• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ketika Humor Menyatukan Perbedaan: Komunikasi Antarbudaya dalam Konten Kreator Lintas Etnis di Media Sosial

Editor Redaksi
24 Juli 2026
in Artikel

Oleh: SYAHLA NADIACHITA
Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid

JurnalPost.com – Pernah tertawa melihat video pasangan beda suku yang saling menirukan logat, atau konten keluarga lintas etnis yang memperdebatkan kebiasaan makan, tradisi, hingga cara memanggil orang tua? Bagi sebagian orang, konten seperti ini mungkin hanya dianggap sebagai hiburan yang lewat di beranda media sosial. Namun, di balik candaan yang disajikan, terdapat proses komunikasi antarbudaya yang mempertemukan berbagai latar belakang budaya dalam ruang digital. Perbedaan yang sebelumnya terasa asing pun menjadi lebih mudah dipahami melalui cerita-cerita sederhana yang dekat dengan pengalaman kehidupan sehari-hari.

Fenomena tersebut semakin mudah ditemukan seiring meningkatnya jumlah kreator konten yang mengangkat pengalaman lintas etnis sebagai bagian dari identitas dan cerita mereka. Beragam konten yang menampilkan perbedaan logat, kebiasaan keluarga, hingga tradisi daerah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang memisahkan, melainkan menjadi bahan cerita yang menghibur sekaligus mengundang rasa ingin tahu. Di sisi lain, tingginya penggunaan media sosial membuat penyebaran konten semacam ini berlangsung sangat cepat dan menjangkau audiens dari berbagai daerah dengan latar budaya yang beragam. Perkembangan media sosial menjadikannya tidak sekadar tempat berbagi informasi maupun hiburan, namun juga menjadi ruang komunikasi yang mempertemukan berbagai identitas budaya. Pandangan ini sejalan dengan Cheong, Martin, dan Macfadyen (2012) yang menjelaskan bahwa media baru telah memperluas ruang interaksi sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi antarbudaya dalam kehidupan sehari-hari. Laporan Digital 2025 yang diterbitkan We Are Social dan Meltwater juga menunjukkan bahwa tingginya intensitas penggunaan media sosial semakin membuka peluang terjadinya pertukaran informasi, pengalaman, dan nilai budaya di ruang digital.

Salah satu pendekatan yang paling sering digunakan kreator untuk menyampaikan keberagaman budaya adalah humor. Dibandingkan penyampaian yang bersifat formal, humor mampu menghadirkan suasana komunikasi yang lebih santai sehingga audiens lebih mudah menerima perbedaan tanpa merasa sedang diberi pelajaran mengenai keberagaman. Berangkat dari fenomena tersebut, artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana humor dalam konten kreator lintas etnis berperan sebagai media komunikasi antarbudaya, khususnya dalam memperkenalkan keberagaman budaya, mendorong proses adaptasi, serta menumbuhkan pemahaman bersama di antara individu yang berasal dari beragam latar budaya.

Humor Membuat Perbedaan Terasa Lebih Dekat

Humor menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam memperkenalkan keberagaman budaya karena mampu menyampaikan perbedaan melalui cara yang ringan dan mudah dipahami. Dalam konten kreator lintas etnis, berbagai kebiasaan, logat, tradisi keluarga, hingga cara berinteraksi sehari-hari sering diangkat menjadi cerita yang menghibur tanpa menghilangkan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Penyampaian seperti ini membuat audiens lebih mudah menerima keberagaman sebagai sesuatu yang wajar, bukan sebagai perbedaan yang harus dipertentangkan.

Pendekatan tersebut juga mengubah cara masyarakat memandang komunikasi antarbudaya. Alih-alih disampaikan melalui penjelasan yang formal, pesan mengenai keberagaman hadir dalam bentuk cerita yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Situasi ini membuat audiens tidak merasa sedang menerima materi edukasi, tetapi tetap memperoleh pemahaman baru mengenai nilai, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat dari latar budaya yang berbeda. Tidak sedikit pula penonton yang kemudian terdorong untuk membandingkan pengalaman mereka dengan pengalaman yang ditampilkan dalam konten, sehingga muncul rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap budaya lain. Hasil penelitian Fitri dan Yuliana (2024) juga mendukung temuan tersebut. Mereka menegaskan bahwa komunikasi antarbudaya berkontribusi dalam menumbuhkan pemahaman sekaligus sikap saling menghormati di antara individu yang berasal dari latar etnis yang beragam. Meskipun penelitian tersebut dilakukan dalam konteks mahasiswa, hasilnya memperlihatkan bahwa interaksi sehari-hari menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat hubungan antarbudaya.

