• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kurikulum dan Pelaksana: Kurikulum terus berkembang mengapa dianggap sebagai hambatan?

Editor Redaksi
9 April 2026
in Kolom Opini

Kurikulum

Oleh Annida Nurul Azizah | Mahasiswa Magister Pengembangan Kurikulum | Universitas Negeri Semarang

“Berganti periode, berganti juga kurikulumnya, padahal pelaksanaannya belum merata.”

“Kenapa harus berubah kurikulumnya? Guru kan jadi kesulitan dengan kurikulum yang terus berubah”

Pernyataan-pernyataan tersebut kerap bermunculan apabila perkembangan kurikulum mulai disosialisasikan. Padahal, sebagai guru atau pelaksana kurikulum itu sendiri harus memahami kurikulum itu diubah atau diperbaiki.

Ilmu pengetahuan terus berkembang maka pendidikan juga harus terus disesuaikan. Guru juga merupakan pembelajar sepanjang hayat. Sebagai guru, ada beberapa penguasaan keterampilan yang menunjang pendidikan inovatif sesuai perkembangan zaman yang harus dimiliki.

1. Kemampuan Literasi Digital
Di era teknologi yang semakin berkembang, kemampuan literasi digital sangat penting untuk dikuasai guru karena pemaknaan bacaan dapat mempengaruhi penyikapan. Artinya, apabila guru tidak mampu menelaah secara kritis apa yang positif dan negatif hal yang ditemukan di media massa atau sosial media, maka akan mempengaruhi juga profesionalisme dalam pembelajaran.

2. Kemampuan Memahami Kurikulum
Guru harus mengikuti perkembangan kurikulum yang berlaku supaya ketercapaian tujuan pendidikan nasional memiliki keselarasan dalam implementasinya di lapangan.

3. Kemampuan Menyusun Rencana Belajar sesuai Pemetaan Kesiapan Peserta Didik
Abad 21 identik dengan Student-center Lerning. Guru sebagai fasilitator pembelajaran yang memfasilitasi pembelajaran sesuai dengan karakteristik, minat, gaya belajar dan kebutuhan belajar siswanya. Hal ini sejalan dengan pemaknaan pendekatan pembelajaran mendalam atau Deep Learning yang menuntut pembelajaran harus bersifat Mindfull, Joyfull dan Meaningfull.

Ki Hadjar Dewantara sendiri mengatakan bahwa pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Perkembangan globalisasi yang pesat dan mempengaruhi kualitas hidup sekarang harus dibekali dengan pendidikan yang menyesuaikan juga.

Kurikulum dipersiapkan untuk kualitas seorang murid di masa depan. Artinya, kurikulum adalah bahan pokok seseorang yang dapat mempengaruhi bagaimana jalan yang akan ditempuhnya menuju hidup yang berkualitas.

Perlu dispesifikkan juga, mengapa kurikulum yang diperbaiki yang memiliki tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dianggap sulit untuk diikuti atau bahkan diterapkan? Apakah pemaknaannya kurang terfasilitasi atau bahkan informasinya sulit diakses?

Tags: Kurikulum
Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Comments 7

  1. Efri says:
    7 bulan yang lalu

    luar biasa 👍

    Reply
  2. Y says:
    7 bulan yang lalu

    Artikel opini yang menarik dan informatif, topik yang dibawa juga sangat familier sehingga orang-orang bisa menanggapi, tidak hanya pendidik tetapi juga masyarakat umum.

    Namun, judul yang tertera berupa pertanyaan terbuka haruslah diiringi dengan jawaban di akhir/kesimpulan. Artikel ini hanya memuat teori mengenai kompetensi yang perlu dimiliki guru pada abad ke-21 ini, sehingga belum menjawab pertanyaan dari judul itu sendiri.

    Reply
    • Annida Nurul says:
      7 bulan yang lalu

      terimakasih saran dan masukannya, kedepannya akan lebih dispesifikkan mengenai keterkaitan isi dan judul

      Reply
  3. Amelia Yosanda says:
    7 bulan yang lalu

    Menarik, jika kurikulum diperbarui maka jangan hanya tuntut guru untuk mengikuti, tapi fasilitasilah dengan layak. Saya rasa guru-guru tidak keberatan dengan perubahan yang baik, namun lagi-lagi “kelayakan” inilah yang para guru inginkan agar dapat berkembang dg baik.

    Reply
    • Annida Nurul says:
      7 bulan yang lalu

      Setuju, kalau perubahan yang baik dan difasilitasi dengan layak, maka siapa yang akan menolak perbaikan yang bersifat positif tersebut? Sebagai guru tentunya menginginkan pembelajaran yang berhasil (berhasil mencapai pemahaman peserta didik juga berhasil menjadikan diri fasilitator pembelajaran yang inovatif)

      Reply
  4. Amalia Rachmah says:
    7 bulan yang lalu

    Artikel ini sudah menyajikan informasi yang cukup menarik mengenai perkembangan kurikulum dan bagaimana kurikulum terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Penjelasan yang disampaikan juga membantu pembaca memahami bahwa perubahan kurikulum merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam dunia pendidikan.

    Namun kembali lagi menyesuaikan dengan judul yang diangkat yaitu “Kurikulum terus berkembang, mengapa dianggap sebagai hambatan?”, saya merasa bagian akhir artikel belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tersebut secara tegas. Akan lebih kuat jika penulis menambahkan kesimpulan yang merangkum alasan utama mengapa perubahan kurikulum sering dipandang sebagai hambatan, sekaligus memberikan sudut pandang atau solusi untuk mengatasinya.

    Saya juga izin memberikan sedikit opini saya terkait pertanyaan pada judul artikel ini. Mengapa perkembangan kurikulum dianggap menjadi hambatan :
    1. Guru merasa sulit untuk beradaptasi, kurangnya fasilitas pelatihan terhadap perkembangan dari kurikulum tersebut
    2 Kesiapan sarana dan prasarana yang masi cukup terbatas, tidak meratanya sarana dan prasana disetiap sekolah
    3. Beban administrasi guru meningkat, dengan adanya perkembangan pada kurikulum tentu akan berdampak pada perubahan administrasi guru baik itu Rancangan Pembelajaran atau Format Penilaian yang disesuaikan. Sehingga, disini guru akan dituntut untuk bukan hanya mengajar namun paham akan administrasi lainnya.

    Namun secara kesimpulannya pada proses perkembangan zaman ini sangat diperlukan yang namanya sosialisasi karena jika perubahan tidak disertai penjelasan dan pelatihan yang memadai, maka pelaksana di lapangan akan kesulitan memahami tujuan kurikulum tersebut.

    Reply
  5. M Ferrari Firmansyah says:
    7 bulan yang lalu

    Sebagai guru SMP sekaligus mahasiswa S2 pengembangan kurikulum, saya sangat mengapresiasi tulisan ini karena telah menggambarkan urgensi perubahan kurikulum dan pentingnya kesiapan guru dalam menghadapi tuntutan zaman. Penekanan pada literasi digital, pemahaman kurikulum, serta pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sudah sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini, terlebih ketika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang keselarasan pendidikan dengan kodrat alam dan zaman. Menurut saya, tulisan ini dapat menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi guru untuk terus berkembang sebagai pembelajar sepanjang hayat, meskipun tentu ke depan akan semakin kuat jika juga dilengkapi dengan contoh implementasi konkret di lapangan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.