• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kenapa Bank Syariah Tidak Dapat “Menjanjikan” Keuntungan dan Kenapa Itu Justru Menjadi Kelebihan Mereka?

Editor Redaksi
14 April 2026
in Kolom Opini

JurnalPost.com – “Persentase keuntungannya berapa?” Pertanyaan ini hampir selalu muncul ketika seseorang berencana untuk menyimpan atau menginvestasikan uangnya. Dalam sistem keuangan konvensional, jawabannya jelas: ada bunga, ada angka, dan ada kepastian. Ini memberikan rasa nyaman bagi banyak orang karena hasilnya dapat diperkirakan sejak awal.
Namun, ketika berhadapan dengan bank syariah, jawabannya berubah: keuntungan tidak dapat dijanjikan di awal. Bagi sebagian orang, situasi ini terasa aneh, bahkan dianggap sebagai kekurangan. Mengapa sebuah bank tidak dapat memberikan angka pasti seperti lembaga keuangan lainnya?

Namun, perbedaan ini bukanlah karena sistem yang lemah, melainkan karena metode operasionalnya memang berbeda sejak awal.

Sistem yang Berbeda: Bukan Bunga, tapi Bagi Hasil
Bank syariah tidak menerapkan sistem bunga. Sebagai alternatif, mereka menggunakan akad kerjasama, salah satunya adalah bagi hasil (mudharabah).

Dalam skema ini, bank dan nasabah saling berbagi hasil dari kegiatan usaha yang dilakukan. Ini berarti, keuntungan tidak ditetapkan dalam jumlah tetap di awal, melainkan bergantung pada kinerja aktual dari dana yang dikelola.

Jika usaha berjalan dengan baik, keuntungan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Namun, jika hasilnya menurun, bagi hasil akan disesuaikan.

Tidak seperti sistem bunga yang memberikan imbalan tetap, sistem syariah bersifat fleksibel. Tidak ada janji “sekian persen” di awal karena hasil yang dibicarakan belum terjadi.

Dengan kata lain, keuntungan tidak bersifat independen, tetapi selalu berkaitan dengan aktivitas ekonomi yang nyata.

Bukan Kekurangan, Tapi Mekanisme yang Berbeda
Saat bank syariah tidak menjanjikan keuntungan, banyak orang langsung menilai ini sebagai kekurangan. Namun, dalam banyak aspek, hal ini bisa menjadi sebuah keunggulan.

Pertama, sistem ini lebih adil. Tidak ada pihak yang memperoleh keuntungan pasti tanpa mempertimbangkan keadaan usaha. Risiko dan hasil menjadi hal yang dibagi bersama, bukan hanya ditanggung oleh satu pihak saja.

Kedua, sistem ini lebih berhubungan dengan ekonomi riil. Keuntungan yang diperoleh benar-benar berasal dari kegiatan seperti perdagangan, produksi, atau layanan—bukan sekadar perhitungan finansial di atas kertas.

Ketiga, pendekatan ini mendorong transparansi. Karena hasil bergantung pada kinerja, maka pengelolaan dana harus lebih transparan. Nasabah tidak hanya melihat angka, tetapi juga dapat memahami dari mana keuntungan tersebut berasal.

Tantangan: Mengapa Masih Terasa “Kurang Menarik”?
Walaupun memiliki kelebihan, sistem ini tetap menghadapi berbagai kendala.
Banyak orang masih lebih suka pada kepastian angka. Tanpa adanya imbal hasil yang tetap, muncul keraguan, terutama bagi mereka yang belum memahami mekanismenya. Selain itu, sistem bagi hasil dianggap lebih rumit dibandingkan bunga yang bisa dilihat secara langsung.

Dalam implementasinya, bank syariah umumnya memberikan estimasi berdasarkan kinerja sebelumnya. Namun, karena tidak bersifat janji, hal ini sering kali dianggap kurang meyakinkan bagi sebagian calon nasabah.

Perbedaan ini bukan hanya masalah teknis, tetapi juga tentang cara pandang.
Sistem syariah tidak memberikan janji keuntungan, karena memang tidak memisahkan hasil dari usaha yang dijalankan.

Penulis : Nurul Inayah Muhamad
Mahasiswa Ekonomi Syari’ah, IPB University
Dosen Pengampu : Dr. Ranti Wiliasih S.P., M.Si

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.