
Penulis: Nahnu Fitria Nurul Hayati Basuki
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
JurnalPost – Media populer telah lama menjadi sarana untuk mengkritik kinerja dan kebobrokan pemegang kuasa. Salah satunya adalah film terbaru dari Netflix berjudul Good News (2025). Film bergenre black comedy ini menceritakan perjuangan KCIA dan militer Korea Selatan dalam menghadapi pembajakan pesawat Jepang yang akan direncanakan untuk mendarat di Pyongyang. Konflik dalam alur cerita berfokus pada pertentangan birokrasi dan ketegangan situasi dengan bumbu komedi gelap.
Dengan mengambil latar tahun 70an, film ini mengisahkan tentang pembajakan pesawat penumpang Jepang oleh Red Army Fraction yang merupakan kelompok komunis sayap kiri yang menentang kapitalisme. Kelompok tersebut meminta pilot untuk membawa pesawat ke bandara Pyongyang, Korea Utara. Namun, ketiadaan hubungan diplomatik antara Jepang dan Korea Utara menyebabkan adanya kendala dalam proses pendaratan. Kendala inilah yang kemudian mengakibatkan kekacauan situasi. Di tengah situasi inilah seorang lelaki misterius, Mr. Nobody, dipanggil untuk melakukan operasi penyelamatan dengan melibatkan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat. Dengan menyoroti kekacauan dalam sistem birokrasi, ketegangan dihadirkan dalam bentuk satir politik yang menghibur.
Film Good News (2025) tidak hanya membahas mengenai upaya penyelamatan dan perjuangan pembajakan pesawat, melainkan juga propaganda dan produksi kebeneran dalam media. Pembahasan mengenai propaganda dan kekuasaan dalam film ini dapat dihubungkan dengan pandangan Diskursus dan Kekuasaan menurut Michel Foucault. Menurut Foucault, kekuasaan bukan sesuatu yang dipegang, melainkan sebuah relasi yang menyebar dan bekerja melalui diskursus (Foucault, 2021). Diskursus dibangun di atas asumsi-asumsi luas yang menjadi ciri khas dialog antaranggota kelompok tertentu atau pada momen sejarah tertentu (Kurniawan,
2023). Dalam film ini, diskursus keamanan nasional dan kebutuhan akan ‘berita baik’ untuk kepentingan politik digunakan oleh KCIA dan para pejabat untuk membenarkan keputusankeputusan yang absurd dan penuh manipulasi.
Selain itu, film ini berfokus pada sosok Mr. Nobody yang merepresentasikan kekuasaan anonim dan keahlian khusus danbekerja di luar birokrasi formal. Kekuasaan yang ia miliki berasal dari pengetahuan dan kemampuan bertindak yang memungkinkan untuk mengontrol ‘berita baik’ di lapangan. Hal ini membuktikan bahwa kekuasaan yang sebenarnya seringkali menyebar melalui individu yang memiliki akses ke sebuah diskursus tertentu.
Secara garis besar, film ini merupakan suatu bentuk kritik satir terhadap bagaimana kekuasaan negara berusaha untuk membentuk ‘kebenaran’ agar sesuai dengan narasi yang diinginkan, serta memaksakan ‘kebenaran’ yang sudah direkayasa kepada publik. Film Good News (2025) dijadikan sebagai cerminan terhadap struktur kekuasaan yang kaku dan ideologi yang mengutamakan citra negara di atas kemanusiaan. Struktur kekuasaan yang ditampilkan adalah birokrasi yang lumpuh dan tidak jelas, di mana kekuasaan untuk menunda dan berdebat menjadi lebih didahulukan dan dianggap lebih mendesak daripada kekuasaan untuk bertindak cepat dan etis.
Inti dari cerminan ideologis pada film ini adalah obsesi terhadap ‘berita baik’. Ideologi ini memiliki pengaruh yang sangat kuat yang kemudian menyebabkan para pejabat dan semua yang terlibat membenarkan tindakan yang paling ekstrem, seperti merekayasa seluruh bandara dan mempertaruhkan nyawa sandera, hanya untuk menciptakan narasi penyelamatan yang sempurna dan mencegah kekalahan simbolis. Film ini secara satir menunjukkan bahwa dalamkondisi krisis politik propaganda dan citra telah menggantikan kebenaran yang sesunggugnya sebagai tujuan tertinggi dari struktur kekuasaan.
Sumber:
Foucault, M. (2021). Kekuasaan, Pengetahuan, dan Hegemoni Bahasa dalam Perspektif Michele Foucault dan Francis Bacon 1. 4(1), 33–43.
Kurniawan, R. (2023). Konsep Diskursus dalam Karya Michel Foucault. 6(1), 21–28.
https://rri.co.id/hiburan/1911443/tayang-di-netflix-intip-sinopsis-film-good-news



