• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

KEKHAWATIRAN AMERIKA SERIKAT TERHADAP HUBUNGAN CHINA DAN KUBA

Editor Redaksi
7 Juli 2023
in Kolom Opini

Oleh: Syarifah Nurhanifa Azzahra
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
JurnalPost.com – Amerika Serikat dan China memiliki hubungan yang kompleks sejak lama. Ketegangan antar keduanya dimulai sejak tahun 1949 ketika RRC didirikan oleh ketua komunis Mao Zedong dan mengalahkan Partai Nasionalis yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek. Ketegangan kedua negara tersebut berlanjut pada peristiwa lainnya seperti Perang Korea, Krisis Selat Taiwan, Pemberontakan Tibet, Konflik Perbatasan Sino-Soviet dan akhirnya sedikit mereda ketika China melangsungkan diplomasi pingpong terhadap Amerika Serikat yang juga berujung pada status China sebagai negara di PBB. Hingga kini, ketidakstabilan hubungan kedua negara tersebut masih terus berlanjut dalam berbagai hal.
 
Kuba merupakan negara pulau yang berbentuk republik terletak di selatan Florida, Amerika Serikat. Meskipun secara geografi berdekatan, namun negara ini memiliki hubungan bilateral yang tidak baik dengan Amerika Serikat karena sebelumnya memiliki hubungan yang erat dengan Uni Soviet dan menjadi tempat misil nuklir Soviet. Kolonisasi Amerika Serikat terhadap Kuba semakin nyata sejak runtuhnya Uni Soviet. Hubungan kedua negara ini sempat membaik pada masa pemerintahan Barack Obama, namun tidak bertahan lama pada pemerintahan setelahnya.
 
Pada Juni 2023, Amerika Serikat mengumumkan kepada media akan keberadaan fasilitas mata-mata China di Kuba sebagaimana telah dicurigai sejak tahun 2019. Akan tetapi dibantah oleh Menteri Luar Negeri Kuba akan tuduhan yang dianggap tidak berdasar. Melihat latar belakang hubungan Amerika Serikat dengan China maupun dengan Kuba yang tidak selalu harmonis, namun bukan berarti menjadi suatu halangan bagi hubungan diplomatik China dan Kuba itu sendiri. Lalu apa sebenarnya yang menjadi fokus Amerika Serikat terhadap hubungan China dengan Kuba?, Bagaimana sudut pandang ilmu hubungan internasional terhadap hubungan China dengan Kuba?
 
Persaingan Ekonomi China dan Amerika Serikat
Berdasarkan sejarah, Amerika Serikat dan China kerap terlibat sebagai pihak yang berlawanan. Ketegangan antar keduanya sudah dimulai pada tahun 1949 ketika RRC didirikan oleh ketua komunis Mao Zedong, pada saat itu Partai Komunis mengalahkan Partai Nasionalis yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek. Pemimpin Partai Nasionalis beserta pasukannya melarikan diri ke Taipei dan membentuk negara sendiri yaitu Taiwan. Amerika Serikat berpihak kepada para nasionalis untuk melakukan pemisahan diri dari China dan dalam melawan invasi jepang selama perang dunia II. Kemudian ketegangan kedua negara ini juga berlanjut pada peristiwa sejarah lainya seperti Perang Korea, Krisis Selat Taiwan, Pemberontakan Tibet, Konflik Perbatasan Sino-Soviet dan lain-lain.
 
Namun pada april 1971 di tengah panas nya hubungan China dan Amerika Serikat, China mengundang tim pimpong Amerika Serikat untuk datang ke China beserta para jurnalis. Peristiwa ini merupakan kali pertama orang Amerika Serikat diizinkan memasuki China. Tidak lama setelah peristiwa tersebut PBB memutuskan untuk mengakui China sebagai negara. Setelah Diplomasi Pimpong terjadi hubungan kedua nya pasang surut mengikuti arus dari pemimpin negara masing-masing serta kepentingan negara Amerika Serikat yang masih sangat memihak Taiwan sebagai sebuah negara sedangkan pengakuan One China policy untuk dataran China sangat besar di kumandangkan. Reformasi ekonomi China dimulai ketika Wakil Perdana Menteri China memimpin yaitu Deng Xiaoping.
 
