• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Jangan Salahkan Takdir: Mengurai Salah Kaprah Konsep “Pasrah” di Masyarakat Kita

Editor Redaksi
3 Juli 2026
in Artikel

Oleh: Ferdian Putra Mabruri

JurnalPost.com – Pernahkah teman teman melihat pengendara sepeda motor yang menolak untuk menggunakan helm dengan alasan, “Kalau memang takdirnya mati hari ini, ya mati saja, pakai helm atau tidak”? Atau mungkin kita sering mendengar pernyataan dari pemangku kebijakan pascabencana alam yang dengan mudahnya berucap, “Ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa, sebuah ketetapan yang di luar kendali kita,” padahal peringatan dini dari BMKG sudah dirilis jauh-jauh hari.

Fenomena ini mencerminkan sebuah problematika menahun dalam lanskap berpikir masyarakat kita: ketidakmampuan membedakan mana wilayah yang merupakan ketetapan mutlak Tuhan (Qada), dan mana wilayah yang sebenarnya berada di bawah kendali dan pilihan bebas manusia (free will). Salah kaprah ini tak jarang dijadikan tameng untuk memaklumi kelalaian diri, kemalasan, bahkan kegagalan struktural.

Antara Kendali Penuh Barat dan Kepasrahan Total Timur

Dunia modern hari ini seolah membelah manusia menjadi dua kutub ekstrem dalam memandang kendali hidup. Di belahan Barat, dengan budaya individualisme dan sainsnya, manusia dituntut untuk merasa memegang kendali penuh atas segalanya (in control). Dampaknya? Ketika sukses mereka menjadi arogan, namun ketika gagal, tingkat stres dan depresi melonjak tajam karena mereka merasa bertanggung jawab penuh atas segala variabel di luar kuasa mereka.

Sebaliknya, budaya Timur kerap kali terjebak pada kutub mistika dan kepasrahan total. Semua hal dilemparkan pada takdir alam atau garis tangan. Imbasnya, manusia menjadi pasif.

Islam sebenarnya hadir di tengah-tengah sebagai solusi moderat. Konsep beriman kepada Qada dan Qadar bukan ruang untuk menihilkan usaha, melainkan sebuah peta jalan (blueprint) mental untuk mengatur ekspektasi dan realitas.

Secara harfiah, Qada adalah ketukan palu keputusan yang tidak bisa diubah—seperti kematian, tempat kita dilahirkan, atau bentuk fisik kita. Sementara Qadar adalah pengkadaran atau sunatullah yang berlaku pada hukum alam, seperti api itu panas atau air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Tugas manusia adalah mengelola harapannya untuk menerima realitas yang berada di wilayah Qada, namun berjuang sekuat tenaga di wilayah yang masih bisa diusahakan.

Satu Kejadian, Dua Makna Berbeda

Poin paling menarik dari pemosisian takdir ini adalah bahwa satu peristiwa yang sama bisa bermakna ganda: ia adalah takdir mutlak bagi sang korban, namun ia adalah bentuk pilihan kelalaian bagi pihak yang bertanggung jawab.

Ketika sebuah bangunan fasilitas umum roboh dan memakan korban, bagi keluarga korban yang ditinggalkan, itu adalah Qada—sebuah realitas pahit yang sudah terjadi dan harus diterima dengan lapang dada tanpa andai-andai yang merusak jiwa. Namun, bagi kontraktor yang memotong anggaran bahan bangunan atau pemerintah yang lalai mengawasi, peristiwa itu sama sekali bukan takdir Tuhan untuk disalahkan. Itu adalah buah dari free will atau pilihan bebas mereka yang melanggar hukum alam (sunatullah) arsitektur. Mengkambinghitamkan takdir atas kelalaian struktural adalah sebuah kesalahan logika yang fatal.

Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mencontohkan kepasrahan yang buta. Saat Perang Badar, meski memiliki keyakinan mutlak akan pertolongan Allah, beliau tetap mengenakan baju besi dua lapis dan menyusun strategi perang yang luar biasa matang. Mengapa? Karena mempersiapkan diri adalah wilayah yang berada di dalam kontrol manusia.

Menata Mental: Berusaha bak Berkuasa, Berserah bak Tak Berdaya

Memahami takdir dengan jernih pada akhirnya adalah tentang melatih otot spiritual dan mental kita. Konsep ini hadir bukan untuk membuat kita berhenti bergerak, melainkan agar manusia memiliki kesehatan mental yang stabil.

Saat kita sedang berproses, kita harus berusaha sekuat tenaga seolah-olah seluruh hasil berada di tangan kita. Namun, begitu anak panah sudah terlepas dari busurnya dan hasil akhir keluar, di situlah batas ego kita berhenti. Jika hasilnya baik, iman kepada takdir menjaga kita dari kesombongan. Jika hasilnya buruk atau tidak sesuai harapan, ia menjaga kita dari jurang frustrasi dan menyalahkan diri sendiri.

Sudah saatnya kita berhenti menggunakan kata “takdir” atau “sudah jalannya” sebagai alasan untuk memaklumi kemalasan dan ketidakdisiplinan. Takdir bukanlah alasan untuk pasrah sebelum bertarung, melainkan jangkar kedamaian setelah semua ikhtiar terbaik dituntaskan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.