Yanuar Ilham Pangestu
Fajrul Falah hadiyanto
Kariematul Azmi
[email protected]
[email protected]
Abstract
The main issue to be solved regarding inter- and inter-religious conflict in Indonesia is to find the roots of the issue that triggered the koflik. The life of religious citizens in this country who have different religious beliefs is not always a trigger for conflict.One of the villages in the Kajen district is a village that has been converted into a religious moderate village where the villagers live side by side despite their differences of belief. For this, we did research in the village. The study aims to identify and analyze the dynamics and factors that influence religious harmony in the village of Linggo Asri. The research methods used are surveys, interviews, and participatory observations to understand the inter-citizenship interaction of different religious beliefs in everyday life.Research finds that despite religious differences, Linggo Asri Village has a tradition of mutual respect, high tolerance, and cross-religious cooperation in various social and religious activities. Factors such as local history, community leadership, and education are essential elements inining interreligious harmony.In conclusion, religious harmony in the village of Linggo Asri is the result of traditional values applied downward and downward as well as a common commitment to building harmonious relations between different believers. These findings could contribute to the development of more effective cross-religious strategies in promoting peace and harmonization of spatial scope in society.
Keywords : religious harmony, religion, sociology of communication
Abstrak
Persoalan utama untuk dijadikan solusi mengenai konflik antar dan inter- umat beragama di indonesia adalah mencari akar persoalan yang memicu koflik. Kehidupan warga beragama di negeri ini yang memiliki perbedaan keyakinan beragama tidak selalu menjadi pemicu konflik.salah satu desa di kecamatan kajen terdapat desa yang dinobatkan menjadi desa moderasi beragama dimana masyarakat desa tersebut hidup berdampingan walaupun memiliki perbedaan keyakinan. Untuk hal ini, kami melakukan penelitian di desa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis dinamika serta faktor-faktor yang mempengaruhi keselarasan beragama di Desa Linggo Asri. Metode penelitian yang digunakan adalah survei, wawancara, dan observasi partisipatif untuk memahami interaksi antarwarga dari berbagai keyakinan agama dalam kehidupan sehari-hari.Penelitian menemukan bahwa meskipun terdapat perbedaan keyakinan agama, Desa Linggo Asri memiliki tradisi saling menghormati, toleransi yang tinggi, dan kerjasama lintas-agama dalam berbagai aktivitas sosial dan keagamaan. Faktor-faktor seperti sejarah lokal, kepemimpinan komunitas, dan pendidikan menjadi elemen penting dalam mempertahankan harmoni antarumat beragama.Kesimpulannya, keselarasan beragama di Desa Linggo Asri merupakan hasil dari nilai-nilai tradisional yang diterapkan secara turun temurun serta komitmen bersama untuk membangun hubungan harmonis di antara pemeluk agama yang berbeda. temuan ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi lintas-agama yang lebih efektif dalam mempromosikan perdamaian dan keselarasan lingkup ruang di masyarakat.
Kata kunci :keselarasan beragama, linggoasri, sosiologi komunikasi
PENDAHULUAN
Linggoasri adalah salah satu desa di kabupaten pekalongan yang menjadi desa wisata, memiliki berbagai macam destinasi wisata yang menakjubkan seperti bukit, hutan, dan curug. Kawasan wisata ini sangat kental akan nuansa alam dan kekinian yang pastinya juga dapat dijadikan tempat untuk berfoto yang instagramable. Lokasi ini dapat juga sebagai lokasi outbound atau rekreasi bersama keluarga. Linggoasri berada di Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Desa Linggoasri terdapat lima dukuh yaitu dukuh Bojong Larang, Sadang, Linggo, Yosorejo, Rejosari. Banyak yang belum mengetahui jika di Desa Linggo Asri terdapat berbagai macam agama yang dianut oleh masyarakat setempat. Ada 4 keyakinan yang dianut masyarakat di Desa Linggoasri diantaranya Islam, Hindu, Kristen, dan Budha. Dengan adanya perbedaan keyakinan yang dianut Desa Linggoasri, Linggo asri menjadi desa percontohan dalam menerapkan moderasi beragama. Dalam desa Linggo Asri memperlihatkan tentang harmoni yang indah dalam perbedan keyakinan. Dilihat dari bagaimana setiap individu maupun kelompok hidup berdampingan dengan penuh pengertian dan saling menghormati satu sama lain. Setiap agama di Linggoasri memiliki tempat ibadahnya masing-masing, seperti Islam memiliki tempat ibadah seperti mushola/masjid, kemudian agama hindu memiiki pure untuk beribadah sedangkan kristen dan budha tempat ibadahnya belum ada karena termasuk minoritas. Dengan perbedaan keyakinan pastinya juga terdapat perbedaan budaya. Seperti halnya ketika salah satu agama mengadakan acara kebudayaan agamanya semua masyarakat ikut berpartisipasi dalam menyelenggarakan acara tersebut tanpa memandang latar belakang keyakinan yang di anut setiap individu. Kebersamaan dalam perayaan, kegiatan amal,serta dialog antar agama menjadi landasan kuat keselarasan yang ada di desa linggoasri.
