Penulis : Juventus Simangunsong
JurnalPost.com – Salah satu dampak utama dari penyalahgunaan narkoba adalah terganggunya hubungan keluarga. Menurut Howard (2010), penyalahgunaan zat dapat menyebabkan keretakan hubungan keluarga akibat perilaku negatif yang ditunjukkan oleh penyalahguna, seperti agresivitas, ketidakjujuran, dan pengabaian tanggung jawab keluarga. Hal ini sejalan dengan temuan yang menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba dapat menciptakan lingkungan yang tidak nyaman, meningkatkan ketegangan, dan memperburuk dinamika keluarga.
Untuk hal itu, Juventus Simangunsong seorang Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Lembaga Rehabilitasi Narkoba Bhayangkara Indonesia.
Dalam upaya menangani masalah ini, Institusi Penerima Wajib Lapor Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Bhayangkara Indonesia di Medan (IPWL LRPPN – BI) menerapkan pendekatan berbasis kekeluargaan. Pendekatan ini dirancang untuk memberikan dukungan emosional kepada klien, meningkatkan interaksi dua arah, serta memperkuat komitmen mereka dalam proses pemulihan.
Menurut teori dukungan sosial yang dikemukakan oleh Cobb (1976), dukungan emosional dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan komunitas rehabilitasi, sangat penting dalam membantu individu mengatasi stres dan mempercepat proses pemulihan. Rasa kekeluargaan dalam terapi kelompok dapat menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung di mana anggota dapat berbagi pengalaman mereka secara terbuka dan mendapatkan dukungan emosional yang diperlukan untuk pemulihan (Yalom, I.D. (1995).
Untuk Menerapkan teori tersebut Praktikan memulainya dengan bebrapa tahap yaitu:
Intake/Contract, Pada tahap ini praktikan melakukan pendekatan awal, Pendekatan awal merupakan tahap yang sangat penting bagi keberhasilan program ini, hal ini membuat klien terbuka akan setiap permasalahan yang dihadapi oleh klien sehingga dalam tahap asesmen nanti tidak ada hal yang ditutup-tupi oleh klien yang menghambat perkembangan potensi klien. Pendekatan awal dapat dimulai dengan cara bersama-sama mengikuti program sambil melakukan pengamatan.
Assassment, tools assassment yang digunakan pada klien adalah BPSS, Model BPSS mengintegrasikan empat aspek utama kehidupan manusia: biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Engel (1977) mengemukakan bahwa pemahaman yang komprehensif tentang kesehatan mental dan masalah penyalahgunaan zat memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan keempat aspek tersebut.

Planning, Dari hasil Asessment itu maka dapat dibuat suatu perencanaan yang matang untuk program rehablitasi klien.
Pengimplementasian rencana, setelah menjelaskan planning tersebut kepada klien, peneliti mulai melaksanakan program yang sudah direnacanakan sebelumnya
Evaluasi, Evaluasi yang berpusat pada klien, di mana klien merasa didengar dan dihargai tanpa syarat, sangat penting untuk membangun hubungan terapeutik yang efektif.” (Rogers, C. R. (1951). Evaluasi dialkukan untuk mengukur seberapa jauh
Terminasi, yakni tahap penyudahan atau pemutusan kegiatan antara pekerja sosial dan klien apabila kedua pihak mencapai hasil yang diingikan, ataupun pemutusan dari pihak klien sendiri dikarenakan beberapa factor (Dwiyana C. A, dkk, 2022), Disini peneliti memberikan motivasi untuk pertemuan yang terakhir dengan klien agar selalu semangat dan fokus untuk pulih dari kecanduan NAPZA
Artikel ini adalah publikasi Tugas Praktek Kerja Lapangan dengan Dosen Pengampuh Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos, M.Kessos.



