“…profoundly revolutionary is this new civilization that it challenges all our old assumptions. Old ways of thinking, old formulas, dogmas, and ideologies, no matter how cherished or how useful in the past, no longer fit the facts…”
–Alvin Toffler
Revolusi pada dunia industri, adalah salah satu indikasi yang memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan dunia industri itu sendiri. Mulai dari semakin berkembangnya negara-negara berkembang dan semakin majunya negara yang memiliki penghasilan yang tinggi Revolusi industri sendiri terkelompokkan dari 3 gelombang besar perkembangan industri. Selain dengan teori 3 gelombang, juga terdapat 4 fase periode revolusi industri.
Wave Theory Of Industry?
Teori gelombang ini terbagi menjadi 3 yaitu agricultural age, Industrial age, dan information age. Pada gelombang pertama kekayaan seorang individu diukur dari tersedianya sumber makanan yang melimpah, dengan orang bekerja menggunakan tenaga manusia (man power) dan bekerja di organisasi hierarki dengan menggunakan proses produksi satu persatu (one-piece customization). Industrial Age, gelombang kedua disebut dengan peralihan dari kerja otot menjadi kerja mesin. Pada gelombang ini, definisi kekayaan tetaplah makanan dengan memperkerjakan individu lain. Individu pada masa ini bekerja pada organisasi birokrasi dengan sistem produksi yang masif dilakukan dikarenakan telah adanya bantuan mesin. Gelombang terakhir pada teori “Toffler 3rd Wave Theory” disebut dengan Information Age penggunaan mesin berbasis kecerdasan buatan sampai saat ini menjadi hal yang belum tertandingi oleh inovasi lainnya, pada gelombang ini definisi kekayaan adalah memiliki informasi dan bekerja sebagai rekanan network organization, dengan itu dapat menimbulkan memproduksi yang masif dan berinovasi.
Revolusi Industri?
Revolusi industri, hal yang vital dan berdampak signifikan dalam dunia industri, Revolusi industri terbagi menjadi 4 bagian besar. Revolusi Industri 1.0, terjadi sekitar tahun (1765) periode industri pertama ini ditandai dengan munculnya mesin berbasis tenaga uap yang sering disebut juga sebagai periode mekanisasi. Revolusi Industri 2.0 terjadi sekitar tahun (1870), periode ini sendiri sering disebut dengan periode elektrifikasi yang ditandai dengan mulai maraknya produksi massal alat transportasi seperti mobil dan meninggalkan mesin/teknologi uap seperti kereta bertenaga uap untuk berpergian. Revolusi industri 3.0 terjadi tahun (1960) periode ini disebut dengan periode otomasi, dikarenakan penggunaan perangkat elektronika dan komputer mulai marak digunakan ditandai dengan masyarakat yang mulai terbiasa berkabar dengan mudah melalui surel.
Revolusi yang saat ini terjadi dan masih kita rasakan perkembangannya. Periode ini disebut juga periode digitalisasi yang ditandai dengan perkembangan industri dengan pengenalan terhadap peralatan yang saling terkoneksi, menganalisis data dengan bantuan kecerdasan buatan dalam membuat sistem yang cerdas dan terorganisis dengan baik.
Manufacturing’s position in the industrial revolution
Manufaktur, dalam periode revolusi industri 4.0 semakin memungkinkan adanya kemudahan merubah bahan mentah menjadi bahan yang memiliki nilai tambah lebih dibanding sebelumnya. Teknologi yang semakin pesat berkembang seperti Artificial Intelligence (AI). Kecerdasan buatan ini dapat membuat proses produksi yang cerdas, efisien dan efektif. Adanya kecerdasan buatan akan membuat kegiatan manufaktur sangat terbantu dengan menghubungkan satu sektor dengan sektor lainnya. AI pada industri manufaktur berkontribusi pada pengolahan dan Analisa data untuk mengambil keputusan yang tepat. AI dapat melakukan, membantu, bahkan menggantikan tugas manusia seperti, bereaksi memberikan keputusan terhadap suatu insiden dalam industri, mengantisipasi masalah di berbagai sektor manufaktur, dapat mendeteksi dan memperkirakan hal yang tak terduga sekalipun.
The Role of AI and Investment in Advanced Renewable Technologies
Era digitalisasi seperti saat ini ditandai dengan perkembangan, inovasi, dan perubahan yang pesat. Organisasi yang ingin bertahan harus siap beradaptasi dengan terus berinovasi dan menganalisa apa yang diinginkan konsumen. Proses transformasi digital lebih dari sekedar penerapan teknologi baru, investasi pada peralatan, atau peningkatan sistem yang sudah ada. Langkah-langkah ini penting, namun bukan hanya itu yang harus diperhatikan. Jika suatu organisasi ingin tetap ingin bersaing, organisasi tersebut tidak hanya mampu merespons perubahan, namun juga harus mengantisipasi perubahan tersebut dan merangsang inovasi itu sendiri. Untuk melakukan hal ini, perusahaan perlu membuat rencana ke depan dan menjadi perancang aktif untuk masa depan mereka.
Oleh: Faiz akbariadi Mahasiswa Universitas Airlangga, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM)-Teknik Industri.
References:
• Albukhitan, Saeed, (2020). Developing Digital Transformation Strategy For Manufacturing. ScienDirect, Procedia Computer Science 170 (2020) 664-671.
• Newman, Carol. Page, John. Shimeles, Abebe. Manufacturing Transformation, Comparative Studies of Industrial Development in Africa and Emerging Asia. Oxford University Press (2016).
• Holmstrom, Jan; Partenen, Jouni; Digital manufacturing-driven transformations of service supply chains for complex products. Emerald Insight (2014).
• Brown, Charles. Transformation From Batch to Lean Manufacturing: The Performance Issues. Engineering Management Journal (2015).
• Braslow, Joel Tupper. The Manufacture of Recovery. Annual Reviews (2013).
• Presciuttini, Anna; Cantini, Alessandra; Costa, Federica; Portioli-Staudacher, Alberto. Machine learning applications on IoT data in manufacturing operations and their interpretability implications: A systematic literature review. Politecnico di Milano, Department of Management, Economics and Industrial Engineering, Milan, 20156, Italy (2024).