Kerukunan umat beragama di indonesia masih diwarnai catatan kelabu ditengah semakin tingginya kesadaran toleransi masyarakat. Banyak terjadi konflik yang lazimnya dipicu oleh perbedaan agama bagi pemeluk agama yang memahami ajaran agama secara segmental. ,tanpa memahami pesan konkret. Modal dasar kehidupan sosial beragama yang harmonis tercipta di tengah kehidupan warga kudus yang berbeda agama dan seagama tetapi berbeda aliran bahkan aliran yang mengaku muslim dinyatakan sesat oleh MUI.[1] Paham tentang toleransi beragama meupakan hal yang sangat penting karena pada dasarnya agama bisa menjadi dorongan pencegah terjadinya disintegrasi dalam masyarakat. Agama melagirjan norma atau aturan tingkah laku kepada pemeluknya, walaupun pada dasarnya sumber agama itu adalah nilai-nilai transenden, agama memberi kemungkinan untuk berfungsi menjadi pedoman, dan petunjuk pola tingkah laku dan corak sosial. Disinilah agama dapat dijadikan instrument integrative dalam masyarakat.[2] Kerukunan umat beragama merupakan salah satu pilar penting bagi terwujudnya kerukunan, ketahanan dan kesatuan nasional. Oleh sebab itu, salah satu fokus pembangunan bidang agama adalah upaya mewujudkan dan men ingkatkan kerukunan baik intgra maupun antar umat beragama. kementrian agama sudah melakukan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk mengembangkan kerukunan umat beragamadi indonesia. Kegiatan reharmonisasi dan antisipasi disharmonisasi kehidupan keagamaan daerah pascakonflik/ rawan konflik: penguatan dan pemberdayaan nilai-nilai kearifan lokal.[3]
Tujuan dari artikel ini yaitu untuk membahas bagaimana desa linggo asri dapat mewujudkan keselarasan agama dan mengetahui bagaimana komunikasi anatar agama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa linggoasri. Dalam artikel ini juga akan kita bahs mengenai Bagaimana tangapan dari masyarakat linggoasri dengan perbedaan keyakinan yang dianut namun dapat hidup berdampingan tanpa ada konflik yang menimbulkan perpecahan.
METODE PENELITIAN
Penelitian kali ini berlangsung menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yaitu menekankan fokus pada pengalam subyektif orang dan interpretasi mereka tentang Desa Linggoasri. Dalam penelitian ini kita melibatkan beberapa masyarakat dan juga perangkat desa untuk diwawancarai guna mengetahui bagaimana interaksi dan komunikasi yang terjadi pada Desa Linggoasri dengan adanya perbedaan keyakinan yang dianut dan menjadikan keselarasan dalam beragama. kemudian pengamatan sekitar untuk mengetahui kejadian yang nyata terjadi dan mengkaji data-data yang telah didapat sebelum melakukan diskusi kelompok.
Setelah data-data terkumpul dilanjut diskusi kelompok untuk mendiskusikan hasil dari observasi yang sudah dilakukan agar mendapat kesimpulan yang maksimal dan hasilnya bersifat imbang. Pada tahap penyimpulan hasil observasi ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif.