Kemudian keduanya Amerika dan China melakukan normalisasi hubungan perdagangan pada tahun 2000 dengan ditandai dengan Undang-undang Hubungan China dan AS yang ditandatangani oleh Presiden Clinton. Perkembangan ekonomi China setelah itu menjadi sangat pesat, dimana China menjadi mitra dagang dan pemangku ekonomi kedua terbesar setelah Amerika. China juga melakukan peningkatan senjata di bidang militer disamping giat mengembangkan ekonominya, sehingga Amerika merasa terancam dan tersaingi.
 
Pada kepemimpinan Donald Trump diberlakukan tarif tinggi untuk barang impor dari China sebagai bentuk amarah atas kejadian penangkapan warga China dengan tuduhan pencurian teknologi dan Intelektual Amerika Serikat. Amerika juga melayangkan tuduhan-tuduhan lainya atas China sebagai pengambil keuntungan dari aturan perdagangan bebas sehingga merugikan banyak perusahaan Amerika Serikat yang beroperasi di China. Ketegangan ini berlangsung hingga sekarang yang berimbas pada hubungan ekonomi dan keamanan. Perbedaan ideologi serta sistem pemerintahan juga memperkeruh hubungan keduanya.
 
Intervensi Amerika terhadap Kuba
Kuba adalah negara yang letak geografisnya dekat dengan Amerik. Pada saat perang dunia II, Kuba menjadi wilayah kekuasaan Uni Soviet yang pada saat itu adalah rival Amerika Serikat. Pada tahun 1959 Fidel Castro naik jabatan sebagai pemimpin negara Kuba yang menganut paham sosialis revolusioner. Dia menggantikan pemimpin sebelumnya Batista yang anti komunis dan pro terhadap Amerika. Castro menggulingkan kepemimpinan Batista yang diktator dan mulai mendekatkan diri kembali ke Uni Soviet. Ketegangan Amerika dan Kuba dimulai kembali, Castro melakukan banyak perubahan pada kebijakan Amerika di Kuba termasuk pajak atas impor Amerika Serikat dan membuat perjanjian dagang dengan Uni Soviet.
 
Amerika Serikat membalas perbuatan Kuba dengan membatasi kuota impor gula pada negara Kuba, meniadakan aset Kuba yang berada di Amerika Serikat, lalu melakukan embargo ekonomi perdagangan dan memutus hubungan diplomasi. Amerika Serikat merasa terancam dengan hubungan kerjasama kembali Kuba dan Uni Soviet. Melalui satelit, Amerika melakukan mata-mata, lalu pada Oktober 1962 Amerika Serikat mengumumkan bahwa Kuba mengizinkan Uni Soviet untuk membangun pangkalan rudal militer di Kuba yang diarahkan ke wilayah Amerika Serikat. Hubungan keduanya semakin memanas, tetapi Amerika Serikat melakukan negosiasi dan juga ancaman balik terhadap Kuba sehingga Uni Soviet bersedia untuk menarik kembali rudal nya.
 
Kuba dengan krisis ekonomi yang meningkat akibat lonjakan harga minyak, embargo ekonomi AS, serta banyak nya warga negara Kuba yang melakukan migrasi keluar negeri termasuk ke Amerika Serikat. Keduanya kemudian menyetujui perjanjian imigrasi dengan jumlah terbatas. Kemudian saat kepemimpinan Presiden Obama dan pensiunnya Fidel Castro, matahari perdamaian mulai terlihat. Presiden Obama melonggarkan pembatasan perjalanan dan pengiriman uang antara Amerika dan Kuba yang sebelumnya ini sulit untuk dilakukan, meskipun embargo ekonomi tetap masih berjalan. Tidak lama setelah itu Raul Castro dan Obama berhasil melakukan perdamaian kembali antara kedua nya dan mulai menyambung kembali hubungan diplomasi serta penghapusan embargo ekonomi.
 
Perdamaian ini tidak berlangsung lama karena pergantian presiden Obama ke Donald Trump yang sangat berbeda dalam kebijakan nya. Trump mulai membatasi mobilisasi antara Amerika dan Kuba meskipun tidak memutuskan hubungan diplomatik. Hal ini menyebabkan hubungan kedua nya kembali merenggang dan berlanjut pada pembatasan staf kedutaan Kuba di Amerika Serikat, lalu penarikan Staf Amerika Serikat  di Kuba dan lain-lain.
 
