
Penulis: Tivara Salsabila Valenanda
Universitas Widya Mataram
JurnalPost.com – Menurut survey yang dilakukan oleh McKinsey pada tahun 2023, 52% mahasiswa di seluruh dunia telah menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk menunjang tugas akademik mereka, mulai dari sekedar riset hingga menulis esai.
Di Indonesia sendiri, angka ini tak jauh berbeda: dalam sebuah studi kecil yang dilakukan oleh Litbang Kompas, sekitar 60% mahasiswa mengaku menggunakan ChatGpt secara rutin. Namun, di balik efisiensi yang ditawarkan, muncul pertanyaan krisis: apakah ketergantungan ini berdampak positif bagi pengembangan nalar dan keterampilan mahasiswa?
Tak bisa dipungkiri, mahasiswa dihadapkan pada tekanan akademik, organisasi, dan ekspetasi sosial yang menumpuk. Di sinilah AI hadir sebagai solusi cepat dengan hitungan detik, sebuah artikel bisa tersaji rapi, presentasi bisa disulap professional, bahkan ide-ide bisa dimunculkan secara instan.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang harus mengolah pesan, memahami audiens, dan menulis dengan strategi, AI adalah alat yang menggoda. Namun, yang menarik untuk dicermati bukan hanya pada bagaimana AI digunakan, tetapi kenapa mahasiswa begitu cepat menyerahkan proses berfikir kritisnya pada sistem berbasis algoritma?
Dalam konteks Ilmu Komunikasi, pesan yang disampaikan tidak hanya soal apa yang dikatakan, tapi juga bagaimaana dan untuk siapa. Ketika mahasiswa terlalu mengadalkan AI, mereka beresiko kehilangan keterampilan dasar dalam membentuk pesan yang otentik, menyentuh emosi, dan relevan dengan konteks budaya serta sosial audiens mereka.
Menurut Teori Agenda Setting dari McCombs dan Shaw, media memiliki kekuatan untuk menentukan isu mana yang dianggap penting oleh publik. Jika kita di analogikan AI sebagai “media” pribadi mahasiswa, maka sistem ini juga memiliki peran dalam mengarahkan cara berfikir mereka termasuk dalam menentukan isu yang patut dibahas. Dalam jangka panjang, mahasiswa bisa kehilangan kontrol atas narasi pribadinya sendiri.
Sebaiknya mahasiswa menggunakan AI bukan untuk menyalin, tetapi untuk meninjau ulang dan membandingkan perspektif. Biarkan AI membantu menyaring ide, tapi tetap utamakan proses berpikir pribadi. AI tidak akan pergi, teknologi ini akan terus berkembang dan makin pintar. Namun, di era digital ini, kemampuan berpikir kritis dan komunikasi yang autentik justru menjadi lebih bernilai.