PEMBAHASAN
- Keselarasan Beragama
Keselarasan beragama adalah suatu konsep fundamental dalam membangun harmoni dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Indonesia yang merupakan negara dengan keberagaman agama yang kaya, menghargai dan mendorong adanya keselarasan beragama sebagai pijakan dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Keselarasan beragama melibatkan kerjasama, pengertian, serta saling menghormati dan menghargai perbedaan dalam keyakinan dan praktik keagamaan. Hal ini penting untuk mempromosikan perdamaian dan menguatkan nilai-nilai toleransi dalam masyarakat Indonesia. Buku “Keselarasan Beragama: Pilar Kerukunan di Indonesia” oleh Azyumardi Azra memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya keselarasan beragama dalam masyarakat multireligi dan mengajak untuk memperkuat hubungan harmonis antarumat beragama dalam menjaga kerukunan sosial.[4]
Desa Linggoasri merupakan contoh yang nyata dari keselarasan beragama dan kerukunan antarumat beragama, di mana masyarakat dengan beragam keyakinan dapat hidup berdampingan secara harmonis. Desa ini juga telah diakui sebagai Desa percontohan moderasi beragama dan sadar kerukunan. Karena terdapat empat macam agama yang berbeda yaitu Islam, Hindu, Budha, dan Katholik serta terdapat dua tempat ibadah yaitu Masjid dan Pura. Keselarasan agama dan moderasi beragama membutuhkan kesadaran kolektif dan komitmen dari semua pihak, termasuk pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan individu. Hanya dengan bekerja sama, menghormati, dan memahami perbedaan, kita dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan damai bagi semua orang, tanpa memandang kepercayaan agama mereka dan masyarakat Linggo Asri sudah menerapkan prinsip ini di kehidupan sehari hari senghingga Desa Linggo Asri pantas mendapatkan penobatan Desa sadar kerukunan.
Hal yang sama terjadi di Desa Colo, Dawe, Kudus, dalam satu wilayah terdapat warga nahdliyin, kristiani, buddhis, dan ahmadi. Dalam perbedaan ini tidak ditemukannya konflik terbuka. Realita yang terjadi adalah harmoni kehidupan sosial antar-umat beragama. warga desa colo ini memiliki kunci dasar atau potensi positif untuk mewujudkan keharmonisan meskipun dengan adanya perbedaan aliran dan antar-pemeluk agama. Ada beberapa hal yang menjadi dasar terjadinya keharmonisan di desa colo diantaranya; mempunyai hubungan persaudaraan yaitu satu rumpun keturunan yang mayoritasnya lahir dan dibesarkan di wilayah desa tersebut, menciptakan kerjasama timbal balik dalam hal perekonomian dan pertetanggan. Sedikitnya pemicu konflik yang mempermasalahkan perbedaan keyakinan, dan yang terakhir yaitu tidak ada penggerak yang menimbulkan konflik.[5]
Akhir-akhir ini kita sering mendengar begitu maraknya kasus-kasus perselisihan antar agama yang disebabkan oleh perbedaan cara pandang dan fanatisme . Padahal aslinya semua agama itu sama , yaitu sama-sama mengajarkan ajaran-ajaran yang membawa manusia menjadi orang yang beriman dan berakhlak mulia.[6] Seperti halnya masyarakat Desa Linggoasri meyakini bahwa setiap agama yang mereka anut pasti akan membawa mereka ke jalan yang baik. Mereka tidak saling menyalahkan keyakinan yang dianut seseorang apabila berbeda dengan Yang dianut individu. Karena menurut masyarakat Desa Linggoasri setiap manusia itu memiliki kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaan masing- masing. Kebebasan memeluk agama dan memeluk kepercayaan juga sudah di atur oleh negara pada pasal 28 E ayat (1) dan(2).[7]
- Komunikasi antar agama yang terjadi di linggoasri
Dalam sosiologi komunikasi antar umat beragama, penting untuk mengamati dan menganalisis bagaimana proses komunikasi terbentuk dan mempengaruhi dinamika sosial antar kelompok keagamaan. Melalui pendekatan sosiologi, kita dapat memahami bagaimana interaksi komunikasi antar umat beragama mempengaruhi pembentukan identitas dan citra kelompok, pembagian kekuasaan dan struktur sosial, serta konflik dan kerukunan antara kelompok keagamaan. Sosiologi komunikasi antar umat beragama juga menyoroti aspek-aspek seperti simbol-simbol keagamaan, praktik komunikasi kolektif, pertukaran pesan dan arti, serta pengaruh sosial yang mempengaruhi interaksi antarumat beragama. Dengan pemahaman yang mendalam tentang sosiologi komunikasi antar umat beragama, kita dapat mengidentifikasi faktor-faktor sosial yang mempengaruhi hubungan antarumat beragama dan mengembangkan strategi komunikasi yang efektif untuk mendorong kerukunan dan pemahaman di masyarakat.[8]
Linggoasri adalah sarana yang berharga untuk memungkinkan warga dengan keyakinan yang berbeda untuk bertukar pikiran, menghilangkan mispersepsi, dan memperdalam pemahaman mereka satu sama lain. Hal Ini adalah jembatan yang sangat penting untuk membangun kerukunan di tengah-tengah perbedaan. Komunikasi yang terjadi antar umat beragama dilinggoasri sangat baik mereka tidak memandang mayoritas mironitas dalam konteks Beragama. Mereka mampu hidup damai berdampingan di tengah perbedaan agama dan tidak menyerahkan hak keagamaan seluruhnya kepada masyarakat. Dengan perbedaan agama dan keyakinan tidak menjadi hambatan bermasyarakat dan menjalankan ibadah masing-masing. Seperti halnya tempat ibadah yang berdekatan, ini menjadi gambaran sebagai ukhuwah antara umat beragama di Desa Linggoasri.
