
Jepara, 14 Juli 2026, JurnalPost.com— Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU 39 melaksanakan kegiatan edukasi dan pendampingan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Songgo Langit, Desa Bucu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara sebagai upaya mengoptimalkan pengelolaan usaha peternakan ayam petelur agar lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan memberikan berbagai materi yang berkaitan langsung dengan pengelolaan peternakan ayam petelur. Materi yang diberikan meliputi biosecurity, animal welfare, penanganan stres pada ayam, peningkatan palatabilitas dan efisiensi pakan, pengaturan pencahayaan, grading telur, pengolahan limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik, recording pembiayaan dan produksi, digital marketing, analisis HPP dan BEP, branding produk, serta edukasi legalitas usaha dan perpajakan UMKM.
Meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas Peternakan
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya biosecurity sebagai langkah untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit, menjaga kesehatan ayam, mempertahankan produksi serta kualitas telur, dan mengurangi risiko kerugian. Selain itu, penerapan prinsip animal welfare juga ditekankan agar ayam mendapatkan pakan dan air yang cukup, lingkungan yang nyaman, serta perlakuan yang baik.
Aspek efisiensi pakan menjadi salah satu perhatian utama karena pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha ayam petelur, yakni sekitar 60–70% dari total biaya produksi. Oleh karena itu, pengaturan kualitas, palatabilitas, interval pemberian, serta penggunaan pakan yang tepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya usaha.
Selain aspek teknis peternakan, kegiatan juga membekali KWT dengan kemampuan melakukan recording produksi dan keuangan. Pencatatan secara rutin dapat membantu peternak mengetahui pemasukan dan pengeluaran, memantau arus kas, mengontrol konsumsi pakan, memantau kesehatan ayam, serta menjadi dasar dalam mengambil keputusan usaha.
Berdasarkan Hasil Evaluasi Lapangan
Berdasarkan data operasional yang tercantum dalam materi kegiatan, peternakan KWT Putri Songgo Langit memiliki 550 ekor ayam dengan produksi telur sekitar 27 kg per hari. Harga jual telur tercatat sebesar Rp24.000/kg, dengan kebutuhan pakan sekitar 70 kg per hari.
Hasil analisis menunjukkan bahwa harga jual telur sebesar Rp24.000/kg berada di atas Harga Pokok Produksi (HPP) sebesar Rp23.034/kg, sehingga terdapat surplus margin sebesar Rp966/kg. Produksi aktual juga mencapai sekitar 810 kg per bulan, lebih tinggi dibandingkan titik impas atau Break-Even Point (BEP) sebesar 629 kg per bulan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa usaha peternakan memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Namun, efisiensi pakan tetap menjadi fokus utama karena biaya pakan mendominasi pengeluaran usaha. Pengelolaan pakan yang lebih presisi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperbaiki profitabilitas peternakan.
Pengembangan Produk dan Pemasaran
Tidak hanya berfokus pada produksi telur, KKNT IDBU 39 juga mendorong pengembangan potensi lain dari peternakan melalui pengolahan limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik padat (POP). Produk tersebut kemudian diberikan pemahaman mengenai branding, mulai dari penentuan nama merek, tagline, logo, hingga desain kemasan. Salah satu contoh identitas produk yang diperkenalkan adalah “BC-Organic” dengan tagline “Dari Kandang, Suburkan Ladang”.
Dalam aspek pemasaran, peserta juga diperkenalkan dengan strategi digital marketing melalui WhatsApp Business, Facebook, Instagram, TikTok, dan Google Maps. Pemanfaatan platform digital tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar, mengurangi ketergantungan terhadap pengepul, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta mempermudah komunikasi dan pemesanan produk.
Menuju Usaha Peternakan yang Berkelanjutan
Melalui kegiatan ini, KKNT IDBU 39 berupaya memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan oleh KWT Putri Songgo Langit dalam kegiatan peternakan sehari-hari. Pendekatan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi telur, tetapi juga mencakup efisiensi biaya, pencatatan usaha, pemanfaatan limbah, pemasaran, branding, hingga pemahaman legalitas usaha dan perpajakan UMKM.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi KWT Putri Songgo Langit untuk mengembangkan usaha peternakan ayam petelur yang semakin efisien, memiliki daya saing, mampu memanfaatkan potensi limbah menjadi produk bernilai ekonomi, serta berkelanjutan di masa mendatang.




