• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kewajiban Belajar Bahasa Indonesia: Upaya Menjaga Bahasa Nasional atau Penghambat Pembelajaran Mahasiswa?

Editor Redaksi
8 Juli 2026
in Kolom Opini

Belajar Bahasa Indonesia

Ditulis Oleh: Raisha Laura Irdina

JurnalPost.com – Mata kuliah Bahasa Indonesia sering kali menjadi mata kuliah wajib yang harus diambil setiap mahasiswa di semua perguruan tinggi di indonesia. tanpa memandang program studi yang diambil tiap mahasiswa. Kebijakan ini sempat menjadi perdebatan. Bagi beberapa orang, kewajiban tersebut merupakan bentuk nyata penjagaan bahasa nasional sekaligus mempertegas identitas bangsa. Namun, ada beberapa mahasiswa yang menganggap mata kuliah Bahasa Indonesia menambah beban perkuliahan karena materi yang diberikan sering kali sudah dipelajari sejak sekolah. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kewajiban belajar Bahasa Indonesia benar-benar diperlukan, atau justru menjadi penghambat dalam progres pembelajaran mahasiswa?

Menurut saya, mata kuliah wajib Bahasa Indonesia pada perguruan tinggi tetap memiliki landasan yang kuat. Namun, perlu dikaji bagaimana mata kuliah tersebut diajarkan agar benar-benar memberikan manfaat bagi mahasiswa.

Anggapan bahwa Bahasa Indonesia tak perlu dipelajari di perguruan tinggi  muncul karena banyaknya mahasiswa yang merasa telah menguasai bahasa tersebut sejak kecil. Banyak dari mereka yang menggunakan Bahasa Indonesia setiap hari untuk berkomunikasi, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun kanal media sosial. Karena hal tersebut, sebagian mahasiswa menganggap mata kuliah Bahasa Indonesia hanya sebuah pengulangan materi yang tidak memberikan tantangan baru.

Akan tetapi, penggunaan Bahasa Indonesia dalam konteks kehidupan sehari-hari berbeda dengan penggunaan Bahasa Indonesia dalam konteks perguruan tinggi. Pada perguruan tinggi, mahasiswa dituntut untuk mampu menyusun karya ilmiah, membuat laporan penelitian, menulis artikel, sampai menyampaikan argumentasi secara logis. Kemampuan tersebut sering kali tidak dimiliki hanya karena mahasiwa tersebut dapat berbicara Bahasa Indonesia. Karya tulis ilmiah membutuhkan ketelitian, ketepatan pemilihan kata, serta kemampuan penyampaian gagasan secara runtut agar hasil tulisannya bisa diterima di kancah akademik.

Bagi banyak mahasiswa, kemampuan tersebut akan selalu digunakan selama masa studi mereka. setiap mata kuliah memberikan tugas dalam bentuk makalah, laporan, maupun esai. pada akhir masa studi pun, seluruh mahasiswa diwajibkan menyusun skripsi yang menggunakan Bahasa Indonesia. Jikalau kemampuan menulis akademik tidak dilatih sejak awal perkuliahan, mahasiswa seringkali mengalami kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas mereka.

Selain dalam mendukung proses akademik, kewajiban belajar Bahasa Indonesia memiliki makna yang jauh lebih luas, yaitu menjaga identitas bangsa. Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi salah satu unsur pemersatu bangsa yang terdiri dari ratusan suku dan bahasa daerah. Semenjak lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928, Bahasa Indonesia sudah menjadi simbol persatuan yang menjadikan masyarakat dari berbagai latar belakang dapat saling memahami satu sama lain. Oleh karena itu, menjaga kualitas penggunaan Bahasa Indonesia juga berarti menjaga fondasi penting kehidupan bangsa.

Akan tetapi, tidak dipungkiri bahwa globalisasi membuat penguasaan bahasa asing semakin diminati. Banyak referensi akademik, jurnal internasional, hingga peluang pekerjaan yang menuntut kemampuan berbahasa Inggris, bahasa internasional. Hal ini membuat sebagian mahasiswa merasa bahwa mempelajari Bahasa Indonesia sebaiknya dialihkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan dunia pekerjaan.

Pandangan tersebut sangat dapat dipahami. Namun, menurut saya, persoalannya bukan berarti Bahasa Indonesia kehilangan urgensinya. Justru kemampuan berbahasa Indonesia dan bahasa asing seharusnya saling melengkapi, bukan dipertentangkan. Mahasiswa yang mampu menggunakan berbagai bahasa dengan baik akan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih luas. Mereka dapat memahami literatur internasional sekaligus menyampaikan argumentasi mereka dalam bahasa indonesia secara jelas dan mudah dipahami.

Meskipun demikian, perdebatan terhadap mata kuliah Bahasa Indonesia juga tidak boleh didiamkan. Penyebab munculnya anggapan bahwa mata kuliah ini membosankan adalah salah satunya karena metode pembelajarannya yang kadang masih terlalu fokus pada teori kebahasaan atau pada hafalan kaidah bahasa. Akibatnya, banyak mahasiswa yang sulit melihat hubungan antara materi yang dipelajari dengan kebutuhan mereka nanti di dunia akademik maupun dunia kerja.

Menurut saya, mata kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi perlu lebih banyak diarahkan pada praktik. Mahasiswa bisa dilatih dalam menulis artikel opini, policy brief, karya ilmiah, maupun melakukan presentasi argumentatif sesuai dengan bidang studinya masing-masing. pendekatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memahami aturan bahasa, tetapi juga mampu menggunakan bahasa indonesia sebagai alat untuk berpikir kritis dan menyampaikan argumentasi mereka.

Selain itu, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Saat ini, berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan mampu membantu seseorang menyusun tulisan dalam waktu singkat. Kemudahan tersebut tentu memberikan manfaat, tetapi juga berpotensi membuat mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi tanpa benar-benar memahami penyusunan argumen yang baik. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia justru semakin penting agar mahasiswa tetap memiliki kemampuan berpikir kritis, menulis, dan mengembangkan gagasan secara mandiri.

Pada akhirnya, kewajiban belajar Bahasa Indonesia di perguruan tinggi bukanlah sebuah penghambat pembelajaran mahasiswa. Yang menjadi isu adalah apabila proses pembelajarannya tidak bisa menyesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa sekarang. Mata kuliah Bahasa Indonesia seharusnya tidak hanya mengajarkan aturan tata bahasa, tetapi juga melatih mahasiswa untuk berpikir kritis, berargumentasi secara logis, serta menghasilkan tulisan yang berkualitas.

Dengan demikian, kewajiban mempelajari Bahasa Indonesia tetap layak dipertahankan sebagai bagian dari pendidikan tinggi di Indonesia. Di satu sisi, mata kuliah ini membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik yang akan digunakan sepanjang masa studi dan karir mereka. Di sisi lain, pembelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi salah satu bentuk menjaga identitas nasional di tengah derasnya arus globalisasi. Yang perlu terus diperbaiki bukanlah keberadaan mata kuliahnya, melainkan cara mengajarkannya agar lebih relevan, aplikatif, dan mampu menjawab kebutuhan mahasiswa di era modern.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.