
Oleh Annida Nurul Azizah | Mahasiswa Magister Pengembangan Kurikulum | Universitas Negeri Semarang
“Berganti periode, berganti juga kurikulumnya, padahal pelaksanaannya belum merata.”
“Kenapa harus berubah kurikulumnya? Guru kan jadi kesulitan dengan kurikulum yang terus berubah”
Pernyataan-pernyataan tersebut kerap bermunculan apabila perkembangan kurikulum mulai disosialisasikan. Padahal, sebagai guru atau pelaksana kurikulum itu sendiri harus memahami kurikulum itu diubah atau diperbaiki.
Ilmu pengetahuan terus berkembang maka pendidikan juga harus terus disesuaikan. Guru juga merupakan pembelajar sepanjang hayat. Sebagai guru, ada beberapa penguasaan keterampilan yang menunjang pendidikan inovatif sesuai perkembangan zaman yang harus dimiliki.
1. Kemampuan Literasi Digital
Di era teknologi yang semakin berkembang, kemampuan literasi digital sangat penting untuk dikuasai guru karena pemaknaan bacaan dapat mempengaruhi penyikapan. Artinya, apabila guru tidak mampu menelaah secara kritis apa yang positif dan negatif hal yang ditemukan di media massa atau sosial media, maka akan mempengaruhi juga profesionalisme dalam pembelajaran.
2. Kemampuan Memahami Kurikulum
Guru harus mengikuti perkembangan kurikulum yang berlaku supaya ketercapaian tujuan pendidikan nasional memiliki keselarasan dalam implementasinya di lapangan.
3. Kemampuan Menyusun Rencana Belajar sesuai Pemetaan Kesiapan Peserta Didik
Abad 21 identik dengan Student-center Lerning. Guru sebagai fasilitator pembelajaran yang memfasilitasi pembelajaran sesuai dengan karakteristik, minat, gaya belajar dan kebutuhan belajar siswanya. Hal ini sejalan dengan pemaknaan pendekatan pembelajaran mendalam atau Deep Learning yang menuntut pembelajaran harus bersifat Mindfull, Joyfull dan Meaningfull.
Ki Hadjar Dewantara sendiri mengatakan bahwa pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Perkembangan globalisasi yang pesat dan mempengaruhi kualitas hidup sekarang harus dibekali dengan pendidikan yang menyesuaikan juga.
Kurikulum dipersiapkan untuk kualitas seorang murid di masa depan. Artinya, kurikulum adalah bahan pokok seseorang yang dapat mempengaruhi bagaimana jalan yang akan ditempuhnya menuju hidup yang berkualitas.
Perlu dispesifikkan juga, mengapa kurikulum yang diperbaiki yang memiliki tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dianggap sulit untuk diikuti atau bahkan diterapkan? Apakah pemaknaannya kurang terfasilitasi atau bahkan informasinya sulit diakses?




luar biasa 👍
Artikel opini yang menarik dan informatif, topik yang dibawa juga sangat familier sehingga orang-orang bisa menanggapi, tidak hanya pendidik tetapi juga masyarakat umum.
Namun, judul yang tertera berupa pertanyaan terbuka haruslah diiringi dengan jawaban di akhir/kesimpulan. Artikel ini hanya memuat teori mengenai kompetensi yang perlu dimiliki guru pada abad ke-21 ini, sehingga belum menjawab pertanyaan dari judul itu sendiri.
terimakasih saran dan masukannya, kedepannya akan lebih dispesifikkan mengenai keterkaitan isi dan judul
Menarik, jika kurikulum diperbarui maka jangan hanya tuntut guru untuk mengikuti, tapi fasilitasilah dengan layak. Saya rasa guru-guru tidak keberatan dengan perubahan yang baik, namun lagi-lagi “kelayakan” inilah yang para guru inginkan agar dapat berkembang dg baik.
Setuju, kalau perubahan yang baik dan difasilitasi dengan layak, maka siapa yang akan menolak perbaikan yang bersifat positif tersebut? Sebagai guru tentunya menginginkan pembelajaran yang berhasil (berhasil mencapai pemahaman peserta didik juga berhasil menjadikan diri fasilitator pembelajaran yang inovatif)
Artikel ini sudah menyajikan informasi yang cukup menarik mengenai perkembangan kurikulum dan bagaimana kurikulum terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Penjelasan yang disampaikan juga membantu pembaca memahami bahwa perubahan kurikulum merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam dunia pendidikan.
Namun kembali lagi menyesuaikan dengan judul yang diangkat yaitu “Kurikulum terus berkembang, mengapa dianggap sebagai hambatan?”, saya merasa bagian akhir artikel belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tersebut secara tegas. Akan lebih kuat jika penulis menambahkan kesimpulan yang merangkum alasan utama mengapa perubahan kurikulum sering dipandang sebagai hambatan, sekaligus memberikan sudut pandang atau solusi untuk mengatasinya.
Saya juga izin memberikan sedikit opini saya terkait pertanyaan pada judul artikel ini. Mengapa perkembangan kurikulum dianggap menjadi hambatan :
1. Guru merasa sulit untuk beradaptasi, kurangnya fasilitas pelatihan terhadap perkembangan dari kurikulum tersebut
2 Kesiapan sarana dan prasarana yang masi cukup terbatas, tidak meratanya sarana dan prasana disetiap sekolah
3. Beban administrasi guru meningkat, dengan adanya perkembangan pada kurikulum tentu akan berdampak pada perubahan administrasi guru baik itu Rancangan Pembelajaran atau Format Penilaian yang disesuaikan. Sehingga, disini guru akan dituntut untuk bukan hanya mengajar namun paham akan administrasi lainnya.
Namun secara kesimpulannya pada proses perkembangan zaman ini sangat diperlukan yang namanya sosialisasi karena jika perubahan tidak disertai penjelasan dan pelatihan yang memadai, maka pelaksana di lapangan akan kesulitan memahami tujuan kurikulum tersebut.
Sebagai guru SMP sekaligus mahasiswa S2 pengembangan kurikulum, saya sangat mengapresiasi tulisan ini karena telah menggambarkan urgensi perubahan kurikulum dan pentingnya kesiapan guru dalam menghadapi tuntutan zaman. Penekanan pada literasi digital, pemahaman kurikulum, serta pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sudah sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini, terlebih ketika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang keselarasan pendidikan dengan kodrat alam dan zaman. Menurut saya, tulisan ini dapat menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi guru untuk terus berkembang sebagai pembelajar sepanjang hayat, meskipun tentu ke depan akan semakin kuat jika juga dilengkapi dengan contoh implementasi konkret di lapangan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan.