Oleh: Ale Daffa Pramudya Prestiyono
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Email: [email protected]
JurnalPost.com – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Medan sebagai pusat ekonomi dan budaya di Sumatera Utara, masih berdiri megah berbagai peninggalan sejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Islam di kawasan ini. Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Raya Al-Mashun dan Istana Maimun, dua ikon yang tidak hanya memiliki nilai arsitektur tinggi, tetapi juga merepresentasikan kejayaan Kesultanan Deli sebagai pusat penyebaran agama Islam di Sumatera Timur.
Banyak orang mengenal Kesultanan Deli melalui kemegahan istananya. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa kerajaan Melayu Islam ini memiliki kontribusi yang jauh lebih besar daripada sekadar meninggalkan bangunan bersejarah. Kesultanan Deli memainkan peranan penting dalam membentuk identitas keislaman masyarakat Melayu melalui pendidikan, dakwah, budaya, hingga pembentukan nilai-nilai sosial yang masih bertahan sampai sekarang.
Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Deli berdiri pada abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1632 ketika Gocah Pahlawan diangkat menjadi pemimpin wilayah Deli oleh Kesultanan Aceh. Dalam perjalanan sejarahnya, Deli berkembang menjadi salah satu kerajaan Melayu yang berpengaruh di kawasan pesisir timur Sumatera. Selain menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan, kesultanan ini juga menjadikan Islam sebagai dasar dalam menjalankan kehidupan masyarakat.
Keberhasilan Kesultanan Deli dalam menyebarkan Islam tidak dilakukan melalui kekerasan ataupun pemaksaan. Sebaliknya, Islam berkembang melalui pendekatan budaya, pendidikan, perdagangan, dan keteladanan para ulama. Pendekatan yang damai ini membuat masyarakat dapat menerima ajaran Islam tanpa harus meninggalkan identitas budaya lokal mereka.
Keberadaan Kesultanan Deli menjadi bukti bahwa proses Islamisasi di Nusantara berlangsung secara adaptif. Nilai-nilai Islam tidak menghapus budaya Melayu, melainkan memperkaya dan menyempurnakannya. Perpaduan tersebut kemudian melahirkan peradaban Melayu-Islam yang hingga kini masih menjadi identitas masyarakat Sumatera Timur.
Salah satu strategi utama Kesultanan Deli dalam memperkuat penyebaran Islam adalah melalui pendidikan. Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah umum yang tidak mengajarkan pendidikan agama secara resmi. Kondisi ini mendorong Kesultanan Deli bersama para ulama untuk membangun lembaga pendidikan Islam yang mandiri.
Lembaga pendidikan seperti surau, madrasah, dan Maktab Islam Tapanuli (MIT) menjadi tempat lahirnya generasi Muslim yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual yang memadai. MIT bahkan memiliki jenjang pendidikan mulai dari ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga tajhizi sebagai kelas persiapan.
Selain itu, organisasi Islam seperti Muhammadiyah yang berkembang di Medan sejak tahun 1927 serta Al-Ittihadiyah yang mendapat dukungan Kesultanan Deli turut memperluas akses pendidikan Islam bagi masyarakat. Melalui lembaga-lembaga tersebut, ilmu agama diajarkan secara sistematis bersamaan dengan ilmu pengetahuan umum sehingga masyarakat mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Pendidikan menjadi instrumen penting karena dakwah tidak hanya berhenti pada penyampaian ajaran agama, tetapi juga membentuk karakter masyarakat yang berakhlak, berilmu, dan memiliki kepedulian sosial.
Selain pendidikan, penyebaran Islam di Kesultanan Deli juga tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama. Dalam tradisi Islam Melayu, ulama bukan sekadar pengajar agama, tetapi juga penasihat sultan, pembimbing masyarakat, dan penjaga moral sosial.
Salah satu tokoh ulama besar yang lahir di Deli adalah Syekh Hasan Ma’shum. Beliau dikenal luas sebagai ulama berpengaruh di Sumatera Utara yang memiliki kedalaman ilmu agama serta menjadi rujukan berbagai kerajaan Melayu di Nusantara. Kehadirannya menunjukkan bahwa Kesultanan Deli berhasil melahirkan intelektual Muslim yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan Islam.