Seperti halnya di wilayah cigugur, masyarakat disana merupakan Masyarakat yang dibentuk oleh berbagai kelompok keagamaan. Keragaman beragama tersebut ada di beberapa wilayah diantaranya cigugur,cisantana, dan sukamulya. Ketika diadakannya pertemuan kelompok yang di hadiri dari individu dari latarbelakang keagamaan yang berbeda, mereka membahas berbagai macam persoalan tentang pembangunan desa , rencana kerja yang akan dilakukan oleh masyarakat, dan berbagai kehidupan sosial ekonomi. Pada pertemuan kelompok itu juga dilakukan pembahasan tentang kepentingan bersama dengan tujuan untuk mencari jalan keluar atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kelompok. Hal ini menunjukkan adanya Kerjasama anatar umat beragama dalam bidang sosial Masyarakat.[9]
Komunikasi vertikal merupakan prosess penyampaian informasi dari atasan kepada bawahan atau dari bawahan kepada atasan secara timbal balik, contohnya pada Lembaga Pendidikan di sana tidak terjadi diskliminasi dari mayoritas ke mironitas murid-murid yang mironitas tetap menjalani kehidupan seperti biasa mereka mendapatkan hak mereka sebagai manusia dan peran dalam memperluas komunikasi atau keilmuan komunikasi. Dengan adanya berbagai agama yang berbeda di desa Linggoasri ini tidak menjadi hambatan, akan tetapi mampu menciptakan kehidupan yang aman dan damai dalam meningkatkan generasi yang maju dalam membangun informasi dalam mempelajari komunikasi beragama pada desa linggoasri maju dan lebih baik, dalam sebuah komuniksi yang baik adalah memperbanyak atau memperluas sebuah keilmuan dalam adanya di desa linggoasri , komunikasi juga dapat memperkuat informasi dalam meningkatkan desa linggoasri tersebut. Dalam pola yang meningkatkan keragaman Desa Linggoasri yang bagus adalah memperluas informasi menggunakan komunikasi yang luas dan banyak, supaya semua masyarakat Linggoasri lebih paham mempelajari komunikasi keragaman yang baik dan benar, komunikasi juga adalah kunci pokok masyarakat desa Linggoasri yang termasuk kunci informasi keragaman desa Linggoasri tersebut, komunikasi juga selalu memperluas dan memperkuat jaringan yang baik dalam pola keragaman atau ke informasian.
HASIL
Konflik dalam Masyarakat baik pada bidang politik, ekonomi, Pendidikan dan lain sebagainya itu sering disebabkan oleh latar belakang perbedaan agama atau ketidak harmonisan anar-umat beragama. Hal ini biasanya menimbulkan perpecahan dalam Masyarakat dimana bisa terjadi juga diskriminasi sosial antara agama mayoritas kepada agama minoritas.
Namun desa linggoasri membuktikan bahwa mereka dapat hidup berdampingan dan berkomunikasi dengan baik walaupun memiliki keyakinan yang berbeda. Masyarakat linggo asri saling membantu satu sama lain dan juga menjalin hubungan layaknya keluarga, yang paling salut dengan Masyarakat linggoasri Ketika salah satu agama memiliki acara keagamaan semuanya ikut andil membantu tanpa melihat latar belakang keyakinan yang dianut. Komunikasi yang terjadi antar-umat berbeda agama di Linggoasri sangat baik.