Hubungan Bilateral China dan Kuba
China dan Kuba sendiri memiliki hubungan yang terjalin erat sejak pertengahan abad ke-19, salah satunya ditunjukkan dengan adanya perekrutan masyarakat China untuk bekerja pada pabrik Gula di Kuba. Pada saat kemenangan Fidel Castro, China turut mengakui Kuba sebagai sebuah negara di tahun 1960. Latar Belakang sebagai negara yang revolusioner serta berpaham anti-imperialisme membuat kerjasama antar kedua semakin erat. Tetapi China pada saat itu belum melakukan bantuan ekonomi yang banyak terhadap Kuba yang juga didukung oleh perpecahan Sino-Soviet yang semakin memperburuk keadaan.
 
Pada tahun 1992 krisis ekonomi yang berlarut-larut terjadi di Kuba setelah Amerika Serikat melakukan embargo ekonomi. Ribuan masyarakat Kuba melakukan imigrasi ke negara lain akibat kenaikan harga minyak serta kekurangan bahan pokok. Diwaktu yang sama China sedang dalam pengembangan ekonomi yang bagus dan aktif dalam bisnis global. Kuba dalam kondisi yang terendah kembali mendekati China untuk kerjasama mitra perdagangan dan investor.
Hubungan kedua nya semakin dekat ditandai dengan kunjungan pemimpin antar negara. Akibat dari hubungan China dan Kuba yang semakin erat, China menjadi investor terbesar dari Asia di Kuba dan pulau Karibia. Kemudian Kerjasama ini bertambah luas pada sektor telekomunikasi, pertambangan dan energi. China juga mendapatkan timbal balik berupa pasar konsumen.
 
Kerjasama ini mengalami pasang surut saat krisis ekonomi Kuba yang memburuk pada tahun 2014, kemudian China melonggarkan hubungannya. Tetapi setelah berakhirnya masa kepemimpinan Fidel Castro yang digantikan oleh Raul Castro, Kuba mengalami revolusi ekonomi. Kuba membutuhkan banyak pengembangan infrastruktur khususnya transportasi dan telekomunikasi. Meskipun api ketegangan dengan Amerika Serikat perlahan mengecil pada saat kepemimpinan Obama namun ekonomi Kuba kembali krisis ketika Trump membatasi hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba yang berakibat Kuba harus melakukan revolusi ekonomi.
 
Pergantian kepemimpinan membuat Kuba mempelajari bagaimana China sebagai negara yang sebelumnya juga mengalami reformasi ekonomi pada saat pergantian kepemimpinan melakukan reformasi. Reformasi Ekonomi membawa China berkembang maju namun tetap berpegang dengan ideologi komunis di tengah gempuran demokrasi oleh Amerika Serikat. Peningkatan kedekatan hubungan China dan Kuba membuat China mulai ikut permainan yang dilakukan Amerika Serikat. Sebelumnya, Amerika Serikat melakukan intervensi terhadap kepentingan China dalam kasus Laut China Selatan. Hal ini mengundang China untuk memanfaatkan Kuba yang mendukung China dan memiliki letak geografis yang berdekatan dengan Amerika Serikat untuk menentang dominasi dan intervensi Amerika Serikat di laut China selatan dan ekonomi global.
 
Kedekatan yang ditunjukan oleh China dan Kuba didukung oleh kesamaan kepentingan nasional antar keduanya. Ketika Kuba mengalami krisis ekonomi, China menunjukkan empatinya dengan membantu Kuba. Disisi lain melihat Amerika Serikat yang turut ikut campur dalam urusan China khususnya pada intervensi kasus Laut China Selatan, membuat China mengundang Kuba untuk membantunya dalam menghalangi intervensi Amerika Serikat. Hal ini sesuai dengan Robert O Keohane (1984) yang mengakui bahwa kerjasama antar negara bukan hal yang mudah namun dapat bermanfaat bagi kedua negara tersebut. Meskipun keduanya mengalami pasang surut dalam hubungan diplomasinya namun dapat saling bermanfaat ketika salah satunya membutuhkan.
 
