• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kurangnya Kemampuan Berbicara Formal Siswa: Tantangan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Editor Redaksi
14 Mei 2026
in Artikel

Oleh: Dian Pratiwi Mustikaningrum

JurnalPost.com – Di tengah upaya peningkatan kualitas pendidikan, ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: rendahnya kemampuan berbicara formal siswa. Fenomena ini tampak jelas di ruang-ruang kelas ketika siswa diminta mempresentasikan ide, terlibat dalam diskusi, atau menyampaikan argumen secara lisan, banyak di antara mereka tidak mampu berbicara secara runtut, logis, dan sesuai kaidah bahasa formal. Ini bukan sekadar persoalan kepercayaan diri, melainkan indikasi adanya kegagalan yang lebih mendasar dalam proses pembelajaran.

Yang menarik, ketidakmampuan ini tidak terjadi dalam komunikasi sehari-hari. Siswa justru sangat aktif berbicara di luar konteks akademik. Mereka terbiasa mengekspresikan diri melalui media sosial dan percakapan informal. Namun, ketika memasuki ruang formal, kemampuan itu seakan hilang. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa sekolah belum berhasil menjembatani kemampuan komunikasi informal menuju komunikasi akademik yang terstruktur.

Perubahan lanskap komunikasi di era digital memperparah situasi ini. Bahasa yang berkembang di media sosial cenderung ringkas, tidak baku, dan sering kali mengabaikan struktur. Ketika pola ini terus-menerus digunakan, siswa kehilangan sensitivitas terhadap penggunaan bahasa formal. Ironisnya, pembelajaran Bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi penyeimbang justru belum mampu menjalankan fungsi tersebut secara optimal. Proses pembelajaran masih didominasi oleh aktivitas membaca dan menulis, sementara latihan berbicara sering kali menjadi pelengkap, bukan prioritas.

Data literasi nasional memperkuat gambaran ini. Skor PISA 2022 menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia berada pada angka 359, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan lemahnya kemampuan memahami dan mengolah informasi. Ketika siswa kesulitan memahami teks, mereka juga akan kesulitan menyusun dan menyampaikan gagasan secara lisan. Dengan kata lain, lemahnya kemampuan berbicara formal tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari masalah literasi yang lebih luas.

Secara teoritis, pembelajaran bahasa menuntut keseimbangan antara empat keterampilan utama: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Namun dalam praktiknya, keseimbangan ini tidak terjadi. Pendekatan humanistik yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif pembelajaran belum sepenuhnya terwujud. Kegiatan yang mendorong siswa untuk berbicara seperti debat, presentasi, dan diskusi masih belum menjadi budaya yang kuat di sekolah.

Kurikulum Merdeka sebenarnya telah membuka ruang untuk perubahan. Penekanan pada kompetensi abad ke-21, khususnya komunikasi dan berpikir kritis, menunjukkan arah yang progresif. Namun, kebijakan tanpa implementasi yang konsisten hanya akan menjadi wacana. Di banyak kelas, metode pembelajaran masih konvensional, minim interaksi, dan belum memberi ruang cukup bagi siswa untuk melatih kemampuan berbicara secara nyata.

Dalam konteks ini, saya melihat persoalan utamanya bukan terletak pada kemampuan siswa, melainkan pada desain pembelajaran yang belum memberi ruang praktik yang memadai. Kemampuan berbicara tidak bisa dibentuk melalui teori semata; ia membutuhkan latihan yang berulang dan lingkungan yang mendukung. Tanpa itu, siswa akan terus berada dalam lingkaran pasif mampu memahami, tetapi tidak mampu mengungkapkan.

Karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia perlu mengalami pergeseran yang lebih berani. Kegiatan berbicara harus ditempatkan sebagai inti, bukan pelengkap. Diskusi kelas, presentasi, debat, hingga proyek berbasis komunikasi perlu menjadi bagian rutin, bukan sekadar variasi sesekali. Selain itu, teknologi digital yang selama ini dianggap sebagai penyebab justru dapat dimanfaatkan sebagai solusi melalui pembuatan konten video, podcast, atau presentasi digital yang relevan dengan dunia siswa.

Lebih dari itu, sekolah perlu membangun budaya komunikasi akademik yang hidup. Siswa harus dibiasakan untuk menyampaikan pendapat, mengkritisi ide, dan berdialog secara terbuka. Tanpa budaya tersebut, keterampilan berbicara akan selalu menjadi sesuatu yang asing dan menakutkan.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang kemampuan berbicara, tetapi tentang kemampuan berpikir dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Jika sekolah gagal melatih siswa untuk menyampaikan gagasan secara jelas dan kritis, maka pendidikan kehilangan salah satu fungsinya yang paling esensial. Di titik inilah, pembelajaran Bahasa Indonesia perlu direfleksikan Kembali bukan hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai fondasi kemampuan berpikir dan berkomunikasi di masa depan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.