MALANG, JurnalPost.com – Kampung Wisata Tempe Sanan terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas layanan wisata edukasi. Tak hanya mempertahankan reputasinya sebagai sentra industri tempe di Kota Malang, kawasan ini kini memperkuat kompetensi pelaku UMKM melalui pelatihan public speaking sekaligus menghadirkan buku panduan digital produksi tempe ramah lingkungan yang dapat diakses wisatawan melalui kode QR.

Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Malang bertajuk “Peningkatan Profesionalisme dan Keberlanjutan UMKM Kampung Wisata Tempe Sanan melalui Pelatihan Public Speaking dan Penyusunan Buku Panduan Produksi Tempe Ramah Lingkungan.” Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu (11/7/2026) diikuti oleh 25 peserta yang merupakan pelaku UMKM sekaligus anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Wisata Tempe Sanan.
Ketua Tim PkM (Dyah Metha -2026), mengatakan bahwa pengembangan wisata edukasi tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam menyampaikan informasi kepada pengunjung. “Wisatawan yang datang ke Kampung Sanan tidak hanya ingin membeli tempe, tetapi juga memahami cerita, proses produksi, dan nilai keberlanjutan yang diterapkan masyarakat. Karena itu, kemampuan komunikasi dan media edukasi digital menjadi bagian penting dalam meningkatkan pengalaman wisata,” ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Tim PkM menghadirkan pelatihan public speaking dengan narasumber Dr. Ari Kamayanti. Berbeda dengan pelatihan yang hanya berisi teori, peserta lebih banyak mengikuti simulasi pelayanan wisata. Mereka berlatih menyambut tamu, memperkenalkan sejarah Kampung Sanan, menjelaskan proses produksi tempe, mengenalkan produk unggulan, hingga menjawab pertanyaan pengunjung secara komunikatif.

Menurut Dr. Ari Kamayanti, public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga keterampilan membangun hubungan dengan pengunjung. “Ketika masyarakat mampu menjelaskan proses pembuatan tempe dengan bahasa yang sederhana, ramah, dan percaya diri, wisatawan akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berkesan,” jelasnya.
Selain pelatihan, Tim PkM juga meluncurkan buku panduan digital mengenai produksi tempe ramah lingkungan. Buku tersebut memuat informasi mengenai tahapan produksi tempe, mulai dari pemilihan bahan baku, perendaman, perebusan, fermentasi hingga menjadi produk siap konsumsi. Panduan ini dapat diakses dengan memindai kode QR yang ditempatkan di sejumlah titik di kawasan wisata sehingga pengunjung dapat mempelajari materi secara mandiri.

Ketua Pokdarwis Kampung Wisata Tempe Sanan, Dra. Trinil Sri Wahyuni, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pelatihan ini membantu masyarakat menjadi lebih percaya diri ketika menerima kunjungan wisatawan. “Selama ini kami sering menerima tamu, tetapi belum semua warga terbiasa menjelaskan proses produksi maupun memperkenalkan Kampung Sanan. Melalui pelatihan ini kami bisa langsung berlatih sesuai situasi yang kami hadapi,” tuturnya.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta pada seluruh materi pelatihan. Pemahaman mengenai tujuan komunikasi meningkat dari 20 persen menjadi 92 persen, sementara indikator lainnya juga mengalami peningkatan setelah peserta mengikuti sesi materi dan praktik. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis simulasi efektif meningkatkan kemampuan komunikasi pelaku UMKM.
Melalui pelatihan public speaking dan penyediaan buku panduan digital, Kampung Wisata Tempe Sanan diharapkan semakin siap memberikan pelayanan yang profesional, informatif, dan ramah kepada wisatawan. Inovasi ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat posisi Kampung Sanan sebagai destinasi wisata edukasi unggulan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mendukung keberlanjutan UMKM lokal.




