
Oleh: Fardah Ica Syakirah
JurnalPost.com – Di era digital sekarang ini perkembangan teknologi informasi semakin pesat, seperti TikTok tidak hanya sebagai sarana hiburan tetapi tempat berkembangnya tren budaya baru termasuk dalam hal bahasa yang kemudian menjadi viral. Bahasa yang di gunakan oleh pengguna TikTok mengalami pergeseran yang signifikan. Seperti kata-kata yang viral, campuran dua bahasa sekaligus, dan bahasa gaul lainnya.
Salah satu fenomena linguistik yang begitu menonjol di TikTok adalah penggunaan antara dua bahasa sekaligus saat berbicara seperti saat berbicara bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Penggunaan dua bahasa menjadi gaya berkomunikasi yang tidak hanya mencerminkan kreativitas, tetapi adanya interaksi sosial dan budaya yang khas dalam masyarakat digital masa kini.
Di TikTok fenomena ini muncul dalam bentuk penggunaan frasa-frasa bahasa Inggris di tengah pembicaraan saat menggunakan bahasa Indonesia. Seperti dalam kalimat: “Bestie, aku lagi butuh healing banget nih” atau “Vibe pantai ini buat happy banget” kata-kata seperti bestie, healing, vibe, dan happy merupakan contoh kosa kata dalam bahasa Inggris yang kini telah digunakan secara luas oleh pengguna TikTok di Indonesia karena menurut pengguna pencampuran dua bahasa dipikir tambah gaul dalam pengucapannya.
Meskipun pengaruh bahas Inggris begitu kuat pada masa kini, bahas Indonesia tetap digunakan, meskipun dalam bentuk yang telah mengalami transformasi. Beberapa istilah popular atau bahasa gaul anak remaja mas kini seperti “baper” (bawa perasaan), “GWS” (get well soon), “gercep” (gerak cepat). Bahasa terus beradaptasi sesuai gaya komunitas dan informasi di media
sosial. Bahasa Indonesia di media sosial mengalami proses pengurangan hingga penciptaan kata-kata baru berdasarkan bunyi atau keunikan yang muncul.
TikTok memberikan ruang bagi pengguna untuk mengekspresikan diri secara bebas. Seperti di platrfor media TikTok ada edukasi pembelajaran, travelling, hiburan, kecantikan, makanan, dan lainnya. Tak jarang, video yang viral justru menggunakan bahasa-bahasa yang tidak baku atau menggunakan musik yang saat itu sedang tranding.
Kombinasi antara bahasa Indonesia yang diperbaharui dan kosakata bahasa Inggris yang diterapkan melahirkan bahasa baru yang bersifat fleksibel. Hal ini menggambarkan karakter komunikasi generasi masa kini yang lebih bebas terhadap perubahan tren global. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan alih kode menjadi fenomena yang umum dalam komunikasi digital di TikTok. Globalisasi budaya yang mendorong generasi muda bahkan sampai yang tua untuk beradaptasi dengan kosakata yang lazim digunakan secara internasional.
TikTok bukan hanya sebagai tempat berbagi video hiburan, tapi juga ruang berkembangnya bahasa gaul yang kreatif dan unik. Yang menarik Ketika ada konten kreator menciptakan cara berkomunikasi baru di kalangan generasi muda. Seperti membuat konten dengan bahasa lucu di setiap postingannya dengan menggunakan dua bahasa.
Misalnya, kata “healing” kini tidak hanya digunakan dalam konteks psikologis seperti “mental healing” tetapi juga menjadi popular untuk aktivitas istirahat atau liburan. Seperti kalimat “Aku healing ke pantai nih” menunjukkan bagaimana bahasa Inggris digunakan dengan konteks Indonesia.
Sementara itu, bahasa Indonesia juga diubah agar terdengar lebih kekinian, misalnya kata “gercep” (gerak cepat) atau “baper” (bawa perasaan). Kata-kata ini sering dikombinasikan dengan istilah bahasa Inggris. Seperti kalimat “mager banget mau beli makan, sabi ni gofood aja”
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi anak muda tidak hanya kreatif, tetapi juga adaptif terhadap perubahan. Mereka menciptakan bahasa-bahasa baru yang memadukan unsur global da lokal, membentuk identitas sosial digital yang dinamis.
Namun, di sisi lain yang perlu diperhatikan. Penggunaan campuran antara dua bahasa bisa membuat pesan kurang dipahami oleh beberapa orang, terutama generasi yang tidak aktif dengan media sosial atau tidak paham dengan bahasa Inggris. Oleh karena itu, penting untuk tetap memahami audiens saat berkomunikasi.
Pencampuran bahasa Indonesia dan Inggris di TikTok bukan hanya tren, tetapi cerminan dari cara generasi anak muda mengekspresikan diri. Dengan kreaktivitas berbahasa, mereka telah menciptakan budaya digital yang terus berkembang walaupun kata-kata seperti itu digunakan hanya dalam percakapan dengan teman yang sudah kenal agar bisa sama-sama paham dengan yang dimaksud.