 Kekhawatiran Amerika Serikat terhadap Hubungan China dan Kuba
Hubungan yang dibangun dengan dasar yang tidak terlalu baik menimbulkan peningkatan kecurigaan antara satu sama lain. Kabar kedekatan antara Kuba dan China mendapatkan respon yang luar biasa oleh pihak Amerika Serikat. Dilansir melalui berita D.W pada Rabu 06/09/2023, Amerika Serikat memiliki kekhawatiran yang besar atas kedekatan China dan Kuba dengan menuduh adanya niat untuk mendirikan stasiun mata-mata. Keduanya diduga mendirikan penyadapan elektronik di Kuba untuk melakukan mata-mata komunikasi elektronik Amerika Serikat dari jarak yang dekat. Peletakan spy based tersebut di bangun berjarak sekitar 100 mill dari Florida. Tidak hanya itu, menurut laman berita The Guardian seorang pejabat Amerika mengatakan bahwa China telah mengembangkan fasilitas terkait pengumpulan tim intelijensinya di Kuba sejak tahun 2019.
Akan tetapi China membantah semua tuduhan yang dilimpahkan oleh Amerika Serikat begitupun dengan Kuba. Isu Taiwan serta persaingan ekonomi menjadi alasan yang mendasari tuduhan yang dilayangkan Amerika Serikat. Ditambah lagi Amerika memiliki hubungan yang tidak stabil dengan kedua negara tersebut.
Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat sesuai dengan pendapat Kenneth Waltz dalam perspektifnya terkait neorealisme. Neo realisme menekankan struktur internasional sebagai faktor penting dalam membentuk perilaku negara, sebagaimana sistem internasional yang tidak memiliki pemerintah dunia yang dianggap efektif sehingga negara bertindak anarki dan berinteraksi dalam kondisi ketidakpastian. Waltz mengakui bahwa negara bertindak berdasarkan kalkulasi rasional terkait kekuatannya sehingga mengutamakan keamanan dengan berusaha mempertahankan diri dan mencegah dominasi negara lain. Dalam hal ini, Amerika Serikat berupaya mencegah kerjasama antara China dan Kuba karena kekhawatiran akan dominasi keduanya ketika menjadi satu kesatuan kekuatan.
 
Hans Morgenthau dalam mengembangkan teori neorealisme meyakinkan adanya prinsip dasar yang menekankan pada persaingan, kekuatan, kekuasaan, kepentingan nasional, dan diplomasi. Tuduhan yang dilayangkan Amerika Serikat terhadap China dan Kuba menunjukkan bahwa adanya kekhawatiran akan kekuatan militer jika keduanya bergabung yang nantinya dapat menimbulkan persaingan khususnya antara China dan Amerika, melemahnya kekuatan dan kekuasaan Amerika terhadap China maupun Kuba,  serta mempengaruhi kepentingan nasional Amerika itu sendiri. Amerika Serikat bersikap sebagai aktor yang memandang aktor-aktor lain nya di panggung internasional seperti sebuah struktur Internasional. Amerika Serikat melihat China mulai menyebarkan pengaruh nya mulai dari Asia, Eropa sampai dengan Amerika Latin termasuk Kuba merupakan salah satu upaya China untuk menjadi yang paling berkuasa dalam struktur Internasional untuk mengalahkan Amerika Serikat. Ini bertujuan untuk mempertahankan struktur internasional yang anarkis agar tidak ada kekuasaan lain selain Amerika Serikat di panggung internasional.
 
Sebelumnya, Kuba juga pernah dijadikan military base Uni Soviet karena letaknya yang sangat strategis dan dapat menyerang Amerika Serikat sewaktu-waktu. Hal yang sama dikhawatirkan dengan adanya perang dagang Amerika China dan menguatnya hubungan China Kuba. Selain itu Kuba dan China juga memiliki kesamaan dalam ideologi komunisme dan tujuan negara, sehingga solidaritas dan hubungan yang baik lebih mudah terjalin. Dalam perspektif neorealisme dapat dilihat bahwa tuduhan Amerika Serikat merupakan bentuk pertahanan diri baik kekuatan, kekuasaan dan kepentingan nasionalnya akan hubungan China dan Kuba. Hal ini juga didukung dengan hingga kini belum ada konfirmasi terkait pembenaran military base China di Kuba baik dari pihak China maupun Kuba itu sendiri.
 
