
Oleh: Fatma Fauziyah
JurnalPost.com – Sejak kapan momen indah yang ada di depan mata bisa dengan mudah diabaikan? Pertanyaan ini muncul ketika mata kita secara langsung melihat dan menyadari banyak orang saat ini lebih sibuk mengarahkan kamera daripada menikmati suasana yang seharusnya dinikmati. Fenomena ini menggambarkan perubahan cara orang berhubungan dengan lingkungan mereka. Pengalaman langsung saat ini mulai tergantikan oleh kesibukan untuk merekam setiap aktivitas, terutama untuk dibagikan di media sosial. Suatu momen tidak lagi diukur berdasarkan perasaan bahagia yang seharusnya dirasakan, melainkan seberapa menariknya rekaman momen tersebut untuk diposting.
Di tempat-tempat umum seperti pantai, taman, atau lokasi wisata lainnya, tanda-tanda ini semakin terlihat. Orang-orang datang tidak hanya untuk bersantai atau menikmati suasana, tetapi juga mencari tempat yang dianggap paling bagus untuk difoto. Pemandangan matahari terbenam yang seharusnya dinikmati secara langsung, kini hanya dilihat melalui layar ponsel. Tanpa disadari, hubungan manusia dengan alam pelan-pelan beralih menjadi hubungan antara manusia dengan ponselnya. Pergeseran ini jelas tidak terjadi semata-mata tanpa ada suatu alasan. Keberadaan media sosial yang memberikan banyak ruang untuk membagikan kegiatan sehari-hari mendorong banyak orang, terutama remaja, untuk terus membuat konten.
Studi literatur yang melibatkan 57 penelitian dengan total 571.427 partisipan menemukan bahwa ternyata penggunaan media sosial harian berhubungan dengan tingkat stres, kecemasan, depresi, perasaan kesepian, gangguan tidur, serta penurunan harga diri dan kepuasan hidup. Laporan dari Deloitte pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 70% anak muda merasa mereka telah menemukan komunitas dan jati diri lewat media sosial. Namun, mereka tidak menyadari jika identitas tersebut dibentuk berdasarkan konten yang hanya untuk mengharapkan popularitas, dapat menyebabkan masalah pada harga diri mereka. Esai ini akan menjabarkan apa saja dampak negatif ketergantungan akan pujian di media sosial terhadap Gen Z, serta menganalisis bagaimana tindakan tersebut dapat secara perlahan mengikis harga diri seseorang hanya demi sebuah popularitas.
1. Hidup untuk konten, bukan untuk diri sendiri
Banyak individu saat ini kurang menikmati momen, akan tetapi hanya sibuk merekam momen. Pergi jalan-jalan bukan karena ingin mencari ketenangan, tetapi agar ada bahan untuk di posting di sosial media. Hidup yang seharusnya dirasakan dan dinikmati sekarang hanya menjadi ajang tontonan. Jika tidak ada konten untuk dipamerkan, mereka akan merasa hidupnya “kurang berguna”.
2. Membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis
Penelitian oleh Kuss & Griffiths pada tahun 2017 menemukan bahwa remaja yang sering melihat konten glamor cenderung mengalami penurunan harga diri. Karena mereka merasa apa yang terlihat “normal” di media sosial harus sesuai dengan kehidupan nyata yang dijalankan, padahal sebenarnya kehidupan glamor yang di bagikan bisa jadi bukanlah kehidupan sehari-hari, akan tetapi highlight yang sengaja dipilih dengan cermat hanya untuk diposting semata. Akhirnya, mereka yang melihat konten glamor tersebut merasa “Kok hidup aku biasa banget, ya?” Padahal hidup orang lain juga biasa, mereka memosting hal tersebut hanya untuk mendapatkan kesenangan berupa pujian.
3. Muncul pemikiran bahwa bahagia itu harus mahal
Menurut KBBI, hedonisme adalah pandangan bahwa kesenangan adalah tujuan utama hidup. Di media sosial, kesenangan itu terlihat selalu mahal contohnya, makan di café, memakai outfit branded, dan pergi traveling ke tempat hits. Padahal, bahagia bisa dari kegiatan sederhana seperti menonton film di rumah, piknik murah, atau mengobrol bersama teman.
