Oleh: Suci Oktaviyanti, Nawra Nazira Sabita, Cahya Diningrum, Widya Astuti, Nadia Nurul Aribah, Mamay Ari Fadila, Ria Aulia
JurnalPost.com – Ada yang berubah dari cara anak muda Indonesia membicarakan uang. Dulu, diskusi soal investasi hanya terjadi di balik pintu kantor penasihat keuangan atau di meja makan keluarga yang kebetulan melek finansial. Kini, percakapan itu meluber ke grup WhatsApp, kolom komentar TikTok, hingga thread panjang di forum komunitas online. Generasi Z tidak lagi belajar investasi dari buku teks melainkan mereka belajar dari interaksi sosial sehari-hari, dan itu membawa konsekuensi yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat.
Interaksi sosial telah menjadi kekuatan tak terlihat yang membentuk keputusan investasi jutaan anak muda Indonesia. Ketika seorang teman memamerkan keuntungan sahamnya di Instagram, ketika komunitas Discord ramai membahas kripto yang sedang naik daun, atau ketika kakak membujuk adiknya untuk ikut membeli reksa dana dan semua itu adalah bentuk interaksi sosial yang secara halus maupun terang-terangan memengaruhi pilihan finansial seseorang. Pertanyaannya bukan lagi apakah interaksi sosial memengaruhi investasi, melainkan: seberapa besar pengaruh itu, dan ke arah mana?
Ketika “Semua Orang Melakukannya” Menjadi Alasan Berinvestasi
Psikolog sosial menyebutnya social proof yaitu kecenderungan manusia untuk menganggap suatu tindakan benar karena banyak orang melakukannya. Dalam dunia investasi, mekanisme ini bekerja dengan cara yang sangat kuat. Seorang mahasiswa yang melihat seluruh temannya membeli saham perusahaan teknologi tertentu akan merasakan tekanan implisit untuk ikut serta, bukan karena ia telah menganalisis laporan keuangan perusahaan tersebut, melainkan karena ia tidak ingin tertinggal dari kelompoknya.
Fenomena ini bukan hanya teori. Menjelang IPO GoTo pada April 2022, euforia investasi menyebar masif di kalangan anak muda melalui komunitas-komunitas online. Banyak investor pemula yang masuk bukan karena memahami valuasi perusahaan, melainkan karena “semua orang beli.” Ketika harga saham kemudian terkoreksi tajam, kerugian yang mereka tanggung adalah harga nyata dari keputusan yang didorong tekanan sosial, bukan analisis.
Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah bahwa tekanan sosial dalam investasi tidak selalu terasa seperti tekanan. Ia hadir dalam bentuk antusiasme yang menular, cerita sukses yang memotivasi, dan rasa kebersamaan dalam komunitas investor. Inilah yang membuat pengaruh sosial dalam investasi jauh lebih berbahaya dari sekadar bujukan iklan, ia menyentuh kebutuhan manusia yang paling mendasar: rasa diterima dan tidak ditinggal.
Dua Wajah Komunitas Investasi: Ruang Belajar atau Ruang Gema?
Tidak semua pengaruh sosial dalam investasi bersifat negatif. Komunitas investasi yang berorientasi edukasi terbukti mampu mempercepat pertumbuhan literasi keuangan anggotanya. Dalam komunitas-komunitas belajar saham di Telegram atau Discord, anggota saling berbagi analisis fundamental, mendiskusikan laporan keuangan, dan saling mengingatkan ketika ada yang hendak mengambil keputusan terlalu impulsif. Interaksi sosial semacam ini adalah asset, ia mengubah proses belajar investasi yang tadinya soliter menjadi kolaboratif dan lebih efisien.
Namun komunitas yang sama juga bisa berubah menjadi ruang gema (echo chamber) yang berbahaya. Ketika suara-suara kehati-hatian dibungkam oleh optimisme kolektif, ketika analisis kritis disambut dengan cemoohan, dan ketika satu-satunya narasi yang beredar adalah narasi kemenangan, komunitas tersebut telah berhenti menjadi ruang belajar dan berubah menjadi mesin groupthink. Di sinilah interaksi sosial mulai merusak, bukan membangun.
Generasi Z perlu belajar membedakan dua jenis komunitas ini. Komunitas yang sehat mendorong anggotanya untuk berpikir mandiri, mengakui kesalahan, dan mempertanyakan asumsi. Komunitas yang berbahaya membutuhkan konformitas, merayakan keuntungan secara berlebihan, dan meremehkan risiko. Kemampuan untuk membedakan keduanya adalah keterampilan sosial-finansial yang tidak diajarkan di sekolah, tetapi kritis untuk dimiliki.