Hubungan yang harmonis antara sultan dan ulama menjadi kekuatan utama Kesultanan Deli. Sultan memberikan dukungan terhadap aktivitas dakwah, pembangunan masjid, dan pendidikan agama, sementara para ulama membimbing masyarakat agar nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi tersebut menciptakan sistem sosial yang menjadikan Islam bukan hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai pedoman dalam pemerintahan, pendidikan, adat istiadat, hingga kehidupan ekonomi masyarakat.
Keunikan Kesultanan Deli terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan Islam ke dalam budaya Melayu. Islam hadir bukan sebagai unsur yang menghapus tradisi, melainkan memberikan makna religius terhadap berbagai adat yang telah berkembang sebelumnya.
Hal tersebut dapat dilihat dalam prosesi pernikahan adat Melayu Deli. Pantun yang dibacakan tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan sarana menyampaikan nasihat tentang kehidupan rumah tangga, akhlak, kesopanan, dan ketakwaan kepada Allah. Begitu pula tarian adat yang dipentaskan tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.
Tradisi makan berhadap juga menjadi contoh nyata perpaduan budaya dan agama. Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul untuk menikmati hidangan bersama sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, dan ukhuwah Islamiyah. Nilai-nilai tersebut selaras dengan ajaran Islam yang mengutamakan persatuan dan silaturahmi.
Perpaduan Islam dan budaya ini membuat masyarakat Melayu Deli mampu mempertahankan adat istiadat tanpa bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan hingga saat ini, berbagai tradisi tersebut masih dijalankan sebagai bagian dari identitas masyarakat Melayu.
Warisan terbesar Kesultanan Deli tentu tidak hanya berupa tradisi, tetapi juga peninggalan fisik yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Masjid Raya Al-Mashun menjadi simbol paling nyata dari kejayaan Islam di Medan. Masjid yang dibangun pada masa Sultan Ma’mun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah ini hingga kini tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus destinasi wisata sejarah.
Demikian pula Istana Maimun yang masih menjadi ikon Kota Medan. Bangunan tersebut memperlihatkan perpaduan arsitektur Melayu, Timur Tengah, India, dan Eropa yang mencerminkan keterbukaan Kesultanan Deli terhadap berbagai pengaruh luar tanpa kehilangan identitas Islamnya.
Kedua bangunan tersebut bukan sekadar objek wisata, tetapi juga media edukasi sejarah yang memperlihatkan bagaimana Islam berkembang melalui pendekatan budaya, politik, dan pendidikan.
Meskipun pengaruh Kesultanan Deli masih dapat dirasakan hingga sekarang, tantangan pelestarian budaya Melayu-Islam semakin besar. Arus globalisasi menyebabkan sebagian generasi muda mulai kehilangan pemahaman terhadap makna adat dan tradisi yang diwariskan leluhur.
Banyak simbol budaya yang hanya dipahami sebagai kegiatan seremonial tanpa mengetahui nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya. Pantun, tarian adat, maupun berbagai ritual budaya mulai mengalami penyederhanaan bahkan perlahan ditinggalkan.
Oleh karena itu, pelestarian budaya Melayu Deli memerlukan pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan media digital, media sosial, film dokumenter, hingga konten edukatif menjadi strategi yang efektif untuk memperkenalkan kembali sejarah Kesultanan Deli kepada generasi muda.
Selain itu, pendidikan sejarah lokal perlu mendapatkan perhatian lebih besar di sekolah maupun perguruan tinggi agar masyarakat mengenal tokoh-tokoh, budaya, serta kontribusi kerajaan-kerajaan Islam di daerahnya sendiri.
Kesultanan Deli mengajarkan bahwa keberhasilan penyebaran agama tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh kemampuan membangun pendidikan, budaya, dan keteladanan. Islam berkembang secara damai karena mampu menyatu dengan kehidupan masyarakat tanpa menghilangkan identitas lokal.
Nilai inilah yang menjadi pelajaran penting bagi Indonesia saat ini. Di tengah keberagaman budaya dan tantangan modernisasi, pendekatan yang mengedepankan pendidikan, dialog budaya, dan penghormatan terhadap tradisi tetap menjadi cara paling efektif dalam menjaga persatuan sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Warisan Kesultanan Deli tidak berhenti pada bangunan bersejarah atau kisah para sultan. Warisan sesungguhnya adalah terbentuknya masyarakat Melayu yang menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan sekaligus menjaga budaya sebagai identitas. Selama nilai-nilai tersebut terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya, Kesultanan Deli akan tetap hidup dalam ingatan sejarah sebagai salah satu pusat penyebaran Islam yang paling berpengaruh di Sumatera Timur.
