
JurnalPost.com – Kolaborasi Edukatif Tim Penelitian Dosen Pemula (PDP) UPN “Veteran” Jawa Timur dan UPT SDN Bukir Pasuruan: Hadirkan Pengalaman Baca Buku Cerita berbasis Augmented Reality—Perkembangan teknologi digital kini semakin mempermudah upaya pelestarian budaya lokal sejak dini, serta mengintegrasikan teknologi canggih ke dalam ruang kelas. Tim Penelitian Dosen Pemula (PDP) sukses melaksanakan uji coba keterbacaan dan teknologi pada hari Jumat, 31 Juli 2026 pada siswa kelas 3B UPT SDN Bukir Kota Pasuruan. Hal ini merupakan bagian dari tahap penelitian pengembangan cerita anak berbasis kearifan lokal makanan khas daerah Pasuruan dengan teknologi Augmented Reality sebagai media literasi budaya.
Inovasi bahan bacaan digagas oleh Dosen Prodi Linguistik Indonesia, UPN “Veteran” Jawa Timur yang diketuai oleh Zahro Rokhmawati, S. Pd., M. Pd. dan beranggotakan Adelia Savitri, S. Hum., M Hum., dan Patricia Elsa Marchelia Wibiasty, S. S., M. A., serta keterlibatan aktif mahasiswa, yaitu Naura Rafa Ariyanto dan Fatin Kusuma Anggraini. Langkah kolaborasi penelitian ini disambut hangat dengan keramahan guru serta senyum antusias para siswa sejak awal kedatangan rombongan tim peneliti di UPT SDN Bukir Kota Pasuruan.

Rangkaian acara diawali dengan sesi para siswa kelas 3B membaca nyaring buku cerita anak karya Zahro Rokhmawati yang berjudul Yang Mana Dulu?. Buku ini secara khusus memuat narasi kearifan lokal yang mengangkat ragam makanan khas daerah Pasuruan, Jawa Timur. Suasana kelas seketika menjadi hidup dan interaktif, para siswa secara aktif merespons alur cerita dan berebut menyampaikan pendapat mereka. Rasa familier terhadap makanan khas yang disajikan di dalam buku tersebut, membuat anak-anak begitu bersemangat menceritakan pengalaman kuliner yang biasa mereka temui sehari-hari.
Keseruan semakin memuncak saat para siswa diajak memasuki sesi uji coba teknologi Augmented Reality (AR). Dengan memindai halaman buku cerita Yang Mana Dulu? menggunakan aplikasi Artivive, gambar karakter dan visual makanan khas daerah di kertas seketika “hidup” menjadi animasi 3D yang bergerak interaktif.
Raut wajah kagum, sorak gembira memenuhi ruang kelas ketika anak-anak menyaksikan sendiri bagaimana buku fisik yang mereka genggam mampu berinteraksi secara visual di layar. Bagi para siswa, menyelami cerita budaya lokal melalui teknologi Augmented Reality (AR) memberikan sensasi belajar baru yang menyenangkan dan tidak membosankan.

Seluruh rangkaian kegiatan edukatif dan interaktif ini berlangsung lancar hingga ditutup dengan sesi foto bersama antara tim dosen, guru, dan seluruh siswa kelas 3B sebagai bentuk kenang-kenangan dan pendorong literasi. Melalui program ini, tim peneliti berharap inovasi buku cerita berbasis Augmented Reality (AR) tidak hanya menjadi bahan bacaan yang menarik, tetapi juga mampu menumbuhkan minat baca sejak dini sekaligus memupuk rasa bangga anak-anak terhadap kekayaan budaya dan tradisi kuliner daerahnya.