Berbagai upaya dilakukan oleh Amerika Serikat meskipun dengan sangat berhati-hati seperti pendekatan dengan negara-negara sekitar China, meningkatkan operasi kontra-intelijen di Kuba, operasi pengumpulan informasi, serta mempertimbangkan Penutupan atau relokasi fasilitas militer dan diplomatik Amerika Serikat di Kuba, bersamaan dengan sanksi dan embargo lebih lanjut. Disisi lain China juga semakin agresif dalam gerakannya untuk mendekati wilayah Amerika Latin seperti Venezuela, Honduras, Nicaragua dan beberapa wilayah lainya.
 
Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Amerika memiliki kekhawatiran khusus akan hubungan kerjasama China dan Kuba. Hal ini dikarenakan ketakutan akan dominasi China di kancah internasional, salah satunya melalui pemanfaatan hubungan bilateral dengan Kuba dalam bidang ekonomi dan keamanan. Berbagai upaya dilakukan oleh Amerika Serikat untuk menghalangi hal tersebut, karena apabila China dan Kuba dapat saling mendukung dalam ekonomi dan militer maka kekuatan Amerika Serikat pasti tersaingi. Dalam perspektif neo realisme, yang dilakukan oleh Amerika serikat merupakan upaya mempertahankan kekuatan, kekuasaan, dan kepentingan nasionalnya.
 
 
Referensi

Bouchard, Joseph. 2023. “What Should the US Do About China’s Spy Facility in Cuba?” The Diplomat – The Diplomat is a current-affairs magazine for the Asia-Pacific, with news and analysis on politics, security, business, technology and life across the region., JUNE 26, 2023. https://thediplomat.com/2023/06/what-should-the-us-do-about-chinas-spy-facility-in-cuba/.

China Briefing. 2022. “China’s Bilateral Trade and Investment Outlook with Cuba.” November 25, 2022. https://www.china-briefing.com/news/china-cuba-bilateral-trade-and-investment-prospects/.

“China has used Cuba as spy base for years, US official says.” 2023. The Guardian. https://amp.theguardian.com/world/2023/jun/11/china-has-used-cuba-as-spy-base-for-years-us-official-says.

DW. 2023. “Cuban, US governments deny secret Chinese spy base in Cuba – DW – 06/09/2023.” June 9, 2023. https://amp.dw.com/en/cuban-us-governments-deny-secret-chinese-spy-base-in-cuba/a-65864417.

Fischer, Markus. 2019. “Open Journal of Political Science.” On the Ontology of Structural Realism 9:145-162. DOI: 10.4236/ojps.2019.91008.

MacDonald, Scott B. 2018. “Cuba’s Changing of the Guard and Sino-Cuban Relations.” CSIS. https://www.csis.org/analysis/cubas-changing-guard-and-sino-cuban-relations.

P. Strobel, Warren, and Gordon Lubold. 2023. “Cuba to Host Secret Chinese Spy Base Focusing on U.S. – WSJ.” The Wall Street Journal. https://www.wsj.com/articles/cuba-to-host-secret-chinese-spy-base-focusing-on-u-s-b2fed0e0.

“Timeline: U.S.-China Relations.” n.d. Council on Foreign Relations. Accessed July 7, 2023. https://www.cfr.org/timeline/us-china-relations.

“Timeline: U.S.-Cuba Relations.” n.d. Council on Foreign Relations. Accessed July 7, 2023. https://www.cfr.org/timeline/us-cuba-relations.

VOA. 2023. “Analysts: China’s Plans for Cuba May Go Beyond Spy Base.” June 29, 2023. https://www.voanews.com/a/analysts-china-s-plans-for-cuba-may-go-beyond-spy-base/7159210.html.

Whyte, Alexander. 2012. “E-International Relations.” Neorealism and neoliberal institutionalism: born of the same approach?, (June). ISSN 2053-8626.

Yeping, Yin. 2022. “China-Cuba relations to tap in more collaboration in green, health and digital areas under BRI: experts.” Global Times. https://www.globaltimes.cn/page/202211/1280397.shtml.
 
 

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.