• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Pekerja Tambang: Kesehatan Mental di Tengah Target yang Tidak Realistis

Editor Redaksi
8 Juni 2026
in Kolom Opini

JurnalPost.com – Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek yang sangat penting dalam industri pertambangan karena sektor ini memiliki tingkat risiko yang tinggi dibandingkan banyak sektor pekerjaan lainnya. Selama ini, pembahasan mengenai K3 sering kali berfokus pada keselamatan fisik, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD), pencegahan kecelakaan alat berat, serta penerapan prosedur kerja yang aman. Namun, menurut saya, kesehatan mental pekerja juga harus menjadi bagian utama dari penerapan K3, terutama ketika pekerja menghadapi target produksi yang tidak realistis dan tekanan kerja yang berlebihan.

Berdasarkan studi kasus di Kawasan Industri Nikel Teluk Weda (IWIP), terdapat perhatian terhadap kondisi kesehatan mental pekerja yang bekerja di lingkungan industri dengan tuntutan produksi yang tinggi. Target yang terus meningkat dapat menimbulkan tekanan psikologis, terutama jika tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup, sistem kerja yang sehat, dan dukungan dari perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, pekerja dapat mengalami stres, kelelahan mental, kecemasan, hingga burnout. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat memengaruhi keselamatan kerja secara keseluruhan.

Menurut saya, kesehatan mental memiliki hubungan yang sangat erat dengan keselamatan kerja. Pekerja yang mengalami stres berat cenderung mengalami penurunan fokus, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Di lingkungan pertambangan yang penuh risiko, kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Kesalahan kecil dalam mengoperasikan alat berat atau mengabaikan prosedur keselamatan dapat berakibat fatal bagi pekerja maupun rekan kerjanya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental pekerja sebenarnya merupakan salah satu bentuk pencegahan kecelakaan kerja.

Selain itu, perusahaan perlu menyadari bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh tingginya target produksi, tetapi juga oleh kondisi fisik dan mental tenaga kerja. Jika pekerja terus-menerus ditekan untuk mencapai target yang sulit dicapai, motivasi kerja dapat menurun dan hubungan antara pekerja dengan perusahaan menjadi kurang harmonis. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan tingginya tingkat pergantian tenaga kerja serta menurunkan efektivitas operasional perusahaan.

Sebagai solusi, perusahaan perlu menerapkan program K3 yang lebih menyeluruh dengan memasukkan aspek kesehatan mental. Program tersebut dapat berupa layanan konseling, pelatihan manajemen stres, evaluasi beban kerja secara berkala, serta pemberian waktu istirahat yang memadai. Selain itu, perusahaan juga perlu menetapkan target produksi yang realistis dan mempertimbangkan kemampuan pekerja di lapangan.

Kesimpulannya, kesehatan mental merupakan bagian penting dari K3 yang tidak boleh diabaikan. Dalam industri pertambangan, pekerja yang sehat secara mental akan lebih mampu bekerja dengan aman, fokus, dan produktif. Oleh karena itu, perusahaan perlu memberikan perhatian yang sama antara keselamatan fisik dan kesehatan mental agar tercipta lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

Reki dasuki mursid
Mahasiswa universitas pamulang

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.