• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ketika Asap Tidak Mengenal Batas: Dampak Transnasional dari Kebakaran Hutan Kanada

Editor Redaksi
6 Juli 2023
in Kolom Opini

JurnalPost.com – Kanada baru saja mengalami serangkaian kebakaran hutan yang menyebabkan evakuasi massal dan hancurnya jutaan hektar tanah. Seperti banyak daerah di Amerika Utara, Kanada menghadapi panas yang memecahkan rekor dan kekeringan yang berkepanjangan. Dampak dari pola cuaca ekstrem ini sangat luas dan memiliki implikasi yang signifikan terhadap durasi dan tingkat keparahan musim kebakaran hutan.

Pada tahun 2021, Kanada mengalami hari yang sangat panas yang memecahkan rekor suhu. Di sebuah kota bernama Lytton, di British Columbia, suhunya mencapai 49,6 derajat. Ini sama panasnya dengan Death Valley di California yang terkenal dengan panas ekstrem.

Padang rumput Kanada, yang meliputi Alberta, Saskatchewan, dan Manitoba, mengalami masalah kekeringan yang serius. Ini membuat situasi yang sudah buruk menjadi lebih buruk. Monitor Kekeringan Kanada menunjukkan bahwa 10 provinsi menghadapi kondisi kering luar biasa. Ketika terjadi suhu tinggi, periode tanpa hujan yang lama, dan lingkungan yang kering, kebakaran hutan menjadi lebih mudah terjadi dan menyebar dengan cepat.

Kanada sekarang menghadapi prospek musim kebakaran hutan paling parah dalam sejarah. Namun, dampak krisis ini melampaui batas Kanada. Asap yang keluar dari kebakaran ini telah menyebar ke sebagian besar wilayah Amerika Serikat. Hal ini memengaruhi kualitas udara dan kehidupan jutaan orang secara signifikan. Kota-kota besar AS yang diselimuti kabut menjadi saksi dari meluasnya asap kebakaran hutan ini.

Asap yang berasal dari kebakaran hutan Kanada telah mengakibatkan kualitas udara yang buruk di beberapa wilayah di Amerika Serikat. Kota-kota seperti Chicago, Milwaukee, dan Detroit melaporkan beberapa kualitas udara terburuk di dunia karena asap api ini. New York juga mengalami kabut asap tebal yang mengubah langit menjadi jingga.

Kebakaran hutan di Kanada berdampak besar pada kesehatan masyarakat. Asap yang dipancarkan dari api dapat membawa partikel kecil yang dapat menembus ke dalam paru-paru dan menyebabkan berbagai masalah pernapasan. Selain itu, karbon monoksida yang dilepaskan dari api dapat mengurangi suplai oksigen ke tubuh dan otak. Anak-anak, wanita hamil, dan individu dengan masalah jantung dan paru-paru sangat rentan terhadap risiko kesehatan ini. Bahkan setelah api dipadamkan dan asap tidak lagi terlihat, partikel asap dapat bertahan di udara selama berminggu-minggu.

Presiden Biden dan Senator Chuck Schumer mengaitkan fenomena ini dengan efek perubahan iklim. Perubahan iklim memang berdampak besar pada musim kebakaran hutan Kanada. Musim semi dimulai lebih awal dan musim gugur lebih lambat sehingga ada periode waktu yang lebih lama untuk kebakaran dapat terjadi dan padang rumput dapat terbakar. Hal ini mempersulit petugas pemadam kebakaran dan masyarakat untuk menangani dan mengendalikan kebakaran hutan.

Sebuah laporan PBB telah mengindikasikan bahwa perubahan iklim dapat mengakibatkan peningkatan kebakaran hutan sebesar 14% dengan angka yang meningkat menjadi 30% pada tahun 2050. Selain itu, kebakaran hutan juga berkontribusi melepaskan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer saat mereka terbakar.

Sebelum terjadi kebakaran hutan di Kanada yang juga berdampak pada Amerika Serikat ini, para ilmuwan telah menandai bahwa kemungkinan besar suhu udara permukaan global akan melonjak hingga 1,5° C untuk sementara waktu. Padahal, perjanjian iklim Paris tahun 2015 menetapkan bahwa untuk menghindari perubahan iklim terburuk, kenaikan suhu rata-rata harus tetap di bawah 1,5° C.

Menanggapi krisis di Kanada, Presiden Biden mengirimkan lebih dari 600 petugas pemadam kebakaran, personel pendukung, dan peralatan. Tidak hanya AS, petugas pemadam kebakaran dari Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Prancis, Spanyol, Portugal, Meksiko, Cile, dan Kosta Rika juga bergabung untuk berjuang di Kanada.

Kolaborasi semacam ini tidak hanya terbatas pada perjanjian antar negara-bangsa. Ini karena negara bagian dan provinsi juga dapat membangun kerja sama mereka sendiri, terutama ketika wilayah mereka bertetangga. Kesepakatan tingkat negara bagian ini seringkali terbukti lebih efisien dan lebih mudah diterapkan. Negara bagian Washington yang berbatasan dengan British Columbia telah memiliki perjanjian selama lebih dari satu abad. Hal ini memungkinkan mobilisasi sumber daya yang cepat ketika diminta oleh provinsi Kanada.

Upaya pemadaman yang bersifat internasional ini menunjukkan bahwa ancaman yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan ini bersifat global. Parahnya kebakaran hutan Kanada dan dampaknya yang luas ini menggarisbawahi perlunya upaya kolaboratif untuk mengatasi krisis iklim global.

Penulis: Muhammad Fariz Aslami, mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.