• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kajian Ustadz Hanan Attaki (UHA) Sharing Time,Adu Outfit,atau Ikut Trend Tiktok?

Editor Redaksi
28 Maret 2024
in Kolom Opini
Sumber gambar : Instagram.com/ayah_amanah

Oleh: (Moch. Fiqi Firmansyah,Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)

JurnalPost.com – “Sharing Time” Kajian Ustadz Hanan Attaki (UHA) akhir-akhir ini sedang digemari oleh orang,pada khususnya dikalangan pemuda atau anak muda. Yang awalnya dari banyaknya video kajian beliau di media sosial khususnya Tiktok yang menampilkan keseruan,Quotes menarik dari beliau yang kebetulan sangat relate dengan anak muda,isi dakwah yang disampaikan oleh beliau biasanya berkaitan dengan kehidupan sehari- hari,jodoh,kesabaran,soal rejeki,dan lain-lain yang anak muda bisa relate.

Oleh karena itu,tidak heran jika setiap ada acara kajian Ustadz Hanan Attaki ini selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan tidak sedikit yang rela berebut tempat untuk bisa duduk dibarisan paling depan agar. Hingga pada akhirnya tidak sedikit anak muda yang tertarik dan ingin mengikuti kajian entah dengan tujuan Sharing Time mencari ilmu,adu outfit,atau hanya mengikuti trend tiktok saja?

“Sharing Time” Kajian Ustadz Hanan Attaki (UHA) ada dibeberapa kota di Indonesia seperti Jakarta,Yogyakarta,Semarang,Bandung,Bogor hingga Surabaya. Tema yang dibawakan oleh Ustadz Hanan Attaki (UHA) ini berbeda-beda setiap kotanya,dan tentunya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari,jodoh,kesabaran,soal rejeki,quotes dan lain-lain yang anak muda bisa relate. Dilansir dari halaman Instagram ayah_amanah Kajian Ustadz Hanan Attaki (UHA) umumnya dibagi menjadi 2 hingga 3 sesi. Selain Ustadz Hanan Attaki,beliau juga ditemani salah satunya oleh Lora Kadam Sidik,sosok seorang pendakwah yang terkenal di platform media sosial Tiktok,dan bintang tamu lainnya yang berbeda-beda setiap kota. Untuk mengikuti kajian ini,harus membayar registrasi terlebih dahulu yang dikenai biaya sekitar Rp 100.00. Biaya registrasi ini nantinya akan mendapatkan fasilitas yaitu e-sertifikat,air mineral,block note,dan juga bullpen untuk mencatat ilmu yang disampaikan pada saat kajian.

Pada setiap kajian Ustadz Hanan Attaki dengan tema yang berbeda,beliau juga memberikan waktu terhadap audience untuk bertanya,dan tidak heran jawaban-jawaban Ustadz Hanan Attaki ini dengan pembawaan Bahasa yang mudah diterima oleh kalangan anak muda juga menjawab dengan kalimat yang menyejukkan dan tidak heran audiens mengabadikan moment tersebut dan mengupload dimedia sosial seperti Tiktok menjadi sebuah kalimat- kalimat Quotes.

Ustadz Hanan Attaki memang sering menceritakan pengalaman pribadinya dalam kajian. Hal ini dianggap sebagai upaya untuk membangun kedekatan dengan jemaah, khususnya generasi muda yang lebih mudah terkoneksi dengan cerita personal. Namun, di sisi lain, sharing time yang berlebihan dikhawatirkan dapat menggeser fokus kajian dari penyampaian ilmu agama. Jemaah mungkin lebih terhibur dengan cerita Ustadz Hanan Attaki daripada memahami pesan dakwahnya.

Ustadz Hanan Attaki aktif di media sosial, termasuk Instagram,TikTok. Beliau sering membuat konten dakwah singkat di TikTok untuk menjangkau generasi muda. Hal ini menuai pro dan kontra. Pendukung Ustadz Hanan Attaki menilai bahwa penggunaan Instagram,TikTok merupakan strategi yang tepat untuk menjangkau generasi muda yang terbiasa dengan platform tersebut. Dakwah melalui media sosial dianggap lebih efektif dan mudah diterima oleh generasi muda.

Namun, ada pula yang berargumen bahwa Instagram,TikTok merupakan platform yang kurang tepat untuk menyampaikan dakwah. Konten Media sosial seperti Instagram,TikTok yang singkat dan terkesan dangkal dikhawatirkan tidak dapat menyampaikan pesan dakwah secara utuh. Ada pun beberapa audiens yang saya wawancarai dan tidak ingin disampaikan identitasnya menyampaikan bahkan dia mengikuti kajian Ustadz Hanan Attaki hanya sekedar mengikuti trend di Tiktok saja dan hanya ingi mengubah persepsi orang terhadap dirinya bahwasannya dirinya ini telah menjadi pemuda hijrah atau pemuda yang lebih baik. Salah satu audiens lainya yang saya wawancarai mengatakan bahwa dirinya mengikuti kajian Ustadz Hanan Attaki hanya berkeinginan beradu outfit sehingga dapat menjadi daya tarik lawan jenis,dan berharap bisa berkenalan dengan lawan jenis yang baik dikajian Ustadz Hanan Attaki ini. Akan tetapi ada juga audiens yang berniat lurus bahwa dirinya mengikuti kajian Ustadz Hanan Attaki ini menginginkan bahwa dirinya dapat jauh lebih baik dan menjadikan kajian Ustadz Hanan Attaki ini sebagai Recharger Iman.

Namun jika trend positf Kajian Ustadz Hanan Attaki masih berlanjut,apakah tujuan audiens sebenarnya? Apakah Sharing time,Adu Outfit,atau hanya sekedar mengikuti trend belaka?

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.