• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Komunikasi Pariwisata di Era Disrupsi Digital: Studi Kontekstual Kampung Heritage Kajoetangan, Malang

Editor Redaksi
30 Juni 2026
in Kolom Opini

Oleh: Jerryco Candra Satria Utama

JurnalPost.com Perubahan teknologi digital telah membawa transformasi besar dalam pola komunikasi manusia, termasuk pada sektor pariwisata. Era disrupsi ditandai oleh percepatan arus informasi, dominasi media digital, serta perubahan perilaku audiens yang semakin mengandalkan platform daring dalam mencari, menilai, dan memutuskan destinasi wisata. Dalam konteks ini, komunikasi pariwisata tidak lagi bersifat konvensional, melainkan berkembang menjadi sistem yang dinamis, interaktif, dan berbasis visual digital.

Kampung Heritage Kajoetangan di Kota Malang menjadi salah satu ruang wisata yang relevan untuk melihat dinamika tersebut. Kawasan ini memiliki kekayaan sejarah berupa bangunan kolonial, lorong permukiman lama, serta identitas budaya masyarakat yang masih terjaga. Namun, di tengah kompetisi destinasi wisata yang semakin ketat, potensi tersebut membutuhkan penguatan melalui strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter masyarakat digital.

Kegiatan observasi lapangan yang melibatkan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menjadikan Kampung Heritage Kajoetangan sebagai lokasi praktikum mata kuliah Komunikasi Pariwisata pada pertengahan Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya melakukan pengamatan, tetapi juga terlibat dalam proses dokumentasi, analisis daya tarik wisata, serta produksi konten komunikasi berbasis digital yang relevan dengan kebutuhan audiens masa kini.

Dosen pengampu mata kuliah, Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., menekankan bahwa tantangan utama komunikasi pariwisata di era disrupsi terletak pada kemampuan mengemas nilai sejarah menjadi pesan yang mudah dipahami dan menarik bagi generasi digital. Menurutnya, kekuatan destinasi heritage tidak hanya berada pada aspek fisik, tetapi juga pada bagaimana cerita dan identitasnya dikomunikasikan secara kreatif melalui media yang tepat.

Dalam praktiknya, mahasiswa mengembangkan berbagai bentuk konten digital seperti video pendek, fotografi naratif, dan infografis yang menampilkan sejarah serta daya tarik Kampung Heritage Kajoetangan. Pendekatan ini mencerminkan perubahan pola komunikasi pariwisata dari media satu arah menjadi komunikasi partisipatif yang memungkinkan audiens turut terlibat dalam penyebaran pesan.

Jerryco Candra S.U., mencatat bahwa perubahan perilaku wisatawan di era digital sangat dipengaruhi oleh media sosial sebagai sumber utama informasi. Audiens cenderung mempercayai visualisasi pengalaman nyata yang dibagikan pengguna lain dibandingkan promosi formal. Oleh karena itu, strategi komunikasi pariwisata perlu menekankan aspek storytelling, autentisitas, dan kedekatan emosional dengan calon wisatawan.

Melalui media digital, Kampung Heritage Kajoetangan memiliki peluang besar untuk dikenal lebih luas, tidak hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga nasional hingga internasional. Distribusi informasi yang cepat melalui platform digital menjadikan destinasi ini lebih mudah diakses dan dipahami, sekaligus memperkuat citra sebagai kawasan wisata sejarah yang hidup dan relevan.
Namun, era disrupsi juga menghadirkan tantangan berupa tingginya kompetisi perhatian di ruang digital. Banyaknya konten yang beredar menuntut destinasi wisata untuk memiliki strategi komunikasi yang konsisten, kreatif, dan adaptif. Tanpa pendekatan tersebut, potensi wisata yang dimiliki dapat tergerus oleh arus informasi yang sangat cepat berubah.

Kampung Heritage Kajoetangan menunjukkan bahwa sinergi antara teknologi digital, akademisi, dan masyarakat lokal dapat menjadi fondasi penting dalam pengembangan komunikasi pariwisata modern. Kolaborasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai upaya pelestarian nilai sejarah melalui media yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pada akhirnya, komunikasi pariwisata di era disrupsi tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada pembentukan pemahaman dan apresiasi terhadap nilai budaya yang dimiliki sebuah destinasi. Kampung Heritage Kajoetangan di Malang menjadi contoh nyata bagaimana warisan sejarah dapat tetap eksis dan bermakna ketika dikomunikasikan secara strategis melalui media digital yang adaptif dan berkelanjutan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.