
Oleh: Leli Kudriyati Nisa
JurnalPost.com – Sudah tidak asing lagi jika krisis identitas etnis dan dampaknya terhadap integrasi antargenerasi menjadi topik yang semakin mengkhawatirkan di zaman modem. Krisis identitas etnis adalah keadaan kebingungan atau runtuhnya tradisi budaya dan identitas yang mendasari identitas nasional suatu negara atau bangsa (Kartono et al, 2023).
Tanpa integrasi antar bangsa, masyarakat saat ini tidak memiliki landasan yang kuat bagi perdamaian, stabilitas dan kemajuan bersama, Integrasi bangsa-bangsa memainkan peranan penting dalam mendorong kerja sama lintas batas di berbagai bidang kehidupan, termasuk bisnis, politik, budaya dan lingkungan, Ketika integrasi antaretnis terhambat oleh krisis identitas etriis, maka terjadilah isolasi antaretnis yang dapat menimbulkan konflik, ketegangan, dan disintegrasi sosial. Tanpa kerja sama yang kuat antar negara, maka masyarakat dunia akan sulit menangani permasalahan tersebut secara efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, integrasi internasional merupakan prasyarat untuk menciptakan masyarakat global yang berkelanjutan, inklusif, dan damai di zaman modern.
Menurut saya selaku generasi milenial, ada banyak faktor yang mempengaruhi krisis identitas saat ini, diantaranya yaitu globalisasi. Globalisasi telah menciptakan perpaduan budaya yang kompleks yang mengaburkan batas-batas identitas etnis, sehingga membuat individu terpapar pada budaya dan nilai-nilai yang berbeda. Dengan adanya globalisasi, banyak orang di seluruh dunia mengalami perubahan dalam identitas budayanya (Januarharyono, 2019). Contohnya, kaum muda d negara maju mungkin mengalami konflik internal antara identitas budaya tradisional yang diperoleh keluarga dan komunitas lokal mereka dan budaya populer global yang mereka kenali melalui media sosial, film, dan musik. Contoh kasus nyata lainnya yaitu seperti di Indonesia dalam kasus Jakarta dan Makassar, Studi ini menunjukkan bahwa gesekan antara globalisasi dan identitas menciptakan konflik dan kekerasan. Terdapat kontradiksi antara nilai-nilai global yang dibawa oleh para kapitalis hutan dengan konvensi lokal yang dibawa oleh suku Meratus di dalam hutan sehingga mengubah identitas suku Meratus. Kajian fundamentalisme juga menjelaskan reaksi dan perlawanan terhadap modernisme yang didasari oleh nilai-nilai agama, yang juga ditemukan dalam kajian kekerasan identitas.
Migrasi massal menyulitkan individu untuk menavigasi antara identitas aslinya dan integrasi ke dalam budaya baru, terutama di tengah diskriminasi atau ketidaksetaraan. Contoh migrasi massal adalah diaspora Rohingya, yang melarikan
diri dari konflik di Myanmar dan menetap di negara tetangga seperti Bangladesh. Rohingya dipicu oleh diskriminasi sistematis yang dilakukan pemerintah Myanmar, dengan perkiraan 3.000 imigran Rohingya mengalami migrasi massal. Selama pemerintahan Inggris di Myanmar, terjadi migrasi besar-besaran dari India dan Bangladesh ke negara tersebut, yang kemudian dianggap ilegal oleh penduduk asli Myanmar dan ditolak kewarganegaraan Rohingya. Pengungsi Rohingya menghadapi masalah identitas di mana mereka harus mempertahankan identitas etnis dan budaya Rohingya dengan berintegrasi ke dalam masyarakat tuan rumah yang berbeda secara budaya (Pertiwi, 2021).
Konflik etnis yang berkepanjangan memperburuk krisis identitas etnis, menyebabkan kerugian sosial dan psikologis yang serius, terutama terhadap kelompok minoritas yang terpinggirkan. Dalam konteks ini, krisis identitas etnis bukan hanya merupakan permasalahan individu, namun juga mencerminkan semakin besarnya ketegangan dan konflik di masyarakat, yang memerlukan pendekatan komprehensif dan kolaboratif untuk menyelesaikannya. Konflik etnis antara kelompok Dinka dan Nuer di Sudan Selatan adalah contoh nyata bagaimana konflik bersenjata dapat mempengaruhi identitas etnis. Konflik ini telah menyebabkan jutaan orang mengungsi, menimbulkan trauma dan penderitaan yang mendalam, serta merusak struktur sosial dan identitas etnis.