4. Rasa percaya diri mulai bergantung pada pujian orang lain
Jumlah suka dan komentar jadi ukuran harga diri. Semakin banyak yang memuji, semakin merasa berharga. Tapi jika postingan yang diunggah sepi, langsung insecure dan merasa kurang menarik. Harga diri akhirnya bukan tentang siapa dirimu, tapi tentang angka di layar. Padahal harga diri yang sehat itu ketika dirimu tetap merasa cukup dan tidak memikirkan bagaimana pandangan orang lain.
Kita sebenarnya memiliki energi kreatif, idealisme, dan kemampuan untuk menyuarakan banyak hal. Tetapi jika kita membiarkan popularitas dan rasa tidak ingin tersaingi mengambil alih kehidupan kita begitu saja, kita bisa terjebak dalam pujian semata. Melihat masalah ini, penulis percaya sebenarnya Gen Z bisa melakukan perubahan mulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri. Beberapa hal yang dapat kita coba yaitu:
1. Kurangi konsumsi konten glamor yang membuat kita menjadi sering membandingkan diri
Salah satu hal sederhana yang dapat kita lakukan yaitu dengan berhenti mengikuti akun-akun di media sosial yang isi kontennya hanya untuk pamer kemewahan, traveling, atau belanja barang-barang branded. Intinya, jika kita sering melihat postingan yang membuat kita berpikir, “Duh, kenapa hidup aku gini-gini aja, ya?” itu tandanya kita harus memberi waktu istirahat ke mata dan pikiran. Karena konten-konten seperti itu seringnya hanya pilihan terbaik dari hidup seseorang, bukan realita sehari-hari. Kurangi mengonsumsi hal-hal seperti itu, agar pikiran lebih fokus ke hidup sendiri, bukan hidup orang lain.
2. Fokus terhadap kemampuan dan proses, bukan tampilan
Alih-alih sibuk memikirkan outfit apa yang keren untuk feed Instagram atau bagaimana agar terlihat sukses di mata teman-teman online, lebih baik kita fokus terhadap hal yang benar-benar kita kerjakan. Hargai usaha, hargai proses belajar, dan hargai skill yang sedang kita bangun, seperti skill desain, menulis, atau membuat masakan yang lezat. Apabila kita fokus ke proses, hasilnya akan datang sendiri dan hal tersebut tentunya lebih berharga daripada hanya tampilan luar. Karena apa yang ada di dalam itu jauh lebih baik daripada apa yang terlihat dari luar.
3. Posting kegiatan untuk berbagi, bukan untuk mencari validasi
Sebelum kita ingin mengunggah foto atau video ke media sosial, cobalah bertanya terhadap diri kita sendiri terlebih dahulu “Aku posting ini untuk apa ya?”. Intinya, jika niat kita adalah untuk berbagi pengalaman, informasi, atau menginspirasi orang lain (misalnya, berbagi resep, tips belajar, atau hasil karya), itu bagus tapi, jika niat kita hanya untuk mengharapkan validasi dari orang lain atau agar orang lain iri, lebih baik tidak perlu di posting. Jadikan media sosial sebagai tempat untuk memberi nilai, bukan tempat untuk meminta dan mencari validasi dari orang lain.
Sebagai Gen Z yang kreatif kita harus mampu menyaring konten-konten yang sekiranya dapat berakibat negatif bagi diri serta mampu mengontrol diri dari keinginan untuk mendapatkan suatu hal yang tujuannya tidak berdampak bagi kualitas hidup kita kedepannya. Gunakanlah media sosial dengan baik dan cermat, karena media sosial itu luas jangkauannya kita dapat menggunakan media sosial sebagai alat untuk mengembangkan skill pengetahuan bukan untuk merasa rendah diri.
Mahasiswa aktif Program Studi Tadris Bahasa, UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.



