Oleh : Ari Sanjaya
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Aulia Rahmi, S.Pd., M.Pd.
Semester Genap, Tahun Ajaran 2025-2026
JurnalPost.com – Kemajuan teknologi digital semestinya memperkuat literasi kesehatan masyarakat. Namun yang terjadi justru sebaliknya: derasnya arus informasi tidak selalu diikuti meningkatnya kepercayaan terhadap kesehatan masyarakat. Situasi ini harus menjadi perhatian kita bersama karna dalam beberapa tahun terakhir, kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi cenderung menurun. Fenomena ini bukan sekadar persoalan komunikasi, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
Data memperlihatkan bahwa pada April 2025 mencatat cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia yang sempat melampaui 94 persen pada 2022, turun menjadi sekitar 87 persen pada 2024. Anggota DPR RI, Vita Ervina, mengingatkan bahwa penurunan ini berpotensi mengancam kesehatan anak jika tidak segera direspons secara serius. Penurunan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Analisis Radio Republik Indonesia (RRI) pada 2025 menempatkannya dalam konteks yang lebih luas, yakni ketahanan sistem kesehatan. Munculnya kembali penyakit menular di sejumlah daerah menjadi penanda lemahnya perlindungan kolektif. Dalam kerangka ini, imunisasi bukan sekadar program rutinitas tahunan, melainkan fondasi kesehatan masyarakat.
Salah satu pemicu utama situasi ini adalah melimpahnya media informasi di ruang digital. Klarifikasi resmi pemerintah pada 2025 membantah klaim bahwa vaksin Pfizer berbahaya bagi bayi yang disusui. Informasi tersebut dinyatakan sebagai hoaks dan tidak memiliki dasar ilmiah. Namun, dalam praktiknya, konten semacam ini justru lebih cepat menyebar di kalangan masyarakat yang membuat masyarakat enggan untuk melakukan vaksinasi.
Di era digital, konten yang ramai kerap lebih dipercaya, dibandingkan dengan kebenaran dari informasi yang disampaikan. Akibatnya, persepsi publik terhadap vaksinasi lebih banyak dibentuk oleh apa yang viral, bukan oleh bukti ilmiah. Di titik inilah krisis vaksinasi berhubungan erat dengan krisis kepercayaan.
Krisis yang kita alami sekarang tidak berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh rendahnya literasi digital, cara penyampaian informasi kesehatan belum bisa menyesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini, serta belum optimalnya kehadiran otoritas sebagai sumber informasi terpercaya. Ketika informasi yang benar tidak disampaikan secara efektif, maka ruang publik dengan mudah diisi oleh konten yang tidak memiliki kejelasan dan kebenaran terhadap informasi yang didapatkan.
Dampaknya, Penurunan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi membuka peluang munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, seperti campak, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit lain. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membebani layanan kesehatan dan melemahnya sistem kesehatan nasional.
Karena itu, upaya membangun kembali kepercayaan masyarakat menjadi perhatian penuh. Pemerintah perlu memperkuat komunikasi kesehatan yang transparan, konsisten, dan berbasis bukti. Edukasi harus menyesuaikan dengan kondisi masyarakat dan memanfaatkan platform digital yang dekat dengan masyarakat. Tenaga kesehatan perlu berperan aktif sebagai rujukan utama yang valid, sementara media massa harus menjaga akurasi agar tidak turut menyebarkan informasi yang tidak benar.
Pada akhirnya, vaksinasi bukan semata tentang kesehatan saja, melainkan soal kepercayaan. Tanpa adanya kepercayaan, program sebaik apapun sulit mencapai hasil optimal. Di era digital saat ini, menjaga kepercayaan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk melindungi kesehatan masyarakat.