Dari hal ini dapat kita ketahui bahwa tidak semua perbedaan keyakinan menjadi pemicu konflik. Akan tetapi perbedaan yang ada bisa menjadikan kedamaian dan keharmonisan jika selaras. Dan kita juga dapat mengetahui bagaimana komunikasi dengan anatr-umat berbeda agama dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
KESIMPULAN
Desa Linggoasri di Kabupaten Pekalongan adalah contoh nyata keselarasan beragama dan kerukunan antarumat beragama. Meskipun terdapat perbedaan keyakinan, masyarakat desa ini hidup harmonis, menjadikannya desa percontohan moderasi beragama. Terdapat empat agama yang dianut, yaitu Islam, Hindu, Kristen, dan Budha, namun perbedaan tersebut tidak menciptakan konflik. Desa Linggoasri menjadi gambaran harmoni dalam perbedaan, dengan setiap agama memiliki tempat ibadahnya sendiri. Penulisan ini menyoroti pentingnya keselarasan beragama di Indonesia, di mana masih terdapat catatan kelabu dalam kerukunan umat beragama. Konflik sering dipicu oleh perbedaan agama dan kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama. Upaya untuk mewujudkan kerukunan umat beragama perlu terus ditingkatkan, dan Desa Linggoasri memberikan contoh positif.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, menggali pengalaman subyektif masyarakat Linggoasri terkait perbedaan keyakinan dan keselarasan beragama. Komunikasi antarumat beragama di Linggoasri dijelaskan sebagai faktor penting dalam membangun pemahaman dan kerukunan di tengah perbedaan. Penulisan ini juga memberikan gambaran bahwa perbedaan keyakinan tidak selalu menimbulkan konflik jika dielola dengan bijak dan didukung oleh komunikasi yang baik. Desa Linggoasri memberikan pelajaran tentang bagaimana masyarakat dengan keragaman agama dapat menciptakan kerukunan dan harmoni dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
a.azra. (2013). keselarasan beragama: pilar kerukunan di indonesia. mizan publika.
andreas, d. (2019). relevansi keselarasan ajaran delapan jalan kebenaran dan sepuluh perintah allah dalam hidup beragama. osf.io.
hermawan, w. (n.d.). komunikasi antar umat berbeda agama. kom dan realitas sosial, 2010.
marpah. (2019). toleransi dan interaksi sosial antar pemeluk agama di cigugur kuningan. harmoni.
moh.rosyid. (2014). keselarasan hidup beda agama dan aliran : interaksinahdliyin, kristiani,buddhis dan ahmadi di kudus,. fikrah.
sukoharjo, S. (2023). kebebasan memeluk agama dan kepercayaan sebagai HAM. jdih.sukoharjokab.go.id.
yunus, m. (2017). implementasi nilai-nlai toleransi beragama pada pembelajaran pendidikan agama islam. al-islah.
Z.abdullah. (2016). media sosial,komunikasi sosiologi-interaksi sosial dan sosiologi komunikasi di era digital. sosiologi usantara, 37-46.
[1] Moh.Rosyid, keselarasan hidup beda agama dan aliran: interaksi nahdliyin, kristiani, buddhis dan ahmadi di kudus, jurnal fikrah,vol.2, 2014.
[2] Muhammad yunus, implementasi nilai-nilai toleransi beragama pada pembelajaran pendidikan agama islam, jurnal al-islah, 2017
[3] Marpuah, toleransi dan interaksi sosial anatar pemeluk agama di cigugur kuningan,jurnal harmoni, 2019
[4] Azra, A. (2013). Keselarasan Beragama: Pilar Kerukunan di Indonesia. Mizan Publika.
[5] Moh.Rosyid, keselarasan hidup beda agama dan aliran: interaksi nahdliyin, kristiani, buddhis dan ahmadi di kudus, jurnal fikrah,vol.2,hlm.90, 2014
[6] andreas danar, relevansi keselarasan ajaran delapan jalan kebenaran dan sepuluh perintah allah dalam hidup beragama, jurnal osf.io, 2019
[7] SETDA Sukoharjo, Kebebasan memeluk agama dan kepercayaan sebagai HAM, https://jdih.sukoharjokab.go.id/, 2023
[8] Abdullah, Z. (2016). Media Sosial, Komunikasi Sosiologi-Interaksi Sosial dan Sosiologi Komunikasi di Era Digital. Jurnal Sosiologi Nusantara, 1(2), 37-46.
[9] Wawan hwermawan, komunikasi anatarumat berbeda agama, jurnal kom dan realitas sosial, vol.1, 2010