Keluarga dan Teman: Pengaruh Terdekat yang Sering Diabaikan
Di tengah hiruk-pikuk pengaruh media sosial, kita sering melupakan bahwa sumber pengaruh sosial terkuat dalam keputusan finansial seseorang justru berasal dari lingkaran terdekat: keluarga dan teman. Penelitian konsisten menunjukkan bahwa individu yang tumbuh dalam keluarga yang membicarakan investasi secara terbuka cenderung lebih awal memulai perjalanan investasinya dan lebih disiplin dalam mengelola portofolio.
Sebaliknya, norma keuangan yang tidak sehat dalam keluarga seperti menganggap investasi sebagai perjudian, atau memandang menabung sebagai hal yang tidak keren juga mewariskan hambatan psikologis yang sulit dihilangkan. Inilah mengapa literasi keuangan tidak bisa hanya ditanamkan melalui konten digital; ia perlu diperkuat melalui dialog keuangan yang sehat dalam keluarga dan komunitas terdekat.
Teman sebaya memiliki pengaruh yang tidak kalah besar, terutama di masa transisi ke dewasa muda. Dalam fase kehidupan ini, opini dan perilaku teman seringkali lebih berpengaruh dari nasihat orang tua. Ketika seluruh lingkaran pertemanan memiliki akun investasi dan membicarakan portofolio mereka secara terbuka, tekanan untuk ikut serta menjadi sangat kuat terlepas dari apakah secara finansial seseorang sudah siap untuk berinvestasi atau belum.
Investasi Sebagai Identitas Sosial: Ketika Portofolio Menjadi Status
Ada gejala yang perlu diwaspadai dalam budaya investasi anak muda Indonesia: investasi yang bergeser fungsi dari instrumen finansial menjadi penanda status sosial. Ketika seseorang memamerkan portofolionya di media sosial bukan untuk berbagi pengetahuan melainkan untuk mendapat pengakuan, ketika keputusan memilih instrumen investasi dipengaruhi oleh “seberapa keren” instrumen itu terdengar di telinga teman-teman maka investasi telah kehilangan esensinya.
Fenomena ini diperparah oleh konten flexing finansial yang marak di platform digital. Kisah-kisah tentang pemuda yang “sudah pensiun di usia 25” atau “cuan ratusan juta dari kripto” menciptakan standar kesuksesan finansial yang tidak realistis sekaligus berbahaya. Ketika standar itulah yang menjadi tolok ukur dalam interaksi sosial sehari-hari, tekanan untuk mengambil risiko berlebihan demi mengejar gambaran kesuksesan tersebut menjadi nyata dan berbahaya.
Investasi yang baik adalah investasi yang sepi, ia tidak butuh tepuk tangan sosial. Ia direncanakan berdasarkan tujuan finansial pribadi, dilaksanakan sesuai profil risiko yang jujur, dan dievaluasi berdasarkan kinerja, bukan berdasarkan seberapa banyak teman yang ikut.
Saatnya Membangun Budaya Investasi yang Lebih Sehat
Indonesia membutuhkan pergeseran budaya dalam cara Generasi Z mendekati investasi. Bukan pergeseran dari investasi ke tidak investasi melainkan dari investasi berbasis tekanan sosial menuju investasi berbasis pemahaman. Dua hal ini bisa berjalan beriringan: seseorang bisa terinspirasi dari lingkungan sosialnya untuk mulai berinvestasi, sekaligus memastikan bahwa setiap keputusan investasi lahir dari analisis mandiri, bukan dari keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok.
Peran komunitas investasi yang sehat, keluarga yang melek keuangan, dan sistem pendidikan yang mengintegrasikan literasi finansial menjadi krusial dalam membangun budaya ini. Influencer keuangan pun memiliki tanggung jawab moral yang besar: mereka tidak hanya menyebarkan konten yang memotivasi, tetapi juga yang mendidik termasuk tentang risiko, kegagalan, dan pentingnya analisis mandiri.
Generasi Z memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: akses informasi yang luar biasa dan jaringan sosial yang luas. Jika kedua modal ini dipadukan dengan literasi keuangan yang kuat dan kemampuan berpikir kritis, interaksi sosial tidak akan menjadi jebakan melainkan justru menjadi katalis terbaik bagi perjalanan investasi yang cerdas dan berkelanjutan. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk bertanya: apakah keputusan ini benar-benar milikku, atau sekadar pantulan dari apa yang diinginkan lingkungan sosialku?
Penulis:
Suci Oktaviyanti, Nawra Nazira Sabita, Cahya Diningrum, Widya Astuti, Nadia Nurul Aribah, Mamay Ari Fadila (Mahasiswi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang)
Dosen Pengampu: Ria Aulia, S.EI., M.Sc.