Kesimpulan
Kesultanan Deli merupakan salah satu kerajaan Melayu Islam yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di Sumatera Timur. Perannya tidak hanya terbatas sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat. Melalui dukungan terhadap lembaga pendidikan Islam, peran aktif para ulama, serta pembangunan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, Kesultanan Deli berhasil menanamkan nilai-nilai Islam secara damai dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Keberhasilan Kesultanan Deli juga terlihat dari kemampuannya memadukan ajaran Islam dengan budaya Melayu. Berbagai tradisi, adat istiadat, seni, dan kehidupan sosial berkembang selaras dengan nilai-nilai Islam tanpa menghilangkan identitas budaya lokal. Warisan tersebut masih dapat disaksikan hingga kini melalui peninggalan bersejarah seperti Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun, serta tradisi budaya Melayu Deli yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Di era modern, pelestarian warisan Kesultanan Deli menjadi tanggung jawab bersama. Sejarah, budaya, dan nilai-nilai Islam yang diwariskan perlu terus dikenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan, penelitian, dan pemanfaatan media digital agar tidak tergerus oleh arus globalisasi. Dengan demikian, Kesultanan Deli tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang berkarakter, berbudaya, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman.
Daftar Pustaka
- Arsya, H., & Badrun. (2022). Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Melayu. Jurnal Hijaz: Ilmu-Ilmu Keislaman.
- Aulia, S. D., dkk. (2021). Memanfaatkan Media dalam Menghadapi Degradasi Kearifan Lokal Budaya Melayu di Indonesia: Studi Kontestasi Penyampaian Pesan Budaya Melalui Media Perkawinan Melayu Deli. Jurnal Tabsyir, 5(2), 123–135.
- Anshari, E. S. (1980). Agama dan Kebudayaan. Surabaya: Bina Ilmu.
- Hill, A. H. (1968). The Coming of Islam to North Sumatra. Journal of Southeast Asian History, 4(1).
- Ilham Syahputra, M. (2022). Peran Islam dalam Membangun Identitas Sosial dan Budaya Melayu. Jurnal Cendekia.
- Jubba, H., Rafi, M., & Qodir, Z. (2021). Politik Identitas Melayu Islam sebagai Upaya Mewujudkan Budaya Berintegritas. Politicon: Jurnal Ilmu Politik, 3(1).
- Junaidi, dkk. (2020). Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Karakteristik Lembaga Adat Melayu Jambi. Jurnal JPIM, 6(1), 78–90.
- Laudra, D. C., dkk. (2021). Mengenal dan Melestarikan Budaya Melayu Deli di Kota Medan. Jurnal Jotikan.
- Liza, T., dkk. (2023). Pengaruh Islam terhadap Peradaban Melayu. Jurnal Ilmiah Media Riset.
- Marzuki, D. I. (2022). Mengungkap Makna Budaya Melayu Deli dalam Proses Perkawinan. Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 12(2), 51–66.
- Hasan, M. T. (2005). Islam dalam Perspektif Sosiologi Kultural. Jakarta: Lantabora Press.
- Munoz, P. M. (2009). Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Kuala Lumpur: Mitra Abadi.
- Nasution, M. (2021). Peninggalan Kesultanan Islam di Tanah Melayu: Sebuah Pembaruan Pendidikan Islam dan Tamadun Melayu. Ary: Jurnal Pendidikan Islam, 2(1), 45–57.
- Putra, F. (2020). Pelestarian Budaya Melayu dalam Filosofi Rumah Lontiok Melalui Eksplorasi Budaya di Desa Pulau Belimbing. Pustaka: Jurnal Kajian Budaya, 4(2), 101–115.
- Ratna. (1990). Birokrasi Kerajaan Melayu Sumatera Timur di Abad XIX. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
- Reid, A. (Ed.). (2010). Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Jakarta: Komunitas Bambu.
- Takari, M., Zaidan, A. B. S., & Dja’far, F. M. (2010). Sejarah Kesultanan Deli dan Peradaban Masyarakatnya. Medan: USU Press.
- Wulandari, A. (2022). Pemanfaatan Media sebagai Sarana Edukasi Pelestarian Budaya Melayu Deli. Jurnal Khazanah, 7(3), 230–245.