Interaksi yang tercipta tidak berhenti pada tayangan video. Kolom komentar sering berkembang menjadi ruang percakapan yang dipenuhi berbagai pengalaman pribadi, mulai dari kisah hidup saat menikah dengan pasangan beda suku hingga pengalaman beradaptasi di lingkungan yang memiliki budaya yang berbeda. Pertukaran pengalaman tersebut menunjukkan bahwa humor memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menghibur. Humor juga dapat menciptakan suasana yang mendorong percakapan lebih terbuka di antara pengguna media sosial. Fenomena ini sejalan dengan pandangan Baldwin et al. (2023) yang menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya berkembang melalui interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman terhadap budaya lain tidak hanya dibentuk melalui penyampaian informasi, tetapi juga melalui proses berbagi pengalaman, membangun makna bersama, dan menjalin hubungan dengan individu dari latar budaya yang berbeda. Di media sosial, humor menjadi salah satu bentuk komunikasi yang mampu menghadirkan proses tersebut secara lebih natural sehingga keberagaman dapat diterima tanpa terkesan menggurui audiens.

Adaptasi Budaya Bukan Berarti Kehilangan Identitas

Interaksi dengan budaya yang berbeda sering kali dipandang sebagai tantangan karena setiap individu membawa kebiasaan, nilai, dan cara berkomunikasi yang dibentuk oleh lingkungan tempat mereka dibesarkan. Namun, dalam kehidupan yang semakin multikultural, perbedaan tersebut tidak selalu menjadi penghalang. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas cara pandang sekaligus membangun pemahaman terhadap budaya lain. Konten kreator lintas etnis di media sosial memperlihatkan bahwa keberagaman dapat hadir secara alami dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus menghilangkan identitas budaya yang dimiliki.

Proses adaptasi yang ditampilkan para kreator juga terasa dekat dengan pengalaman banyak orang. Adaptasi budaya bukanlah proses menghilangkan jati diri, melainkan upaya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sambil tetap mempertahankan identitas budaya yang dimiliki. Proses tersebut sering kali dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memahami istilah yang belum pernah didengar, mengenal tradisi keluarga pasangan, menyesuaikan cara berkomunikasi, atau menghargai kebiasaan yang berlaku di lingkungan yang berbeda. Meskipun tampak sederhana, pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun rasa saling menghargai dan saling memahami.

Pengalaman serupa juga banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Tidak sedikit pasangan dari latar suku yang berbeda membagikan cerita mengenai proses menyesuaikan diri dengan tradisi keluarga masing-masing, sementara sebagian lainnya menceritakan pengalaman beradaptasi ketika merantau atau tinggal di lingkungan yang multikultural. Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa adaptasi tidak menuntut seseorang meninggalkan identitas budayanya, tetapi mendorong terciptanya keseimbangan antara mempertahankan jati diri dan menghargai budaya orang lain. Dengan demikian, proses adaptasi menjadi ruang belajar untuk membangun hubungan yang lebih harmonis di tengah keberagaman.

Pandangan tersebut sejalan dengan Jandt (2020) yang menjelaskan bahwa adaptasi lintas budaya merupakan proses penyesuaian yang memungkinkan individu berinteraksi secara efektif tanpa harus melepaskan identitas budaya yang dimilikinya. Adaptasi bukanlah proses menyeragamkan perbedaan, melainkan membangun kemampuan untuk hidup berdampingan melalui sikap terbuka, saling menghargai, dan kesediaan memahami perspektif budaya lain. Temuan Tjahjawulan dan Gunawan (2026) juga menunjukkan bahwa interaksi di media sosial dapat menjadi ruang terjadinya proses transkultural, yaitu ketika individu saling berbagi pengalaman, bernegosiasi dengan perbedaan, dan membangun pemahaman baru tanpa menghilangkan identitas budaya asalnya.

Humor sebagai Jembatan Komunikasi Antarbudaya

Penggunaan humor dalam konten lintas etnis tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang dialog yang mempertemukan individu dari latar budaya yang beragam. Ketika perbedaan dikemas secara ringan dan penuh penghargaan, audiens lebih terdorong untuk berbagi pengalaman, memberikan sudut pandang, serta membangun percakapan yang sebelumnya mungkin tidak pernah terjadi. Interaksi semacam ini menunjukkan bahwa media sosial dapat berperan sebagai ruang komunikasi yang mempertemukan berbagai pengalaman budaya dalam suasana yang lebih terbuka.

