
Penulis :
1. Marsye M.L Runtuwene
2. Victoria Laira
3. Rietma Danti Ayuningtyas
Organisasi : Universitas Teknologi Yogyakarta
JurnalPost.com – Somalia kembali menghadapi ancaman krisis kemanusiaan serius pada 2025. Pemerintah Somalia bersama sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sekitar 4,4 juta warga berisiko mengalami kelaparan akut akibat kekeringan berkepanjangan, konflik bersenjata, dan tingginya harga pangan. Kondisi ini diperkirakan memburuk pada periode April hingga Juni 2025 apabila curah hujan tetap rendah dan bantuan internasional tidak meningkat. Krisis tersebut menjadikan Somalia sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim di Afrika Timur. Situasi ini juga menarik perhatian komunitas internasional karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Somalia, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan.
Kekeringan yang melanda Somalia terjadi akibat menurunnya curah hujan dalam beberapa musim terakhir. Kondisi tersebut menyebabkan hasil panen menurun dan mengurangi ketersediaan sumber air bagi masyarakat. Pada saat yang sama, konflik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah menghambat distribusi bantuan kemanusiaan dan aktivitas ekonomi lokal. Kombinasi antara faktor iklim dan konflik membuat masyarakat semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar mereka. Akibatnya, jutaan warga berada dalam kondisi rawan pangan dan membutuhkan bantuan darurat.Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 3,4 juta orang telah berada dalam kondisi kerawanan pangan akut, dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 4,4 juta orang selama periode April hingga Juni 2025 apabila kondisi cuaca dan pendanaan bantuan internasional tidak membaik.
Kelompok yang paling terdampak adalah petani kecil, penggembala ternak, serta masyarakat yang tinggal di kamp pengungsian internal. Banyak keluarga kehilangan mata pencaharian karena ternak mati dan lahan pertanian tidak lagi produktif. Sebagian warga terpaksa menjual aset yang mereka miliki untuk membeli makanan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena menghadapi risiko malnutrisi yang tinggi. Lembaga kemanusiaan memperkirakan sekitar 1,7 juta anak di bawah usia lima tahun berpotensi mengalami malnutrisi akut sepanjang tahun 2025.Anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak dalam krisis ini. Badan PBB memperkirakan sekitar 1,7 juta anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami malnutrisi akut sepanjang 2025, dengan lebih dari 466 ribu anak berada dalam kondisi malnutrisi akut berat yang berpotensi mengancam nyawa.
Krisis yang terjadi di Somalia tidak dapat dipandang sebagai masalah domestik semata. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim telah menjadi isu global yang memengaruhi berbagai negara, terutama negara berkembang yang memiliki kapasitas adaptasi terbatas. Dampak kekeringan yang berkepanjangan dapat memicu migrasi penduduk ke wilayah lain untuk mencari sumber pangan dan penghidupan yang lebih layak. Perpindahan penduduk dalam jumlah besar berpotensi menciptakan tekanan sosial dan ekonomi di negara-negara tetangga.
Oleh karena itu, krisis Somalia memiliki konsekuensi yang melampaui batas negara dan menjadi perhatian komunitas internasional.Krisis Somalia menunjukkan bagaimana perubahan iklim kini tidak lagi sekadar menjadi isu lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan kemanusiaan dan keamanan internasional. Ketika masyarakat kehilangan akses terhadap pangan, air bersih, dan mata pencaharian, maka stabilitas sosial dan ekonomi suatu negara juga ikut terancam. Melalui perspektif Human Security, krisis Somalia menunjukkan bahwa keamanan internasional abad ke-21 tidak lagi hanya berkaitan dengan perang dan militer. Ancaman non-tradisional seperti perubahan iklim, kemiskinan, kelaparan, dan krisis kesehatan dapat menjadi ancaman yang sama seriusnya terhadap kehidupan manusia.



