
Oleh: Fahriza Fattah | Ilmu Komunikasi
JurnalPost.com – Pada 25 Mei 2026, lebih dari 85 persen remaja Indonesia menggunakan media sosial selama empat hingga enam jam setiap hari. Angka ini lebih dari sekadar statistik; hal tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda berinteraksi dan tumbuh dalam dunia digital yang terus berubah. Para peneliti komunikasi menganggap perubahan yang tidak terlihat ini sebagai salah satu perubahan sosial terbesar dalam sejarah komunikasi manusia.
Situs web seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp kini bukan hanya menjadi media hiburan. Ketiganya telah berfungsi sebagai ruang utama bagi remaja untuk berinteraksi, menyampaikan pendapat, membangun identitas diri, dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Dalam sepuluh tahun terakhir, media sosial berkembang jauh melampaui fungsi rekreasinya. Kini, media sosial menjadi infrastruktur komunikasi yang mendukung hampir seluruh aspek kehidupan sosial remaja, mulai dari mengatur belajar kelompok, menjalin hubungan pertemanan, hingga berekspresi di ruang publik digital.
Salah satu perubahan terbesar yang disebabkan oleh media sosial adalah pergeseran dari komunikasi sinkron menjadi komunikasi asinkron. Jika sebelumnya kedua pihak harus hadir pada waktu yang sama untuk berkomunikasi, kini percakapan dapat dilakukan kapan saja tanpa batasan waktu maupun tempat. Meski fleksibilitas ini disukai banyak orang, kondisi tersebut juga melahirkan kebiasaan komunikasi yang cepat dan singkat. Singkatan, slang digital, dan emoji kini mendominasi percakapan sehari-hari remaja. Walaupun dianggap praktis, kebiasaan ini berpotensi menurunkan kemampuan penggunaan bahasa yang baik dan efektif, terutama dalam konteks formal seperti penulisan akademik dan komunikasi profesional.
Di sisi lain, media sosial terbukti membantu remaja memperluas komunikasi mereka. Batas geografis yang dahulu menjadi hambatan kini hampir tidak terasa lagi. Remaja dari Sabang hingga Merauke, bahkan dari berbagai negara di dunia, dapat berinteraksi dan berbagi ide hanya dalam hitungan detik. Hal ini memperluas pemahaman mereka terhadap berbagai isu pendidikan, sosial, dan budaya. Selain itu, media sosial juga membuka peluang kerja sama yang sebelumnya sulit dibayangkan, seperti diskusi lintas daerah dan kolaborasi proyek kreatif antarpelajar.
Beberapa remaja bahkan menjadikan media sosial sebagai tempat pertama untuk berani menyampaikan pendapat. Remaja yang biasanya pendiam atau kurang percaya diri saat berbicara secara langsung sering kali merasa lebih nyaman berkomunikasi di balik layar. Mereka dapat mengekspresikan ide melalui tulisan, konten, maupun komentar yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung. Fenomena ini sejalan dengan teori Uses and Gratifications, yang menyatakan bahwa individu secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya, termasuk kebutuhan akan pengakuan dan ekspresi diri.
Namun, di balik berbagai keuntungan tersebut, para ahli komunikasi mulai menyoroti sejumlah dampak negatif. Ketergantungan berlebihan pada komunikasi digital dinilai memengaruhi kemampuan nonverbal remaja, padahal aspek tersebut sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Kontak mata, bahasa tubuh, intonasi suara, dan ekspresi wajah tidak dapat sepenuhnya ditampilkan melalui layar ponsel. Akibatnya, kemampuan membaca dan merespons sinyal nonverbal secara perlahan mengalami penurunan seiring semakin dominannya interaksi digital.
Fenomena phubbing juga memperparah kondisi ini. Istilah tersebut merujuk pada kebiasaan mengabaikan lawan bicara karena terlalu fokus pada ponsel. Fenomena ini semakin sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari remaja. Ironisnya, teknologi yang seharusnya mendekatkan justru kerap menciptakan jarak sosial. Meja makan keluarga maupun bangku kelas yang semestinya menjadi ruang interaksi langsung sering berubah menjadi tempat di mana setiap orang sibuk dengan dunia digitalnya masing-masing.
Para pakar sepakat bahwa media sosial bukanlah ancaman, melainkan alat yang sangat bergantung pada cara penggunaannya. Oleh karena itu, literasi digital yang kuat menjadi hal penting agar remaja mampu memanfaatkan platform digital secara konstruktif tanpa kehilangan kemampuan komunikasi langsung. Dalam perspektif ilmu komunikasi, yang paling penting bukanlah seberapa sering seseorang menggunakan media sosial, melainkan seberapa baik ia mampu menyeimbangkan komunikasi digital dengan komunikasi tatap muka. Sebab, secanggih apa pun teknologi berkembang, percakapan langsung yang nyata tetap tidak dapat sepenuhnya tergantikan.
Artikel ini merupakan tugas mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi.