Dampak tersebut terlihat dari semakin banyaknya percakapan yang berkembang di kolom komentar maupun berbagai platform digital lainnya. Pengguna tidak hanya memberikan respons terhadap konten yang ditonton, tetapi juga membagikan pengalaman pribadi ketika hidup berdampingan dengan orang dari latar budaya yang berbeda. Pertukaran pengalaman tersebut secara tidak langsung membangun empati, memperluas wawasan, dan mendorong lahirnya sikap saling menghargai. Dalam konteks ini, humor tidak lagi berfungsi sebagai tujuan akhir untuk mengundang tawa, melainkan menjadi pemicu lahirnya komunikasi yang lebih inklusif. Meski demikian, penggunaan humor dalam komunikasi antarbudaya juga memiliki batasan. Tidak semua candaan dapat diterima dengan cara yang sama oleh setiap kelompok budaya. Humor yang dibangun di atas stereotip, prasangka, atau penghinaan terhadap identitas tertentu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, memperkuat stigma, bahkan memicu konflik di ruang digital. Oleh karena itu, sensitivitas terhadap nilai dan norma budaya menjadi hal yang perlu diperhatikan agar humor tidak berubah menjadi bentuk diskriminasi yang merugikan kelompok tertentu.

Sejalan dengan Klyukanov (2025) yang menegaskan bahwa tujuan utama komunikasi antarbudaya adalah membangun saling pengertian di antara individu dengan latar budaya yang berbeda. Dalam konteks media sosial, tujuan tersebut akan lebih mudah tercapai apabila humor digunakan sebagai sarana untuk mempererat hubungan, bukan sebagai alat untuk merendahkan atau memperkuat prasangka. Temuan Taka et al. (2025) juga menunjukkan bahwa media sosial mampu memperluas interaksi lintas budaya dan menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai pengalaman masyarakat. Dengan demikian, humor akan memberikan dampak positif terhadap komunikasi antarbudaya apabila digunakan secara bertanggung jawab, menghargai perbedaan, dan mendorong terciptanya hubungan yang lebih inklusif.

Penutup

Perkembangan media sosial menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya tidak lagi berlangsung hanya melalui interaksi tatap muka atau forum formal, tetapi juga hadir dalam berbagai bentuk konten digital yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konten kreator lintas etnis membuktikan bahwa humor dapat menjadi salah satu pendekatan komunikasi yang mempertemukan individu dari latar budaya yang beragam tanpa menghilangkan identitas budaya masing-masing. Melalui penyampaian yang ringan, keberagaman tidak lagi dipandang sebagai sumber perbedaan yang harus dipertentangkan, melainkan sebagai pengalaman yang dapat dipahami, dibagikan, dan dihargai bersama.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi antarbudaya pada era digital tidak hanya bergantung pada kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga pada kemampuan menciptakan ruang interaksi yang terbuka, inklusif, serta saling menghormati. Ketika humor digunakan secara bertanggung jawab, media sosial tidak sekadar menjadi sarana hiburan, melainkan juga mendorong terjadinya dialog yang lebih hangat, memperkuat empati, serta memperluas pemahaman masyarakat terhadap keberagaman budaya. Dengan demikian, humor berperan sebagai salah satu bentuk komunikasi yang berkontribusi dalam membangun hubungan antarbudaya yang lebih harmonis di tengah masyarakat yang semakin multikultural.

Daftar Pustaka

Baldwin, J. R., Coleman, R. R. M., González, A., & Shenoy-Packer, S. (2023). Intercultural communication for everyday life (2nd ed.). Wiley.

Cheong, P. H., Martin, J. N., & Macfadyen, L. P. (2012). New media and intercultural communication. Dalam J. N. Martin, T. K. Nakayama, & L. A. Flores (Eds.), Readings in intercultural communication: Experiences and contexts (2nd ed., hlm. 278–289). McGraw-Hill.

Jandt, F. E. (2020). An Introduction to Intercultural Communication: Identities in a Global Community (10th ed.). Sage Publications.

Klyukanov, I. (2025). Principles of Intercultural Communication (3rd ed.). Routledge.

Referensi Pendukung Artikel

Fitri, V. N., & Yuliana, N. (2024). Peran komunikasi antarbudaya pada mahasiswa dengan empat etnis berbeda di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Jurnal Komunikasi, 15(1), 26–33. https://doi.org/10.31294/jkom.v15i1.12048

Taka, E. L., Andung, P. A., Nope, H. A., Konradus, B., & Dupe, F. (2025). Transformasi komunikasi antarbudaya di perbatasan Indonesia–Timor Leste melalui media sosial Facebook.

KOMUNIKATIF: Jurnal Ilmiah Komunikasi, 14(1), 107–117. https://doi.org/10.33508/jk.v14i1.7370

Tjahjawulan, I., & Gunawan, I. (2026). Instagram reels as a medium of transcultural interaction: A netnographic study of wedding, humor, and diaspora family content. Jurnal Desain, 13(3), 944–966. https://doi.org/10.30998/jd.v13i3.2281

We Are Social, & Meltwater. (2025). Digital 2025: Global Overview Report. We Are Social.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.