Oleh: Indria Putri Khoirunnisa
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Manajemen Pendidikan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar bagi Masyarakat dalam mengakses informasi, termasuk dalam hal literasi. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menerapkan beberapa strategi yang inovatif untuk meningkatkan minat membaca di kalangan Generasi Z. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat informasi yang modern, adaptif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Salah satu inovasi utama dalam pengembangan layanan Perpustakaan Nasional yaitu menghadirkan aplikasi seperti iPusnas yang memungkinkan pengguna mengakses ribuan koleksi buku secara online. iPusnas merupakan aplikasi perpustakaan digital yang mempermudah akses masyarakat ke berbagai buku melalui perangkat gadget tanpa perlu membeli buku fisik atau pergi ke perpustakaan. Adapun fitur-fitur interaktif yang disediakan iPusnas turut meningkatkan daya tarik bagi masyarakat dalam menjelajahi dunia literasi digital. Pengguna bisa menandai buku favorit, memberikan ulasan, dan berbagi rekomendasi kepada pengguna lainnya. iPusnas juga memiliki fitur keanggotaan yang dapat memperkaya pengalaman pengguna, melalui fitur ini pengguna dapat membuat profil, melacak riwayat bacaan, serta menerima rekomendasi buku yang disesuaikan berdasarkan minat dan preferensi pengguna. Perpustakaan Nasional juga mengadakan gerakan menggandeng mahasiswa dan relawan literasi dalam program KKN Tematik Literasi di 1.000 lokasi, serta menggerakkan Relawan Literasi Masyarakat di 180 Kota/Kabupaten.
Saat ini Gen Z dan Gen Alpha akrab dengan dunia gaming. Dari hasil survei yang telah dibuat, penulis menyarankan Perpustakaan tidak hanya menyediakan e-book atau jurnal, tetapi juga menghadirkan game simulator sebagai pendekatan interaktif seperti BibSim dan juga E-KOMPEN (Elektronik-Komik Pendek) agar tidak membosankan dan lebih interaktif bagi pengguna. BibSim (Biblio Simulator) merupakan sistem manajemen yang dikemas layaknya sebuah games simulator yang mendekatkan pengguna dengan tugas keseharian pustakawan dalam suasana menyenangkan. Sehingga Gen Z dan Gen Alpha dapat merasakan pengalaman menjadi pustakawan digital melalui simulasi yang edukatif dengan keseruan. Melalui BibSim, pustakawan tidak hanya mengelola koleksi digital, tetapi juga menjalankan misi seperti menyusun rak buku, melayani pengunjung virtual, dan menjaga keteraturan ruang baca mirip dengan game populer Libritopia yakni Librarian Simulator, aplikasi penampil gameplay yang “intuitif” mode casual atau survival, di mana pemain mencari, mengembalikan buku, serta memberi peringatan kepada pengunjung yang berisik. Kesuksesan pada BibSim tidak hanya diukur dari serunya permainan, tapi bagaimana mengukur aksesibilitas dan usabilitas layanannya.
Perpusnas turut mengembangkan sejumlah strategi, antara lain Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) pada 2018 telah menjangkau 38 Provinsi, 296 Kabupaten/Kota, dan 2.396 Desa/Kelurahan, serta mendirikan ruang baca di 20.000 desa dan distribusi lebih dari 20 juta buku melalui Gerakan Literasi Desa. Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menegaskan bahwa bangsa yang maju itu ditopang oleh budaya membaca, termasuk literasi sastra sejak dini untuk melahirkan generasi yang kritis, empatik, dan tahan terhadap hoaks maupun narasi dangkal di dunia maya.
Survei Jakpat mencatat Gen Z memiliki tingkat minat membaca sebesar 26 %, lebih tinggi dibandingkan generasi milenial yakni 20 % dan Gen X yakni 18 %. Survei Jakpat ini dilakukan pada semester kedua 2025 yang melibatkan 2.240 responden di seluruh Indonesia dan mengungkapkan adanya pergeseran yang signifikan dalam pola konsumsi hiburan digital masyarakat. Hal ini menandakan bahwa minat baca Generasi Z masih cukup baik, namun lebih cenderung pada format digital, singkat, dan interaktif.
Berdasarkan peraturan Perpusnas No 8 Tahun 2025 mengenai Rencana Strategi Perpusnas tahun 2025-2029, menetapkan visi menjadi perpustakaan transformatif dalam meningkatkan budaya baca dan literasi untuk mewujudkan bangsa menuju Indonesia emas 2045. Perpusnas juga berkomitmen dalam mendukung pemerintah dengan menempatkan perpustakaan dan peningkatan literasi sebagai salah satu prioritas, sebagaimana tertuang pada Peraturan Presiden No 12 Tahun 2025. Ketua Tim Reguler DAK Non Fisik di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Dony Suryatmo Priyandono, menjelaskan bahwa penggunaan dana BPP untuk Perpustakaan Daerah tahun 2026 akan terfokus pada dua area utama, yaitu peningkatan kualitas perpustakaan serta pengembangan budaya membaca dan literasi, dengan alokasi setidaknya 90% dari total anggaran, sementara pemajuan naskah kuno dari Nusantara akan mendapatkan porsi maksimal 10%.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik, Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat dan Variabel Penyusunnya Menurut Provinsi yang terakhir diperbarui pada 26 Februari 2026. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia di berbagai provinsi masih berada pada kisaran nilai sedang, yaitu antara 55 hingga 62. Indikator ini diukur melalui tiga aspek utama, yaitu pra membaca, saat membaca, dan pasca membaca. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan secara nasional, pemerataan budaya membaca di tingkat daerah masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Tantangan yang ada menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan Generasi Z yang memiliki karakteristik digital-native. Tanpa inovasi layanan berbasis teknologi, seperti adanya perpustakaan digital dan konten interaktif, minat membaca generasi muda berpotensi stagnan bahkan menurun, terutama di daerah dengan akses literasi yang terbatas. Upaya ini dapat diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menciptakan inovasi layanan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian, peningkatan minat baca tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi tertentu, melainkan gerakan bersama yang berkelanjutan untuk membangun budaya literasi yang merata di seluruh wilayah Indonesia.

Inovasi layanan yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan bahwa perpustakaan mampu bertransformasi mengikuti arus zaman dan kebutuhan generasi digital. Melalui pemanfaatan teknologi, perpusnas mendapatkan peluang seperti menghadirkan iPusnas, serta layanan interaktif lainnya. Dengan demikian, data dari Badan Pusat Statistik mengungkapkan bahwa Tingkat kegemaran membaca di berbagai daerah terbilang sedang. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan literasi di Indonesia tak hanya pada peningkatan minat membaca, tetapi juga perlu adanya pemerataan akses dan kualitas budaya membaca di seluruh wilayah. Oleh karena itu, inovasi layanan perpustakaan perlu dikembangkan secara sustainable, dengan memperhatikan karakteristik generasi muda yang digital-native serta kesenjangan akses di berbagai daerah.



