topik utama, karena Kurikulum Merdeka ini relatif baru digunakan dampaknya Kurikulum sudah terasa kah?, apakah muncul kendala atau permasalahan di pelaksanaan kurikulum ini?, apa solusinya?, apakah akhirnya indonesia menemukan kurikulum yang tepat?

Ada beberapa hal yang pasti, kurikulum merdeka ini masih baru, yang membuat kegiatan belajar mengajar yang masih canggung untuk dijalani, dikarenakan sistem yang masih asing bagi berbagai pihak baik pengajar, murid dan tentunya wali murid.

Untuk para siswa sendiri mengeluh karena banyaknya tugas presentasi, makalah, dan kerja kelompok yang harus mereka kerjakan, tidak hanya itu beberapa dari mereka juga terlihat belum siap untuk menerima tugas seperti membuat makalah dan lain lain yang alhasil membuat rekan satu tim mereka atau mereka semua bekerja dengan asal-asalan. Dalam Kurikulum Merdeka ini siswa kelas 10 tidak dibebani dengan penjurusan langsung, tetapi mereka diberikan kesempatan untuk menemukan minat dan bakat mereka dimana, agar rencananya tidak terjadi yang namanya salah jurusan.

Tidak hanya murid, tetapi guru juga terlihat masih berusaha beradaptasi dan memahami kegiatan pembelajaran di Kurikulum Merdeka, dengan banyaknya tugas baru yang harus diberikan dan dinilai, tidak hanya proyek tetapi banyak dari buku baru merubah materi atau menaruh materi di tempat yang berbeda sehingga para guru harus mempelajari seluruh buku agar paham dengan isi buku baru.

Nah yang terakhir bagi Wali Murid, Wali Murid bertanggung jawab akan perkembangan anak, tidak akan ada lagi stigma di masyarakat bahwa sekolah adalah tempat penitipan anak. Wali Murid harus bisa membimbing dan membantu anak dalam melaksanakan kegiatan kegiatan anak yang mungkin mereka mengalami kesulitan dalam proyeknya, dan mungkin bagi wali murid yang masih tidak terlalu mengerti ini akan menjadi hal yang berat, akan tetapi mereka bisa saling belajar berdampingan dengan sang anak agar sama sama memahami dan menjalin hubungan yang lebih erat.

Untuk solusi bagi berbagai pihak, menurut saya, tidak ada hasil tanpa kerja keras, dalam kasus ini hal yang harus dilakukan adalah membiasakan diri atau beradaptasi, jika kita sudah bisa membiasakan diri dengan keadaan maka kita akan bisa belajar dengan nyaman dan tenang, kerja sama antara semua pihak juga penting, agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar karena semua pihak yaitu siswa, pengajar dan wali murid pasti ingin yang terbaik bagi semua orang dan untuk mencapai hal tersebut semua pihak harus saling mendukung dan percaya satu sama lain. khusus untuk para pembuat, perancang kurikulum alangkah baiknya untuk mengadaptasikan sistem baru kepada para guru dan murid terlebih dahulu supaya kegiatan pembelajaran berjalan lancar.

Kurikulum Merdeka sendiri adalah sistem awal perubahan yang bagus menurut saya, dengan banyak hal baru yang menarik seperti buku pelajaran yang telah dimodifikasi sedemikan rupa sehingga terlihat menarik dan menyediakan banyak kegiatan yang membantu murid untuk belajar, tetapi masih terlalu cepat untuk menyimpulkan apakah kurikulum merdeka ini sudah memenuhi standar bagi masyarakat Indonesia, tetapi dengan awalan yang menarik perhatian banyak orang tidak peduli buruk, baik, terkejut, maupun tidak sabar akan menjadi seperti apa kelanjutan kurikulum merdeka ini, maka tugas kita semua, agar bisa menyukseskan kurikulum ini demi masa depan yang lebih cerah untuk semua orang.

Oleh: Arya Surya Fathana, Universitas Negeri Surabaya

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.