
Ilustrasi Anak & Dunia Digital ( Sumber: https://pixabay.com/id/)
Penulis: Miftakhul Khasanah, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang, Angkatan 2025
JurnalPost.com – Di lingkungan kelas sekolah dasar, para pendidik saat ini dihadapkan pada hambatan yaitu penurunan perhatian siswa dalam belajar karena penggunaan perangkat gadget yang berlebihan di rumah. Walaupun banyak sekolah melarang siswa membawa ponsel, kebiasaan menghabiskan waktu di depan layar tetap membawa dampak hingga ke dalam ruang belajar. Banyak anak terlihat mudah jenuh, kesulitan duduk diam, dan pikirannya sering melayang ke permainan, video singkat, atau hiburan digital yang mereka nikmati sebelum pergi ke sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa masalah gangguan konsentrasi bukanlah akibat membawa ponsel ke kelas, melainkan pola kehidupan digital yang telah membentuk gaya belajar mereka, ini menjadi tantangan yang besar. Jadi, mampukah dunia pendidikan tetap berdiri kokoh ketika perhatian anak semakin terkuras oleh gadget?
Anak-anak zaman sekarang berkembang bersama konten yang cepat dan visual. Mereka terbiasa beralih dari video TikTok ke YouTube lalu ke permainan dalam waktu singkat. Pola konsumsi semacam ini membuat pelajaran konvensional terasa lambat dan kurang menarik. Guru sering menemukan siswa yang cepat kehilangan fokus, tidak sabar menanti penjelasan, atau tampak acuh tak acuh meskipun materi disampaikan dengan nada keras.
Di rumah, orang tua juga menghadapi kesulitan serupa. Banyak anak lebih suka memegang gadget daripada membaca buku, bermain di luar, atau berinteraksi dengan keluarga. Akses internet yang murah dan hiburan yang selalu ada membuat gadget menjadi “pelarian” yang sulit ditinggalkan. Jika kebiasaan ini berlanjut dalam waktu lama, akibatnya jelas terlihat di kelas yaitu anak sulit berkonsentrasi, mudah frustrasi, dan kurang berminat mengikuti tahapan pembelajaran yang memerlukan fokus.
Jika kondisi ini tidak diatasi secara serius, sekolah mungkin menghadapi generasi dengan daya konsentrasi singkat dan kurang tahan terhadap tantangan belajar. Ini bukan sekadar masalah kedisiplinan, tetapi perubahan mendasar dalam respons otak anak terhadap stimulus.
Dalam teori pembelajaran, perhatian merupakan tujuan utama menuju pemahaman. Ketika perhatian anak tidak stabil, proses menyerap informasi menjadi sedikit. Anak mungkin hadir secara fisik, tetapi pikirannya tidak tertuju pada materi. Kebiasaan mengonsumsi konten cepat membuat otak lebih akrab dengan rangsangan instan, sehingga pembelajaran di kelas terasa lambat dan membosankan.
Metode penghargaan dan sanksi yang dahulu sering digunakan kini kurang ampuh. Penghargaan seperti nilai tinggi tidak sebanding dengan kesenangan langsung dari permainan atau video menarik. Sanksi tambahan tugas pun tidak banyak pengaruh karena anak tidak merasa terikat dengan proses belajarnya.
Pembelajaran yang bermakna harus mencakup pengalaman yang membangkitkan rasa ingin tahu. Kegiatan seperti diskusi kelompok, demonstrasi langsung, eksperimen sains sederhana, hingga visualisasi materi membantu mempertahankan keterlibatan mereka. Banyak siswa SD jauh lebih responsif terhadap media visual seperti animasi, cerita bergambar, atau kuis interaktif daripada ceramah panjang. Dengan kata lain, guru perlu menyadari bahwa cara belajar generasi digital telah berubah secara drastis.
Gadget tidak harus dianggap sebagai musuh. Teknologi dapat berfungsi sebagai pendukung pembelajaran jika diterapkan dengan benar dan tidak melanggar aturan sekolah. Guru bisa memanfaatkan video edukasi, kuis digital seperti Quizizz atau Kahoot, serta media visual sederhana yang tetap aman digunakan di kelas tanpa memberikan akses bebas ke gadget pribadi.
Namun, sekolah tidak bisa bertindak sendirian. Orang tua perlu membatasi waktu penggunaan gadget di rumah, khususnya sebelum tidur dan sebelum berangkat ke sekolah. Pola konsumsi digital yang sehat membantu anak datang ke kelas dengan kondisi fokus yang lebih stabil. Selain itu, komunikasi antara sekolah dan keluarga harus diperkuat agar pengawasan terhadap penggunaan gadget berjalan secara konsisten.
Beberapa sekolah juga mulai menerapkan pendekatan inovatif seperti latihan fokus singkat sebelum pelajaran, permainan edukatif yang menuntut konsentrasi, hingga kegiatan di luar ruangan untuk mengurangi kelelahan digital. Langkah-langkah kecil ini mampu membantu siswa secara bertahap kembali terbiasa memusatkan perhatian.
Dengan pemahaman yang tepat, sekolah tetap mampu bertahan bahkan berkembang di era generasi digital. Kuncinya adalah beradaptasi tanpa meninggalkan inti Pendidikan yaitu dengan membentuk karakter, kemampuan berpikir, dan kebiasaan belajar yang kokoh. Gadget hanyalah alat, yang menentukan hasilnya adalah bagaimana kita menggunakannya.
Oleh: Miftakhul Khasanah, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang.




perkembangan teknologi yg sangat pesat membersamai tumbuh kembang gen alpha. di satu sisi pembelajaran perkuliahan bagi guru² terutama guru untuk peserta didik sekolah dasar saat ini masih banyak yang mengikuti standar perkuliahan zaman² sebelumnya. sehingga guru², terutama gen X dan Y, kurang mampu mengikuti kecepatan pembelajaran gen alpha. dan menurut saya, ini lah salah satu yg menjadikan anak² gen alpha menjadi kurang tertarik dengan materi yg disampaikan oleh guru² mereka di kelas konvensional🙏
#justcomment😁
Judul dan isi artikelnya bagus dan sesuai dengan perkembangan jaman saat ini, dan menjadi perhatian bagi orang tua dan para pendidik. Di artikel ini sekaligus memberikan solusinya.