• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Krisis Pangan Tidak Datang Saat Makanan Habis, Tapi Saat Tidak Ada yang Mampu Membelinya

Editor Redaksi
9 Juni 2026
in Kolom Opini

Krisis Pangan

Penulis    : Muhammad Hafizh Zaidan Ardiansyah

Coba bayangkan situasi ini.

Anda pergi ke pasar atau membuka aplikasi belanja bahan makanan seperti biasa. Beras masih tersedia. Telur masih ada. Sayur dan bahan pokok lain tetap tersusun rapi. Tidak ada antrean panjang, tidak ada rak kosong, dan sekilas tidak ada tanda bahwa sedang terjadi krisis pangan.

Namun ketika mulai menghitung total belanja, Anda perlahan menghapus beberapa barang dari daftar. Buah dibatalkan. Lauk dikurangi. Sayuran dipilih yang paling murah. Pada akhirnya Anda tetap pulang membawa makanan—tetapi tidak lagi seperti yang sebenarnya dibutuhkan.

Lalu muncul pertanyaan yang jarang kita pikirkan: apakah kondisi seperti ini belum bisa disebut krisis pangan?

Selama ini, banyak orang membayangkan krisis pangan sebagai kondisi ekstrem: gagal panen, kelangkaan bahan pokok, atau tidak adanya makanan yang tersedia. Padahal, dalam banyak kasus saat ini, krisis pangan tidak selalu datang karena pangan benar-benar habis. Justru persoalan yang lebih sering terjadi adalah makanan tetap tersedia, tetapi sebagian masyarakat tidak lagi mampu menjangkaunya.

Fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pasar tetap buka, distribusi berjalan, dan stok bahan pangan masih tersedia. Namun kenaikan harga beras, telur, minyak, sayur, atau sumber protein membuat sebagian rumah tangga mulai mengurangi jumlah pembelian, mengganti bahan pangan bergizi dengan pilihan yang lebih murah, atau menyesuaikan pola makan agar pengeluaran tetap terkendali.

Di titik inilah persoalannya berubah. Bukan lagi sekadar tentang ada atau tidaknya makanan, tetapi tentang siapa yang masih mampu mengaksesnya.

Ketika Produksi Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Jawaban

Selama bertahun-tahun, peningkatan produksi sering dianggap sebagai solusi utama untuk menjamin ketahanan pangan. Pendekatan ini memang penting karena produksi menjadi fondasi sistem pangan. Namun, produksi yang tinggi tidak otomatis membuat seluruh masyarakat berada dalam kondisi aman.

Ketahanan pangan sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang ketersediaan (availability), tetapi juga mencakup akses (access), pemanfaatan (utilization), dan stabilitas (stability). Artinya, sebuah negara dapat menghasilkan pangan dalam jumlah besar, tetapi tetap menghadapi kerentanan apabila masyarakat tidak mampu memperoleh pangan yang layak.

Bayangkan suatu daerah memiliki pasokan pangan yang cukup, tetapi harga komoditas meningkat lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat. Secara teknis pangan tersedia, tetapi secara nyata tidak semua orang mampu membelinya.

Akibatnya, rumah tangga mulai melakukan penyesuaian yang tampak kecil tetapi berdampak besar. Protein hewani mulai dikurangi. Buah dan sayuran tidak lagi dibeli secara rutin. Pilihan makanan bergeser menjadi yang lebih murah dan lebih mengenyangkan.

Perubahan seperti ini sering tidak terlihat sebagai krisis karena masyarakat masih makan setiap hari. Namun dalam jangka panjang, dampaknya dapat muncul dalam bentuk menurunnya kualitas gizi, meningkatnya risiko kekurangan zat gizi tertentu, menurunnya produktivitas, hingga munculnya berbagai masalah kesehatan.

Dengan kata lain, kenyang belum tentu berarti tahan pangan.

Mengapa Daya Beli Menjadi Faktor Penentu?

Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, daya beli menjadi salah satu penentu utama kemampuan rumah tangga mempertahankan pola konsumsi yang sehat.

Ketika harga pangan meningkat, langkah pertama yang biasanya dilakukan bukan berhenti makan, melainkan menyesuaikan kualitas konsumsi. Lauk berprotein diganti dengan makanan yang lebih murah. Variasi menu berkurang. Porsi tertentu dikurangi secara perlahan.

Perubahan ini sering dianggap sebagai bentuk adaptasi biasa. Namun jika berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat menjadi lebih luas daripada sekadar perubahan menu harian.

Konsumsi yang kurang berkualitas berpotensi memengaruhi kesehatan, menurunkan produktivitas, dan pada akhirnya kembali memengaruhi kondisi ekonomi keluarga. Terbentuklah lingkaran yang sulit diputus: pendapatan terbatas menurunkan kualitas konsumsi, dan kualitas konsumsi yang menurun dapat memengaruhi kemampuan untuk mempertahankan pendapatan.

Di sisi lain, pola konsumsi masyarakat modern juga ikut berperan. Kemudahan membeli makanan siap saji dan kebiasaan konsumsi impulsif sering membuat pengeluaran pangan menjadi kurang terencana. Tidak jarang anggaran habis untuk produk yang praktis tetapi kurang bernilai gizi, sementara kebutuhan pangan pokok justru terabaikan.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, petani, atau pelaku industri. Rumah tangga juga memiliki peran penting dalam membangun sistem pangan yang lebih kuat dari tingkat paling dasar.

Pertama, mulai merencanakan belanja pangan.

Menyusun daftar kebutuhan mingguan dan menentukan prioritas dapat membantu mengurangi pembelian impulsif dan pemborosan.

Kedua, utamakan kualitas sebelum kuantitas.

Menu bergizi tidak selalu identik dengan harga mahal. Telur, tempe, tahu, ikan lokal, dan kacang-kacangan tetap dapat menjadi sumber zat gizi yang baik dengan biaya yang lebih terjangkau.

Ketiga, terapkan diversifikasi pangan.

Ketergantungan pada satu jenis bahan pangan membuat rumah tangga lebih rentan terhadap perubahan harga. Variasi sumber karbohidrat, protein, dan sayuran dapat membantu menjaga kualitas konsumsi.

Keempat, kurangi limbah makanan.

Membeli sesuai kebutuhan, menyimpan bahan dengan benar, dan memanfaatkan sisa makanan secara optimal dapat membantu menghemat pengeluaran sekaligus mengurangi tekanan terhadap sistem pangan.

Kelima, bangun literasi pangan dalam keluarga.

Kemampuan memahami harga, kandungan gizi, dan cara memilih bahan pangan yang efisien menjadi keterampilan yang semakin penting di masa sekarang.

Krisis pangan saat ini tidak selalu ditandai dengan kosongnya lumbung atau berhentinya produksi. Dalam banyak situasi, krisis justru muncul ketika makanan masih tersedia tetapi semakin sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat.

Karena itu, ketahanan pangan tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan menghasilkan lebih banyak pangan, melainkan juga memastikan setiap orang memiliki kemampuan untuk mengakses pangan yang cukup, aman, dan bergizi.

Pada akhirnya, isi piring masyarakat tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh daya beli, pola konsumsi, dan keputusan sehari-hari yang dilakukan di tingkat rumah tangga.

Dan mungkin, pertanyaan paling penting bukan lagi “Apakah makanan masih tersedia?”, melainkan:

“Apakah semua orang masih mampu mendapatkannya?”

Penulis    : Muhammad Hafizh Zaidan Ardiansyah
Jurusan  Teknologi Pangan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.