Dengan demikian, krisis identitas etnis mempunyai implikasi penting terhadap integrasi antaretnis kontemporer melalui beberapa mekanisme. Pertama, krisis dapat memicu polarisasi masyarakat, memperkuat batas-batas antar kelompok etnis, sehingga mempersulit integrasi. Kedua, ketidakamanan terhadap identitas etnis dapat memicu konflik etnis akibat persaingan sumber daya, kekhawatiran akan hilangnya identitas atau ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial. Terakhir, krisis identitas etnis dapat mengurangi keragaman budaya suatu masyarakat melalui hilangnya adat istiadat, bahasa, dan tradisi etnis yang unik.
Politik identitas yang mengedepankan identitas agama secara kompak juga memberikan ancaman yang sangat besar (Wahyono et al, 2018) Saat ini, ada kelompok yang mulai mempertanyakan ideologi bangsa yang dapat mengancam keutuhan bangsa. Selain itu, generasi milenial masih muda untuk mencerna dan memahami secara matang dan sehat, identitas dipolitisasi melalui penafsiran yang berbeda dan ekstrim yang bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari generasi milenial yang merasa sama dan tentang ras, etnis, agama, atau elemen menular lainnya.
Indonesia saat ini sedang mengalami krisis identitas, untuk mengatasinya kita harus menyadari bahwa Tuhan menciptakan setiap bangsa dengan kekhasan dan jati dirinya masing-masing. Kita harus memahami bahwa bangsa Indonesia mempunyai keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Dalam dunia pendidikan sendiri diperlukan pendidikan kewarganegaraan yang harus diajarkan sejak dini, agar anak bangsa dapat lebih memahami jati diri bangsanya, sehingga tidak terpengaruh oleh pihak luar. Budaya datang ke indonesia. Siswa tidak hanya mempelajari teori pendidikan kewarganegaraan (CIT), tetapi juga harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar juga harus berpegang teguh pada Pancasila sebagai identitas suatu bangsa dan pedoman hidup suatu bangsa.
Dengan demikian, Krisis identitas etnis merupakan isu yang semakin mengkhawatirkan dalam konteks globalisasi, memicu konflik internal individu dan perselisihan antarkelompok Dampaknya meliputi polarisasi masyarakat, konflik etnis, dan hilangnya keragaman budaya. Politisasi identitas agama juga mengancam keutuhan bangsa. Untuk mengatasi krisis ini, penting untuk memahami dan menghargai keunikan setiap bangsa serta memberikan pendidikan kewarganegaraan yang memperkuat pemahaman identitas nasional dari usia dini.
Penulis: Leli Kudriyati Nisa
Mahasiswi Semester 4 Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial
IAIN Syekh Nurjati Cirebon
REFERENSI
Januarharyono, Y. (2019), Peran pemuda di era globalisasi. Jurnal Ilmiah Magister Ilmu Administrasi, 13(1).
Kartono, D. T., Zuber, A, Budi, A. C., & Wilujeng, P. R. (2023). Identity and Socio-cultural Crisis in Industrial Cities: A Study on Workers in Jakarta and Makassar, Indonesia, Society, 11(1) 95-105. https://doi.org /10.33019/society.v1111.440
Pertiwi, Y. 1. (2021). Upaya Sekuritisasi Pemerintah Bangladesh Terhadap Keberadaan Pengungsi Rohingya, Nation State. Journal of International Studies, 4(1), 93-116. https://doi.org/ 10.24076/nsjis.v4i1.460
Wahyono, E, Kusuma, Y. P., & Hamidi. (2018). Nasionalisme dan Identitas Etnisitas: Memahami Problematika Identitas Keetnisan dan Keindonesiaan dalam Demokrasi. Prosiding Seminar Nasional Prodi Ilmu Pemerintahan, 83-88.



