
Oleh: Kelompok Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
SURABAYA, JurnalPost.com – Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Angkatan 2022, proses bimbingan magang adalah momen yang krusial. Bukan sekadar mengejar tanda tangan, interaksi personal dengan dosen pembimbing menjadi ‘jembatan’ yang menentukan kelancaran penugasan di lapangan. Namun, di balik dinamika akademik ini, terdapat pola komunikasi yang unik dan dipengaruhi oleh faktor gender.
Sebuah mini riset yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya pada mata kuliah komunikasi dan gender menemukan adanya perbedaan nyata dalam gaya komunikasi antara dosen pria dan dosen wanita saat membimbing mahasiswa magang. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Genderlect Styles dari Deborah Tannen, yang menyebut bahwa pria dan wanita memiliki gaya komunikasi yang berbeda seperti dua “dialek” yaitu Report Talk (berorientasi pada informasi dan hasil) dan Rapport Talk (berorientasi pada hubungan dan keakraban).
Dosen Pria: Gaya Report Talk yang Fungsional
Dalam bimbingan, dosen pria cenderung berbicara langsung (to the point), ringkas, dan fokus pada hasil. Mahasiswa menilai komunikasinya formal namun tetap santai.
“Kalau dengan dosen pembimbing laki-laki, komunikasinya formal santai, tetap sopan tapi enjoy,” ujar Fa. Ra menambahkan, dosennya “langsung memberi penjelasan yang jelas dan to the point.”
Re, mahasiswi yang juga dibimbing dosen pria, sempat merasa canggung di awal. “Awalnya agak sungkan, tapi dosennya berusaha mencairkan suasana,” katanya. Gaya tegas dan efisien ini membantu mahasiswa memahami arahan dengan cepat.
Dosen Wanita: Gaya Rapport Talk yang Empatik
Berbeda dengan itu, dosen wanita menunjukkan gaya komunikasi yang lebih empatik dan membangun kedekatan. Mereka tidak hanya menekankan hasil, tetapi juga proses dan kenyamanan mahasiswa.
“Kalau sama dosen perempuan itu lebih santai, sering dikasih nasihat juga,” kata Al. Sementara Da, mahasiswa laki-laki, menilai suasana bimbingan terasa terbuka. “Bu dospem orangnya santai, bisa diajak diskusi, bahkan curhat sedikit,” ujarnya.
Sikap yang ramah dan suportif membuat mahasiswa lebih berani menyampaikan pendapat. Bagi mahasiswa, gaya komunikasi dosen perempuan terasa hangat dan mendorong rasa percaya diri.
Hambatan dalam Bimbingan Magang
Meski proses bimbingan magang berjalan lancar, terdapat juga hambatan kecil baik secara teknis maupun psikologis. Ga mengatakan, ketika dosen perempuan sedang sibuk, informasi yang diberikan kadang kurang detail. Da juga menyesuaikan jadwal agar bimbingan tetap lancar. Al mengaku sempat takut salah ketika menyampaikan laporan, sedangkan Az menghadapi kesulitan karena waktu bimbingan terbatas dan respons pesan yang kadang lama.
Untuk dosen pria, hambatan juga terkait waktu dan komunikasi secara daring. Fa mengatakan bahwa jadwal pertemuan harus diatur dengan baik, sementara Ra mengatakan waktu bimbingan sering terbatas karena kesibukan magang. Re merasa agak canggung di awal bimbingan, dan Ri mengaku sering menunggu balasan pesan WhatsApp yang lama.
Meskipun begitu, seluruh mahasiswa berhasil menyesuaikan diri. Mereka mencari cara agar komunikasi tetap efektif baik dengan menyesuaikan waktu, berkomunikasi secara langsung, maupun saling berbagi informasi dengan teman.
Menjembatani Jurang Komunikasi
Teori Genderlect Styles dari Deborah Tannen membantu menjelaskan mengapa gaya komunikasi dosen pria dan wanita bisa berbeda. Pria cenderung berorientasi pada hasil dan efisiensi, sedangkan wanita lebih menekankan hubungan dan empati. Dalam konteks bimbingan magang, perbedaan itu tidak berarti salah satu lebih baik, tetapi menunjukkan dua cara berkomunikasi yang saling melengkapi. Gaya tegas dosen pria membantu mahasiswa fokus pada tugas, sementara pendekatan hangat dosen wanita memberi rasa nyaman untuk berbagi dan bertanya. Kesadaran akan perbedaan ini membuat mahasiswa belajar menyesuaikan diri tanpa menghakimi karakter dosennya.
Perbedaan gaya komunikasi seharusnya tidak dilihat sebagai jurang pemisah, melainkan kekuatan yang bisa memperkaya proses bimbingan. Ketika dosen mampu menyeimbangkan ketegasan dengan empati dan mahasiswa beradaptasi dengan karakter pembimbing yang berbeda, ruang bimbingan menjadi tempat belajar yang lebih nyaman. Di sana komunikasi tidak hanya tentang laporan atau nilai, tetapi juga tentang saling memahami, menghargai, dan membangun hubungan yang lebih baik antara dosen dan mahasiswa.
Bimbingan magang pada akhirnya mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara, tetapi tentang bagaimana saling memahami dan saling mendengar. Dari ruang kecil bernama bimbingan itu, mahasiswa belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami.




