• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kontes Detoks Digital: Membangun Perubahan untuk Hidup Bebas dari Dunia Digital

Editor Redaksi
6 Maret 2024
in Kolom Opini

Oleh: Ivani Valerine Silalahi (Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB
University)

JurnalPost.com – Manusia adalah makhluk sosial artinya manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Manusia akan berfungsi dengan baik ketika orang lain memberikan feedback atau rasa kenyamanan. Apabila tidak memiliki sosok yang bisa diandalkan, pengganti yang bisa memenuhi sosok tersebut pada zaman sekarang ini adalah ponsel. Pada zaman sekarang, handphone sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Setiap jam bahkan setiap menit, manusia terlihat sangat terikat erat.

Handphone membawa banyak perubahan dan hal-hal positif, tergantung penggunanya. Tetapi penggunaan handphone secara positif hanya 20 persen saja, sisanya digunakan untuk hal-hal yang negatif. Penggunaan handphone secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan handphone seperti, menggunakan sambil cas, baterai sering cepat habis, dan lain-lain.

Nomophobia adalah rasa takut jika berada jauh dari smartphone, nomophobia biasa dialami bagi seseorang yang tidak terhubung dengan ponsel. Ketika seseorang sudah mengalami nomophobia, mereka akan mengalami insomnia (sulit tidur). Untuk mengurangi dan mencegah hal-hal ini terjadi pada seorang remaja, sebuah perusahaan yoghurt di New York mengadakan Detox Digital yang berguna untuk membimbing masyarakat menuju perubahan positif dan mengajak mereka untuk menilai manfaat dari hidup bebas digital.

Handphone dapat mengganggu kesehatan

Faktanya, rata-rata orang menghabiskan waktunya sebanyak 8-10 jam di ponsel dalam sehari. Handphone juga dapat mengganggu kesehatan jika digunakan secara berlebihan, dilansir dari www.sehatq.com, salah satu dampak negatif untuk kesehatan yaitu memicu sakit mata, mengganggu siklus tidur, memicu sakit leher, meningkatkan risiko tertular infeksi hingga meningkatkan risiko kanker. Keseringan bermain handphone bisa mengalami kecanduan yang berpengaruh pada kesehatan mental.

Dilansir dari Indonesiabaik.id, hasil survei penggunaan TIK serta implikasinya terhadap aspek sosial budaya di Indonesia menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia sudah memiliki smartphone. Jumlahnya hampir mencapai 2/3 dari total penduduk Indonesia bahkan dua kali lipat dibandingkan dengan yang tidak memiliki smartphone.

Perusahaan Siggi’s Menawarkan Uang Tunai

Siggi’s Dairy adalah sebuah perusahaan yang menjual yoghurt secara lokal di New York, sebelum diluncurkan di toko Whole Foods Market di seluruh Amerika Serikat pada tahun 2008. Yang didirikan oleh warga Islandia Siggi’s Hilmarsson pada tahun 2006. Perusahaan asal Islandia ini, menawarkan uang 10.000 dollar AS atau sekitar Rp 158 juta bagi seseorang yang tertarik tidak menggunakan ponsel selama sebulan atau 30 hari. Selain uang tunai, pemenang detoks digital juga berhak mendapatkan ponsel flip kuno, kotak kunci smartphone, kartu sim prabayar selama satu bulan dan yoghurt siggi’s selama 3 bulan.

Pendaftaran program detoks digital dimulai 17 Januari 2024 – 31 Januari 2024 dan setiap pendaftar juga diwajibkan menulis esai sepanjang 100-500 kata yang berisi alasan dan dan dampak positif dari digital detox yang selaras dengan filosofi Siggi’s, yaitu live simple and less sets your free. Kontes detoks digital dibuka tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Namun terdapat beberapa syarat bagi seseorang yang mengikuti tantangan detoks digital 30 hari seperti, penduduk di 50 negara bagian Amerika Serikat, termasuk District of Columbia, peserta yang mendaftar berusia 18 tahun ke atas dan peserta wajib tinggal di lokasi dengan akses internet.

Kontes Detoks Digital

Detoks digital (digital detox) adalah momen saat seseorang memutuskan tidak menggunakan perangkat teknologi (smartphone, laptop, dan jenis gadget lainnya) untuk sementara waktu. Siggi’s mengatakan salah satu distraksi terbesar dalam hidup ini adalah penggunaan handphone. Maka dari itu, Siggi’s membuat program ‘digital detox’ bernama “Dry January”. Perusahaan yoghurt ini juga meyakini bahwa dengan mengurangi gangguan digital terutama dari perangkat handphone dapat membawa kehidupan yang lebih memuaskan.

Siggi’s menyampaikan bahwa tantangan detoks digital ini bertujuan untuk menunjukkan manfaat detoks digital dan memulai kebiasaan baru bagi orang-orang dan membantu masyarakat kembali ke hal-hal dasar, seperti menggunakan ponsel lipat. “Kami percaya pada kekuatan menjalani hidup lebih sederhana dengan lebih sedikit gangguan. salah satu gangguan terbesar dalam hidup kita saat ini adalah ponsel,” dikutip dari laman resminya.

Handphone adalah bentuk dari teknologi digital yang mempunyai fungsi banyak bagi kehidupan sehari-hari manusia. Handphone juga memiliki dampak positif dan negatifnya. Walaupun dampak negatifnya lebih dominan dibandingkan dampak positifnya dari segi kesehatan. Program detoks digital yang diadakan oleh perusahaan Siggi’s, sangat baik untuk diadakan agar penduduknya tidak selalu bergantung pada ponsel dan agar dapat memulai kehidupan yang sederhana dan lebih memuaskan. Gen Z adalah penerus bangsa yang seharusnya dapat lebih bijak lagi dalam menggunakan ponsel. Untuk meningkatkan kesehatan remaja, kita dapat mengurangi atau membatasi waktu layar pada ponsel kita. Banyak hal baik yang dapat kita lakukan sebagai remaja, tanpa harus menggunakan ponsel.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.